
ERA Perang Dingin sudah berlalu pasca runtuhnya Uni Soviet pada akhir 1991 yang terpecah-belah menjadi 16 negara merdeka dan hanya menyisakan Rusia sebagai pesaing utama Amerika Serikat.
Tentu saja dari sisi wilayah, sumberdaya apa saja dan juga jumlah personil, Rusia sebagai pewaris Uni Soviet turun drastis sehingga dari sisi kekuatan militer harus mencari akal agar tetap bisa mengimbangi AS, musuh bebuyutannya.
Dari nilai belanja militer yang menjadi indikator kekuatan suatu negara, menurut catatan Global Fire Power 2021, Rusia dengan 61,7 miliar dollar AS (setara Rp863,8 triliun), kalah jauh dari AS yang tertinggi di dunia dengan 740,5 miliar dollar AS (setara Rp10.710 triliun) bahkan disalib China dengan 261 triliun (Rp3.654 triliun).
AB AS didukung 2,6 juta personil ditambah 2,45 juta cadangan belum termasuk seluruhnya kekuatan 30 negara yang tergabung dalam NATO, sementara Rusia Rusia didukung 1,2 juta tentara dan 2,6 juta cadangan.
Kekuatan konvensional matra darat AS a.l. 6.289 tank termasuk M1A2 Abrams yang dikenal luas, 39.000 lebih kendaraan berkapis baja, 1.465 artileri swagerak, 2.740 meriam tarik dan 1.366 peluncur roket.
AU AS mengoperasikan 2.000 lebih pesawat tempur seperti F-15 Eagle, F-16 Fighting II Falcon, F-18 Hornet F-22 Raptor, F-35 Super Lightning dan 750-an pesawat misi khusus seperti pesawat intai, anti kapal selam , pengacak elektronika dan lainnya dan 5.800an helikopter tempur seperti AH-64 Apache.
Sedangkan di laut, AS memiliki 20 kapal induk, 22 penjelajah, 62 perusak, 27 fregat, 67 kapal selam dan puluhan korvet serta aneka kapal misi khusus lainnya.
Sebaliknya, AD Rusia mengoperasikan 13.000 tank seperti A-14 Armata dan T-90, 27.000 kendaraan lapis baja, 4.540 artileri swagerak, 4.465 artileri medan dan 3.860 proyektor roket atau rudal.
Sedangkan di udara, Rusia mengoperasikana 800-an pesawat tempur a.l. seri Sukhoi (SU-27, SU-30, SU-35, MiG-31) dan 742 pesawat serang darat serta 538 helikopter serang (MI-24, MI-35).
Sementara armada AL Rusia didukung 352 kapal perang termasuk satu kapal induk, sembilan fregat, 13 kapal perusak, 78 korvet, 62 kapal selam dan 47 penyapu ranjau.
Rudal Hipersonik
Dari sisi jumlah, Rusia di ketiga matra (AD,AL dan AU) secara umum kalah dibandingkan AS, belum ditambah kekuatan sekutu-sekutu AS yang tergabung dalam NATO.
Dengan anggaran militer Rusia yang relatif kecil atau seperdua belas dari AS (61,5 miliar dollar AS berbanding 740,5 miliar dollar AS) tentu sulit bagi negara beruang merah itu untuk menandingi AS.
Agar tak kalah gertak, Rusia mengembangkan rudal hipersonik udara ke darat Kinzai yang mampu melesat 10 kali kecepatan suara dan berjangkauan 2.000 Km serta rudal dari permukaan ke permukaan Tsirkon dengan enam kali kecepatan suara dan jangkauan 500 Km.
Berbeda denga rudal konvensional yang melayang tinggi di atas atmosfir sehingga gampang dilacak dan dicegat lawan, rudal hipersonik bermanuver di bawah atmosfir sehingga sulit dilacak radar dan dicegat lawan karena kecepatannya.
Sistem roket atau rudal sebelumnya, kecuali rudal jelajah seperti milik AS (Harpoon, Tomahawak) mengikuti hukum balistik, sehingga mudah “ditunggu” atau dicegat lawan, sementara rudal hipersonik, selain berkecepatan sangat tinggi, juga bisa bermanuver dalam ketinggian rendah atau zig-zag seperti halnya rudal jelajah.
Energi kinetik dan kecepatannya yang lebih dari enam kecepatan suara juga menimbulkan daya rusak yang tinggi jika menghantam lambung kapal induk atau kapal berukuran besar lainnya.
Tentu saja kedua negara mengembangkan senjata yang mampu menangkal rudal-rudal hipersonik, seperti AS dengan Sistem Aegis yang dipasang di darat mau pun di kapal-kapal perang.
AS juga menggunakan Sistem Pertahanan di Ketinggian (Terminal High Altitude Area Defence – THAAD) yang juga dipasang di Korsel untuk menghadang rudal-rudal nuklir Korea Utara.
Sebaliknya , Rusia juga mengembangkan rudal anti rudal jarak jauh S-500 Prometey berjangakauan sampai 600 Km yang digadang-gadang untuk menghancurkan 10 sasaran udara sekaligus, termasuk pesawat tempur, satelit dengan orbit rendah dan pesawat ruang angkasa.
Selain kekuatan konvensional, AS memiliki senjata pemusnah massal berupa 5.800 hulu ledak nuklir yang disiapkan di silo-silo, kapal selam mau pun diangkut oleh pesawat bomber , sedangkan Rusia dengan 6.375 bom nuklir.
Menurut catatan Stockholm Int’l Peace Research Institute (SIPRI), AS, Rusia, China, Inggeris dan India mengambil 60 persen porsi belanja militer dunia yang berjumlah dua triliun dollar AS (setara Rp28.000 triliun) pada 2020.
Bayangkan, uang sebanyak itu digelontorkan untuk alat pembunuh terhadap sesama manusia, padahal jika digunakan untuk memerangi pandemi Covid-19 atau untuk mengentaskan kemiskinan global alangkah besar manfaatnya.
(AFP/Reuters/ns)




