
LANGKAH diplomatik terus dibangun oleh kelompok Taliban di Afghanistan yang berupaya merebut kekuasaan pasca penarikan bertahap tentara Amerika Serikat dan sekutunya dengan meminta dukungan dari China.
Deal-deal dilakukan oleh Kepala Urusan Politik Taliban Afghanistan Mullah Abdul Ghani Baradar dalam pertemuan dengan Menlu China Wang Yi di Tianjin, China, Rabu (28/7) lalu.
Dalam pertemuan itu, Taliban mengulangi lagi janji mereka untuk tidak mendukung aksi perlawanan muslim minoritas Uighur di Provinsi Xinjiang, China, sebagai imbalan dukungan terhadap mereka.
Milisi Uighur acap berlatih di Afghanistan dan dari sana diduga melancarkan berbagai serangan ke China. Salah satu insiden terbesar terjadi di Kunning pada 2014 150 warga ditusuk sejumlah orang diduga dari kelompok separatis Gerakan Islam Turkistan Timur (ETIM).
Pada pertemuan dengan delegasi Taliban tersebut, Wang secara spesifik menyoroti ETIM dalam daftar organisasi teroris. Menurut catatan, Perserikatan Bangsa-bangsa juga memasukkan ETIM dalam daftar organisasi teror.
Menlu Wang menyebutkan, ETIM mengancam keamanan nasional dan kesatuan wilayah China sehngga memeranginya merupakan tanggung jawab bersama masyarakat internasional dan pemerintah China serta berharap agar Taliban memutus hubungan dengan kelompok tersebut.
Wang juga menyinggung keputusan AS dan sekutunya menarik diri dari Afghanistan sebagai kegagalan pendekatan model Washington.
Meski mengumumkan penarikan hampir seluruh pasukannya, AS masih terus menyerang sejumlah lokasi di Afghanistan. Dalam beberapa hari terakhir, AS melancarkan beberapa serangan udara untuk membantu pasukan pemerintah Afghanistan melawan Taliban.
Panglima Komando Tengah AS, Jenderal Kenneth McKenzie, menegaskan, serangan udara akan dilanjutkan selama Taliban terus mengempur dan berusaha merebut kendali berbagai lokasi di Afghanistan.
Menurut catatan, pendekatan terhadap Taliban untuk menekan kelompok teror dilakukan juga oleh India, Iran, dan Rusia. Moskwa dan juga Iran untuk mencegah kebangkitan Negara Islam di Khurasan (ISK) di Afghanistan.
Saling Dukung
Sementara itu, sikap saling dukung tersirat dalam pertemuan Tianjin antara petinggi Taliban dan Menlu China.
“Kami tak akan mengijinkan pihak mana pun menggunakan Afghanistan untuk melawan China, sebaliknya pemerintah China juga menegaskan komitmennya untuk mencarikan solusi dan memulihkan perdamaian serta tidak akan ikut campur urusan internal Afghanistan,” kata Jubir Taliban, Moh. Naeem.
Naeem menyebutkan, dalam pertemuan Tianjin dibahas pula perkembangan terakhir terkait isu ekonomi dan keamanan di Afghanistan, sementara pihak Taliban siap menyambut investasi China.
Situasi keamanan di Afghanistan sendiri memburuk pasca penarikan bertahap tentara AS dan NATO awal Juli ini di tengah upaya Taliban untuk merebut kembali wilayah-wilayahnya yang diambil alih pemerintah Afghanistan yang didukung pasukan AS sejak 2001.
Pembangunan kembali Afghanistan yang porak poranda karena selama beberapa dekade terjebak konflik membutuhkan biaya besar, sementara pemanfaatan sumber daya alamnya bisa membutuhkan investasi triliunan dollar AS.
Perusahaan minyak dan gas China National Petroleum Corporation (CNPC) memenangi kontrak selama 25 tahun bernilai 400 juta dollar AS untuk menambang minyak di beberapa lokasi di Afghanistan pada 2011.
Kontrak untuk menambang hingga 87 juta barel minyak itu tidak berjalan mulus sampai kini dan selain itu Beijing juga mendapat konsesi tambang tembaga di Provinsi Logar yang tengah diperebutkan antara Taliban dan pasukan pemerintah Afghanistan.
Pihak Taliban sendiri mengklaim, pihaknya kini telah berhasil menguasai kembali lebih separuh wilayah Afghanistan dari pasukan pemerintah.
Terlepas dari benar atau tidaknya klaim itu, Taliban merupakan kekuatan yang harus diperhitungkan di Afghanistan walau di sisi lain, mereka sadar, diperlukan bantuan dan kucuran dana besar dari negara lain untuk membangun kembali negerinya.
Taliban memerintah dan menguasai sebagian wilayah Afghanistan sejak 1996 hingga 2001, berakhir dengan pemboman yang dilancarkan AS pasca tragedi 11 September di New York dan Washington.
Uni Soviet juga pernah bercokol di Afghanistan dengan menempatkan puluhan ribun pasukannya untuk mendukung pemerintah Marxisme-Leninisme rezim Babrak Karmal antara 1979 dan 1989 melawan kelompok Mujahidin dukungan AS dan Pakistan.
Paling tidak sekitar 2.500 tentara AS dan sekitar 15.000 pasukan Soviet tewas dalam kampanye mereka di Afghanistan, belum termasuk milisi Taliban, Mujahidin dan tentara pemerintah serta warga sipil.
Praktis Afghanistan terjebak dalam perang berkepanjangan sejak 1979, dan penarikan pasukan AS dan sekutunya kemungkinan hanya mengubah geopolitik di negeri itu, diwarnai peran yang akan dimainkan China.
“Tiada teman sejati, yang ada cuma kepentingan abadi”. Adagium ini yang berlaku di Afghanistan di tengah gonta-ganti pelaku di pangung politik, baik kekuatan internal mau pun pihak asing.




