
TERUSAN Suez dengan panjang 193 Km di barat Semenanjung Sinai, Mesir yang menghubungkan Laut Tengah dan Laut Merah tersumbat akibat kandasnya kapal peti kemasĀ raksasa MV Evergreen sejak Selasa (23/3) lalu.
Kapal dengan panjang 400 meter berbobot 200-ribu ton itu nyaris menutup lebar Terusan Suez sehingga tidak bisa diliwati ratusan kapal lain terutama yang menggunakannya untuk pengangkutan migas, bahan mentah atau barang-barang industri lainnya.
Dari foto udara tampak haluan Evergreen membentur sisi timur kanal, sedangkan buritannya tersangkut di sisi barat. Upaya telah dilakukan untuk membersihkan pasir dan lumpur dari sekitar kapal, sementara kapal tunda telah dikerahkan untuk mencoba menggeser posisinya.
Paling tidak, terusan yang dibangun atas prakarsa insinyur Perancis Ferdinand Vicomte Lesseps, mulai dibangun 25 April 1859 Ā dan diresmikan pada 1869 tersebut melayani 10 persen perdagangan global yang menghubungkan Eropa dan Asia.
Jika dianalogikan sebagai jantung manusia, tidak berlebihan jika Terusan Suez berfungsi memompa darah yang membawa oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh.
Akibatnya, menurut taksiran Lloydās List, kemacetan di Terusan Suez, membuat dunia rugi 400 juta dollar AS (Rp 5,6 triliun) per jam untuk angkutan barang yang tertunda, padahal, diperlukan berminggu-minggu lagi untuk membuat kanal strategis itu bisa berfungsi lagi.
Lloyd’s List yang merupakan merupakan jurnal berita perkapalan yang berbasis di London, Inggris. Lloyd’s List memperkirakan, nilai barang di dalam kapal kargo yang melewati Terusan Suez rata-rata 9,7 miliar dollar AS (Rp 139 triliun) setiap harinya.
Dari nilai barang tersebut, 5,1 miliar dollar AS (Rp 73 triliun) diangkut oleh kapal-kapal dari timur ke barat, sebaliknya 4,6 miliar dollar AS Ā Ā Ā (Rp 66 triliun) sisanya oleh kapal-kapal dari barat ke timur. Sampai hari ini saja ratusan kapal terhalang melintasi Terusan Suez.
Musibah kapal Evergreen dikhawatirkan akan mengatrol harga minyak bumi yang rantai pasokannya terutama pada jalur dari Timur Tengah ke Eropa atau Asia utara ke Eropa terganggu. Diperkirakan 1,9 juta barel minyak diangkut melalui Terusan Suez setiap hari.
Bloomberg mencatat, sampai Jumat (26/3) 240 kapal tanker atau kargo dari beragai negara yang mengantri dari arah Laut Merah dan Laut Tengah menuju Terusan Suez.
Jika kondisi ini berlarut-larut, kapal-kapal tanker migas dan kargo Ā terpaksa memilih rute Tanjung Harapan di Afrika yang lebih jauh dengan risiko menempuh jarak dan waktu lebih panjang dan bahan bakar lebih banyak sehingga biayanya pun naik.
Selain rantai pasokan migas dan angkutan kargo terganggu, yang paling terpukul akibat terhentinya kegiatan pelayaran di Terusan Suez yakni Mesir yang mendapatkan sekitar 5,61 milyar dollar AS pada 2020 dari layanan pelayaran.




