AJI KOPID SELAWE (2)

Patih Sengkuni marah betul pada Pendita Durna, karena bininya mau dikorbankan.

DIAM-diam Begawan Durna esok paginya menyelinap ke Istana Gajahoya, bertemu Prabu Jokopit. Ini di luar agenda resmi kerajaan, sehingga Patih Sengkuni pun tidak tahu. Di Gedong Rekta yang dicat serba merah, Prabu Jokopit menerima kehadiran nujum Ngastina tersebut. Ini hanya pertemuan 4 mata, tak boleh  ada pihak lain yang mendengar atau nguping, karena sifatnya sangat rahasia. Bila sampai bocor keluar bisa menciptakan kereshan dalam masyarakat, bisa saling curiga dan berpeluang untuk menfitnah pihak lain.

Prabu Duryudana juga sama kagetnya, obat anti dan penyembuh gabagen ternyata hanya ditumbali ekstraks daging manusia. Ini kan gampang sekali, di Rumah Sakit banyak korban kecelakaan lalulintas yang tak diketahui indentitasnya. Ini bisa dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat. Sehari mau memblender 100 mayat juga bisa, kumpulkan saja korban KLL seluruh Ngastina.

“Pandemi gabagen Insya Allah selesai 2021 ini ya bapa begawan? Kita bisa lanjutkan program kerja pemerintahan.” Ujar Prabu Jokopit optimis sekali.

“Belum tentu, vaksin sekaligus serum Aji Kopid Selawe ini biar dijamin halal kan harus disertifikasi MUI dulu.” Begawan Durna mengingatkan.

“Kita kan bukan wilayah Indonesia, bapa begawan.”

“Eh, iya ding!” ujar Begawan Durna tersipu-sipu.

Ketika Prabu Jokopit kemudian memutuskan vaksinasi Aji Kopid Selawe bisa dimulai minggu depan, justru Pendita Durna mengingatkan tak semudah itu. Sebab daging manusia itu harus yang masih segar, bukan mayat apa lagi korban KLL. Itu artinya ada seseorang yang harus dijadikan tumbal alias dibunuh. Dan itupun bukan sembarangan tumbal, tapi harus wanita bertampang kelelakian dan suka nyinyir.

Gantian Prabu Jokopit yang tepuk jidat. Dewanya di kahyangan rewel amat, tumbal saja minta daging segar manusia. Lalu siapa pula perempuan bertampang kelelakian itu. Kalau perempyan suka nyinyir memang ombyokan, tapi yang bertampang kelelakian, siapa pula gerangan tuan?

“Yang penting anak prabu, siapa nama sosok itu harus dirahasiakan dulu. Sebab jika sebut nama langsung pastilah kabur, dan itu tidak mudah mencari pengganti. Dewa pun belum tentu mau menerima.”

“Ya sudah, kita diam-diam saja ya Begawan Durna. Yang penting kena iwake aja buthek banyune.” Saran Prabu Jokopit kemudian.

Tapi pada era digital begini, informasi nyaris menjadi milik publik semua, tak ada yang bisa dirahasiakan. Dan soal ajian Kopid Selawe ini pun segera bocor keluar, kemudian diviralkan di internet. Rupanya ada oknum-oknum Istana Gajahoya yang bermulut ember, rahasia negara justru diobral keluar. Bahkan ketika masuk Youtube, isi berita sama sekali tidak cocok dengan judulnya.

Adalah Ny. Ciptaningsih, istri Patih Sengkuni yang menjabat sebagai Wakil Ketua Darma Wanita negeri Ngastina, dia juga sudah menerima kabar tentang Kopid Selawe yang bisa sembuhkan wabah gabagen. Terus terang Bu Sengkuni ini masih meragukan daya sembuh vaksin baru itu. Apa lagi bahan bakunya hanya ekstrak daging segar manusia. Itu hanya sekedar sensasi sekaligus pembodohan publik.

“Saya tak mau divaksin Kopid Selawe. Apaan itu ekstrak daging manusia, mendingan kaldu daging sapi enak. Kalau disanksi, saya mending didenda saja, berapa pun akan saya bayar.” Ujar Bu Sengkuni lantang.

“Bu Sengkuni yang terhormat, kalau mengoposisi pemerintah jangan diumbar seperti itu. Nggak enak sama ndara Patih Sengkuni, salah-salah dia yang dicopot karena tak bisa ngatur istri.” Tegur abdi Limbuk.

Tapi Dewi Ciptaningsih tak peduli, bahkan dia ngetwit di medsos ngompori ibu-ibu untuk menolak vaksin Kopid Selawe. Keruan saja Prabu Jokopit marah, sehingga dia lalu panggil Patih Sengkuni untuk menertibkan mulut istrinya. Ketimbang nanti ditertibkan Satpol PP, mending ditertibkan suami sendiri.

“Paman Sengkuni, bisa nggak ngatur mulut istrimu. Ini sebenarnya rahasia, tapi karena sudah kelewatan, terpaksa saya bongkar. Baca ini SK dari Jonggring Salaka.” Ujar Prabu Jokopit keras.

“Nggak salah ini, anak prabu? Masak tumbalnya harus istri saya sendiri…..” Patih Sengkuni mencoba protes.

“Tauuuuk….” jawab Prabu Jokopit sambil angkat bahu.

Jika diakur-akurkan, memang semua mengarah ke nama istrinya. Sebab dalam SK dari Jonggring Salaka disebutkan: wanita yang potongan rambutnya seperti lelaki, suka omong nyinyir ngeritik pemerintah melulu, orangnya tidak pinter tapi sok pintar, dia tinggal di Plasa Jenar. Nah, siapa lagi sosok ini bila bukan Dewi Ciptaningsih? Dan di sinilah Patih Sengkuni jadi curiga, jangan-jangan ini memang settingan kahyangan-Durna untuk menjatuhkan dirinya.

Maka tanpa pamit Patih Sengkuni segera tinggalkan Istana Gajahoya, mencari Pendita Durna untuk bikin perhitungan. Dari dulu begawan Sokalima ini memang sengitan ora ketara pada dirinya. Kelihatan baik hanya di depan saja, tapi di belakang selalu menjelek-jelekkan Patih Sengkuni. Selama ini Patih Sengkuni mencoba bersabar, tapi yang didiamkan tidak tahu diri. Ini saatnya Patih Sengkuni hendak memberi pelajaran.

“Kakang Durna boleh nggak senang sama aku, tapi jangan tumpahkan kebencian itu pada istriku. Salah apa dia kok mau dijadikan tumbal Aji Kopid Selawe?” protes Patih Sengkuni begitu tiba di pertapan Sokalima.

“Lho, kok nuduh saya. Itu asli petunjuk dewa, bukan saya merekayasa Di Cuni.” Jawab Durna membela diri.

“Bisa saja petunjuk dewa itu atas masukan Wakne Gondel. Wakne Gondek kan banyak koneksi di sana, lalu sampeyan manfaatkan untuk mencelakakan saya. Begitu kan?”

Belum juga Durna menjawab, Patih Sengkuni ambil pentungan kaso 5/7 untuk dihantamkan ke ahli nujum Ngastina. Sebetulnya Durna bisa saja melawan Patih Sengkuni, tapi kan malu dilihat para cantrik. Di samping itu Cunda Manik pusaka andalannya juga sedang dijaminkan ke bank, sehingga alternatip satu-satunya hanyalah ambil langkah seribu alias menyelamatkan diri. (Ki Guna Watoncarita)

 

 

 

 

 

Advertisement