
JIKA diasumsikan KRI Nanggala 402 masih melayang pada 50 sampai 100 meter kedalaman laut saat hilang kontak setelah meminta clearance atau izin menyelam, Rabu (21/4) sekitar pukul 03.00 WIB, entah apa yang sedang dialami para awaknya.
Bisa dibayangkan, saat kapal buatan Jerman 1978 berbobot 1.395 ton, panjang 59,5 meter, lebar 6,3 M dan tinggi 5,5 M diawaki 53 orang dan mampu melaju di bawah permukaan 21,5 knot itu tiba-tiba sistem kelistrikannya padam (blackout).
Sejak hari itu (Rabu, pukul 03.00) para awak kapal praktis tidak bisa berbuat apa-apa karena kinerja mesin lumpuh total. Selain dalam kegelapan tanpa penerangan, komunikasi dari dan ke luar putus, sehingga mereka agaknya cuma pasrah dan berdoa menanti tim penyelamat tiba.
Di tengah kegelapan dalam ruang tertutup di bawah permukaan laut, mereka mungkin terpaku pada posisi masing-masing, di ruang kamar mesin, di depan perangkat navigasi, di dekat ruang tabung torpedo atau sesuai tugas dan perannya.
Jangan dibayangkan, ruang kapal selam sama dengan kapal perang di atas permukaan, apalagi kapal penumpang, karena setiap inci ruang di kapal selam dimanfaatkan seoptimal mungkin sesuai fungsinya.
Ruang persenjataan KRI Nanggala yang berada di haluan depan kapal memuat delapan tabung peluncur torpedo plus enam torpedo.
Ruang-ruang kapal selam umumnya dipisahkan dengan pintu-pintu sekat kedap air agar jika terjadi kebocoran di salah satu ruang, kapal masih bisa terselamatkan. Namun konon, ruang di kapal type U 209/1300 seperti KRI Nanggala los tanpa sekat.
Untuk mengatur gaya apungnya (buoyancy force) , kapal selam memiliki tangki-tangki pemberat atau penyeimbang yang bisa diisi air maupun udara.
Saat kapal selam berada di permukaan, tangki pemberat terisi udara sehingga massanya lebih kecil dari massa air di sekelilingnya, sebaliknya saat menyelam, tangki pemberat diisi air, sementara persediaan udara bertekanan dialirkan di dalam kapal selam melalui tabung-tabung udara untuk bernafas para awaknya.
Dijejali Peralatan
Ruang kapal selam biasanya disesaki berbagai peralatan dan untaian kabel-kabel, karena dengan keterbatasannya, estetika atau kenyamanan awak dinomorduakan. Yang penting optimalisasi peran tempur.
Baterai kapal selam mengambil sekitar seperempat bobot kapal dan pada tipe U 209/1300 termasuk KRI Nanggala, diisi empat generator yang diputar oleh empat mesin disesel, menghasilkan daya 5.000 shaft horse power (SHP).
Dalam keadaan “chaos” seperti itu, entah bagaimana makan, minum dan keperluan lainnya dilakukan para awak kapal jika masih bertahan hidup, apalagi persediaan oksigen diperkirakan habis dalam 72 jam menyelam, Sabtu (24/4), pukul 03.00.
Bekal makananan di kapal mungkin masih cukup karena KRI Nanggala bisa beroperasi beberapa bulan, namun persoalannya, dalam kondisi gelap gulita, alat pendingin mati dan kompor tidak bisa dinyalakan, apa yang bisa dilakukan?
Kemungkinan lebih buruk, kapal tidak terkendali dan “nyungsep” ke dasar laut di antara palung-palung (cekungan di laut) sampai kedalaman 1.000 meter yang banyak terdapat di sekitar perairan utara Bali.
Jika itu, terjadi, upaya penyelamatan akan sulit dilakukan, karena di kedalaman di atas spesifikasi kemampuan KRI Nanggala (250 sampai 500 meter), bisa terjadi kerusakan struktur kapal akibat tekanan air yang semakin dalam semakin deras.
Operasi Penyelamatan
TNI-AL mengerahkan 21 kapal berbagai jenis, ditambah kapal-kapal satuan Polisi Air dan Udara (Airud) dan Basarnas serta lima heli TNI-AU, juga kapal penyelamat milik Singapura MV Swift dan MV Mega Bhakti dari Malaysia, fregat HMAS Ballarat dan tanker HMAS Sirius (Australia) dan amerika Serikat mengirimkan pesawat pemburu kapal selam P-8 Poseidon.
Sejumlah negara, antara lain Jerman, Perancis, Turki, India, Rusia dan Korea Selatan juga menawarkan bantuannya untuk operasi pencarian dan penyelamatan awak dan KRI Nanggala 402.
Evakuasi awak KRI Nanggala bisa dilakukan leh kapal rescue Singapura MV Swift yang dilengkapi alat penyelamat kapal selam (Submarine Support and Rescue Vehicle – SSRV) DSAR 6.
MV Swift berbobot 4.290 ton, panjang 85 meter, lebar 18,3 meter dan 27 awak memiliki ruang pemindahan di bawah tekanan air (Transfer Under Pressure – TUV), ruang rawat untuk 40 korban kecelakaan bawah air serta sistem navigasi dan pelacakan terintegrasi.
DSAR 6 akan diterjunkan dengan kendaraan bawah air yang dioperasikan dari jauh (Remotey Operated Underwater Vechicle – ROV), lalu menempel pada KRI Nanggala dan dengan peralatan khusus, membuka pintu darurat untuk mengevakuasi awaknya.
Dengan kapasitas 17 penumpang, jika awak masih bertahan hidup (semoga!), DSAR 6 akan melakukan tiga kali misi ulang alik untuk memindahkan 53 awak KRI Nanggala ke MV Swift.
Tentu syaratnya, oksigen di KRI Nanggala masih mengalir sehingga para awaknya masih bisa bertahan dan kapal itu masih melayang di bawah permukaan laut, tidak menghunjam di dasar palung laut pada kedalaman sampai 700 meter di sekitar lokasi bencana.
Sedangkan kapal MV Mega Bhakti milik Tentara Laut Diraja Malaysia (TLDM) berkemampuan Evakuasi dan Penyelamatan Kapal Selam (Submarine Escape and Rescue Intervention). berbobot 1.960 ton , panjang 80 m, lebar 17 meter dan diawaki 57 orang.
Kapal berbobot 1.960 ton , panjang 80 M dan lebar 17 M ini juga mengoperasikan kendaraan bawah air (ROV) untuk memasang sistem ventilator dan mengurangi tekanan udara di kapal selam (Distresses Submarine Ventilation Deppresurrized System) untuk menyelamatkan kru kapal selam.
TNI-AL sendiri telah mengarahkan 21 kapal perang berbagai jenis, termasuk kapal survei KRI Rigel yang memiliki peralatan canggih, belum lagi kapal-kapal dari satuan Polisi Laut dan Udara (Airud) dan Basarnas.
Upaya “all out” dengan teknologi dan segenap daya termasuk dari sejumlah negara sahabat sedang dilakukan untuk menyelamatkan seluruh kru KRI Nanggala “at any cost”.
“Berkerja dan berdoa”, cuma itu yang bisa dilakukan, selebihnya kita serahkan padaNya! Semoga Allah menurunan mukjizatnya untuk menyelamatkan seluruh kru KRI Nanggala.




