Perkembangan Vaksin AstraZeneca terus Dipantau

Indonesia terus mengikuti perkembangan penggunaan vaksin AstraZeneca yang penggunaannya ditunda di sejumlah negara akibat beredar kabar ada sejumlah kasus penggumpalan darah (thrombosis) orang yang divaksinasi.

Jubir Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito mengemukakan, pemerintah terus mengikuti perkembangan vaksin AstraZeneca buatan Inggeris sehingga jika ada kejadian ikutan pasca-imunisasi (KIPI) dapat segera diambil langkah-langkah penanganannya.

“Monitoring terkait KIPI dengan vaksin AstraZeneca terus dilakukan oleh fasilitas kesehatan pelaksana vaksinasi dan diawasi terpusat oleh BPOM dan dianalisis lebih lanjut oleh Komnas KIPI,” kata Wiku di Jakarta, Jumat (12/3).

Meskipun vaksin ini telah tiba di Tanah Air beberapa waktu lalu, penggunaannya masih menunggu ketentuan dari Kementerian Kesehatan.

“Sampai saat ini vaksin AstraZeneca belum disuntikkan untuk target vaksinasi nasional, mengikuti proses alokasi yang akan ditentukan oleh Kementerian Kesehatan dan sertifikat halal dari MUI.

Sesuai dengan pernyataan Europan Medicine Agency (EMA), menurut dia, saat ini tidak ada indikasi bahwa vaksinasi AstraZeneca menyebabkan pembekuan darah. Kasus pembekuan darah juga tidak tercatat sebagai efek samping dari vaksin buatan Inggris itu.

Faktanya, menurut Wiku, lebih dari 10 juta vaksin AstraZeneca yang telah digunakan tidak menunjukkan bukti peningkatan risiko emboli paru ataupun trombosis vena pada golongan usia, jenis kelamin, dan golongan lainnya di berbagai negara.

“Hal ini menunjukkan bahwa jumlah kejadian sejenis ini secara signifikan lebih rendah pada penerima suntikan vaksin dibandingkan dengan angka kejadian pada masyarakat umum,” kata dia.

Indonesia baru saja menerima 1,1 juta dosis vaksin AstraZeneca melalui skema multilateral Covax yang dprakasai WHO bersama Aliansi Vaksinasi dan Imunisaai Global (GAVI).

Sementara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam pernyataannya menyebutkan,  tidak ada alasan untuk menghentikan penggunaan vaksin virus corona buatan AstraZeneca.

Pernyataan WHO dikeluarkan tidak lama sesudah Bulgaria dan Thailand mengikuti langkah tiga negara Skandinavia untuk menghentikan sementara penggunaan AstraZeneca dalam program vaksinasi virus corona.

Langkah itu ditempuh menyusul kematian sejumlah orang di Eropa akibat pembekuan darah, walau belum ada bukti sahih bahwa kematian dipicu vaksin tersebut. Juru bicara WHO Margaret Harris sendiri menegaskan, vaksin AstraZeneca aman digunakan.

“Amatlah penting dipahami, otoritas kesehatan di negara-negara itu mengatakan, manfaatnya lebih besar dibandingkan risikonya, sementara satu-satunya alasan penangguhan adalah karena mereka meneliti sinyal-sinyal keamanan itu.

AstraZeneca, menurut dia, adalah vaksin yang unggul, sama seperti vaksin-vaksin lain yang sedang digunakan, dan kami telah mengkaji data kematian, sejauh ini tidak ada kematian yang akibat vaksinasi.

BPOM Keluarkan Izin AstraZeneca

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan izin penggunaan darurat (EUA) vaksin AstraZeneca  pada 22 Februari setelah  membahasnya bersama ITAGI (Indonesian Technical Advisory Group on Immunization).

Sebelumnya, PM Thailand, Prayut Chan-o-Cha, dan para anggota kabinetnya mendadak batal disuntik vaksin AstraZeneca, 30 menit sebelum sesi penyuntikan berlangsung Jumat pagi (12/3).

Pembatalan dilakukan akibat laporan adanya kasus penggumpalan darah yang dialami penerima vaksin tersebut di tiga negara Skandinavia (Denmark, Norwegia, dan Islandia) , disusul Bulgaria.

Pemerintah Thailand selanjutnya menyatakan akan menunggu hasil investigasi sebelum menentukan apakah vaksinasi dengan AstraZeneca tetap bis dilanjutkan.

Sementara pemerintah Fili[ina menyatakan tidak alasan untuk menangguhkan vaksinasi AstraZeneca, namun demikian, mereka tengah berkoordinasi dan memantau masalah tersebut.

Sebelumnya, Regulator Obat-obatan Uni Eropa (EMA) menyebut jumlah kasus pembekuan darah pada penerima vaksin Oxford-AstraZeneca tidak lebih tinggi dibandingkan kasus yang terjadi di populasi umum.

Penangguhan itu diputuskan usai muncul laporan bahwa sejumlah orang mengalami pembekuan darah (deep vein thrombosis –DVT) setelah menerima vaksin Oxford-AstraZeneca.

Namun EMA dalam pernyatananya (11/3) menyebutkan, sejauh ini tidak ada indikasi bahwa vaksinasi menyebabkan kondisi semacam itu, yang tidak terdaftar sebagai efek samping dari vaksin ini.

Hingga kinidilaporkan terjadi 30 kasus trombosis dari total lima juta orang di Eropa yang telah menerima vaksin AstraZeneca.

Sejauh ini, negara yang menunda penggunaan vaksin AstraZeneca: Austria, Italia, Islandia, negara di kawasan Baltik (Estonia, Latvia, Lituania), Luksemburg dan Rumania dan negara Skandinavia: Denmark, Finlandia dan Norwegia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement