
KESAN lemahnya komitmen AS di pada era Presiden Donald Trump menangani pandemi Covid-19 di negerinya dan juga untuk menggalang dunia melawan virus tersebut diharapkan terbantahkan dengan terpilihnya Joe Biden.
Joe Biden yang diusung Partai Demokrat unggul meyakinkan dalam Elektoral College, mengumpulkan sampai 290 dari minimal 270 suara yang diperlukan, dibandingkan lawannya, calon petahana dari Partai Republik, Presiden Trump yang cuma meraih 214 suara.
Trump sejauh ini belum mau mengakui kekalahannya dan masih berupaya menggugat ke Mahkamah Agung karena ia merasa dicurangi, walau belum ada bukti-bukti kongkrit yang mendukung klaimnya.
Sikap abai dan anggap enteng terhadap ancaman Covid-19 ditunjukkan oleh Trump, bahkan dalam berbagai event ia tidak mengenakan masker yang dipersyaratkan sebagai salah satu protokol kesehatan, sehingga sikapnya dijadikan bahan kampanye oleh Biden untuk menyerangnya.
Dianggap terkena tulah atas sikapnya, Trump dan ibu negara Melania sempat terinfeksi virus tersebut sehingga diisolasi beberapa hari di Gedung Putih awal Oktober lalu, namun bisa sembuh dan meneruskan kampanye pilpres.
Lemahnya komitmen Trump dalam penanganan Covid-19 di negerinya tercermin dari posisi AS dengan jumlah korban Covid-19 tertinggi di dunia yakni 10.282.765 orang terpapar (sampai 9 Nov.) dan 243.737 tewas, di atas India (8.553.864 terpapar dan 126.653 tewas), lalu Brazil (5.664.115 terpapar dan 162.397 tewas.
Ironisnya lagi, saat dunia memerlukan segenap dana dan daya untuk memerangi pandemi Covid-19 yang sudah menginfeksi sekitar 50,7 juta orang dan menewaskan 1,26 juta lebih penduduk di 216 negara, Trump malah menyatakan keluar dari Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Trump tidak puas atas kinerja WHO dalam penanggulangan pandemi Covid-19 dan menganggap badan kesehatan dunia itu “boneka” China yang tidak jujur mengungkapkan kasus-kasus Covid-19 pada awal-awal pandemi.
“Ini saat yang sangat tepat (untuk keluar) karena WHO telah mengecewakan dunia sehingga harus ada konsekuensinya,” seru Trump awal Juli lalu. Selanjutnya AS harus membayar iuran 200 juta dollar sebelum resmi keluar dari WHO pada 6 Juli 2021.
Saat ini WHO juga sedang mengoordinasikan penemuan vaksin yang diharapkan mampu membasmi virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 dimana suah tercatat 200 lebih bakal vaksin, 10 diantaranya sudah memasuki uji klinis tahap ketiga.
Kembalinya negara adidaya AS di bawah kepemimpinan Joe Biden ke jalur yang benar dalam penanggulangan Covid-19 termasuk untuk bergabung lagi dalam WHO sangat diharapkan. (NS/Berbagai Sumber)




