
PERANG Enam Hari antara negara-negara Arab dan Israel, 5 sampai 10 Juni 1967 yang dimenangkan oleh pasukan negara Yahudi selain tragedi bagi kemanusiaan, juga menyisakan banyak aspek lainnya dan juga perubahan konstalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Sampai kini, dari sisi taktik dan strategi militer, Perang Enam Hari dijadikan acuan dan kurikulum pendidikan militer di berbagai negara dan dijadikan topik bahasan yang menjadi acuan para pengamat dan pakar militer.
Di pihak Israel yang melancarkan insiatif serangan udara, korbannya jauh lebih sedikit yakni sekitar 400 tentaranya tewas di front Sinai, Mesir, 550 orang di front Lembah Yordan, Yordania dan 150-an lainnya di front Dataran Tinggi Golan, Suriah.
Sebaliknya, Mesir kehilangan 80 persen alutsista utamanya berupa ratusan pesawat tempur, tank, artileri dan radar, juga nyawa sekitar 10.000 prajurit termasuk para komandan dan sejumlah panglima ditambah 5.000 prajurit dan 500 komandan dan sejumlah panglima ditawan musuh.
Sedangkan Suriah kehilangan 2.500 anggota pasukannya dan 5.000 terluka, sedangkan separuh kendaraan lapis baja dan hampir semua artileri yang ditempatkan di Dataran Tinggi Golan dihancurkan.
Pasukan Suriah yang menguasai Dataran Tinggi Golan teoritis seharusnya menang, karena dengan mudah, artileri berat yang dipasang di lokasi ketinggian tersebut bisa menghancurkan lawan yang coba-coba mendekat.
Istilahnya, wilayah Israel yang hanya berjarak “sepelemparan batu” bisa dibombardir dengan artileri dari ketinggian bukit Golan, dan dari atas, “pergerakan tikus” pun seharusnya bisa diamati.
Persoalannya, berdasarkan informasi intelijen, Mossad, Israel dapat mengetahui persis posisi meriam-meriam Suriah, lalu dengan mudah membungkamnya.
Kemenangan pasukan Yahudi tak lepas dari kegiatan spionnya, Elias Cohen yang dikenal dekat dengan petinggi-petinggi militer Suriah, bahkan pernah ikut menginspeksi kesiapan tempur dan posisi pasukan Suriah di Dataran Tinggi Golan walau kegiatan mata-matanya terbongkar dan ia akhirnya digantung oleh rezim Suriah.
Hal sama dialami Yordania yang hampir 90 persen kekuatan militernya lumpuh, termasuk lebih seribu anggota pasukannya tewas, ratusan tank M-48 hancur dan juga skadron pesawat pembom Hawker Hunter yang dimilikinya.
Ragu Ikut Perang
Yordania sendiri sebelumnya enggan terlibat perang 1967 namun posisinya terjepit, karena jika tidak ikut, bisa memicu gejolak politik dalam negeri, mengingat warga Palestina pro Arab yang tinggal di negeri itu lebih banyak jumlahnya ketimbang penduduk asli. “Mereka sewaktu-waktu bisa dihasut untuk menggulingkan Raja Husein”.
Lagi pula, Raja Yordania, Husein saat itu diyakinkan oleh Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser bahwa pasukannya sudah diambang kemenangan melawan Israel.
Ratusan pesawat tempur ketiga negara dilumpuhkan di pangkalannya di darat melalui gelombang serangan udara yang dipersiapkan secara detil dan akurat berdasarkan analisa intelijen dan juga terus-menerus mempelajari kelemahan lawan dengan simulasi-simulasi pertempuran.
Bahkan kabarnya, pilot-pilot pesawat tempur Israel tidak terpancing untuk menyerang dummy atau pesawat tipuan yang dipajang di sejumlah pangkalan udara Mesir, karena mereka sudah mengetahuinya.
Mesir sendiri saat itu sudah memiliki rudal-rudal pertahanan udara (hanud) SA-1 Guild dan SA-2 Guideline buatan Uni Soviet, namun sebagian besar termasuk radar-radar pemandunya juga dibutakan oleh pesawat-pesawat Israel.
Sebagian rudal hanud yang masih bisa dioperasikan pun tidak ditembakkan, karena operatornya khawatir salah sasaran.
Pasalnya, pada saat serangan udara Israel dimulai, panglima tertinggi AB Mesir, Marsekal Abdel Hakim Amer sedang menginspeksi front Sinai dan kesulitan kembali karena sebagian besar pangkalan udara telah hancur.
Begitu pula tank-tank Mesir, Suriah dan Yordania yang bergerak di medan padang pasir terbuka menjadi sasaran empuk pesawat-pesawat AU Israel karena “payung udara” mereka yang ditulang punggungi pesawat-pesawat MiG-21 buatan Uni Soviet tidak sempat mengudara.
Perang berakhir dengan gencatan senjata pada 11 Juni, 1967 dimana Israel berhasil memperluas wilayahnya dengan merebut Sinai milik Mesir, Dataran Tinggi Golan, Suriah serta Tepi Barat dan Yerusalem yang semula dikuasai Yordania.
PD Habis
Sebenarnya, terutama dari Pihak Mesir dan Suriah, mereka dalam kondisi percaya diri yang tebal bahwa mereka kali ini bakal menang jika perang melawan Israel.
Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser berhasil menanamkan kebanggan nasional rakyatnya dan juga di dunia Arab, dielu-elukan sebagai tokoh pemersatu terutama dalam konteks perang melawan Israel.
Selain itu, di tengah era Perang Dingin saat itu, Uni Soviet di belakang negara-negara Arab dengan menggelontorkan besar-besaran alutsista terutama pada Mesir dan Suriah untuk menhadapi Israel.
Alutsista yang terbilang canggih saat itu, seperti MiG-21 dan pembom TU-16, rudal-rudal hanud SA-1 Guild dan SA-2 Guideline serta tank-tank T- 54,T-55 dan PT-76 (ex-Uni Soviet) dalam jumlah yang mengungguli Israel, mempertebal kepercayaan diri mereka.
Nasser yang semula terlibat dalam kudeta untuk menjatuhkan Raja Farouk pada 1952 juga dianggap sebagai simbul perlawanan Arab setelah pada Perang Arab – Israel Pertama pada 1948 dikalahkan oleh negara Yahudi itu.
Di Suriah, kepemimpinan tangan besi Hafez Al-Assad yang didukung Partai Baath yang berkuasa dan juga kekuatan militer berkat dukungan Uni Soviet, berkontribusi menyemangati rakyat untuk berperang.
Sebelumnya pada Perang Arab Israel pertama, Mesir bersama Arab Saudi, Lebanon dan Suriah dan Yordania bersama-sama menyerbu Israel sehari setelah deklarasi kemerdekaan negara Yahudi itu pada 15 Mei 1948, namun hasilnya, Israel berhasil memperluas wilayahnya, sebaliknya warga Palestina pun terusir.
Obsesi untuk membalas dendam atas kekalahan pertama pihak Arab dalam perang Arab – Israel pada 1948 itu yang juga agaknya ikut memompa tekad mereka untuk mengenyahkan Israel dari muka bumi.
Dari perimbangan militer, Mesir dan Suriah didukung 900-an tank T-34 da T-54, 900-an pesawat tempur berbagai varian MiG (MiG-17, MiG-19 dan MiG-21) dan puluhan pembom TU-16, kecuali AU Yordania yang diperkuat sekitar dua lusin pesawat Hawker Hunter buatan Inggeris.
Sebaliknya Israel memiliki 246 ribu personil , 400-an tank M-48, Patton dan M-50 Super Sherman (buatan AS) dan Centurion buatan Inggeris serta tank ringan AMX-13 Perancis, sedangkan matra udaranya didukung sekitar 200 pesawat A-4 Sky Hawk , Phantom F-5 (buatan AS), Super Mistere dan Mirage III buatan Perancis.
Perang berakhir dengan gencatan senjata pada 11 Juni dan Israel berhasil memperluas wilayahnya dengan merebut Sinai milik Mesir, Dataran Tinggi Golan, Suriah serta Tepi Barat dan Yerusalem yang semula dikuasai Yordania.
Mesir masih mencoba lagi menyerang Israel dalam Perang Yom Kippur pada Oktober 1973, namun kalah lagi walau pada hari-hari pertama berhasil mendobrak benteng pertahanan Israel, menyeberangi Terusan Suez.
Setelah itu, Mesir berdamai dengan Israel berdasarkan perjanjian Kamp David, AS pada 1978, Yordania pada 1993 diikuti Uni Emirat Arab, Maroko, Sudan dan Bahrain pada 2020, sementara Arab Saudi sebelumnya juga diam-diam sudah menjalin hubungan dengan Israel.
Persoalan yang masih tersisa sampai kini yakni rakyat Palestina yang berupaya memperjuangkan kemerdekaan dan wilayahnya yang masih diokupasi negara Yahudi itu.
(ns/dari berbagai sumber).




