
JIKA pandemi Covid-19 tetap terkendali, tidak muncul varian baru virus corona penyebabnya dan tidak terjadi euphoria masyarakat akibat pelonggaran prokes terutama di even libur panjang Natal dan Tahun Baru , ekonomi RI diprediksi bangkit dan bergairah lagi pada 2022.
Kepala Kajian Makroekonomi dan Ekonomi Politik LPEM Universitas Indonesia Jahen F. Rezki (Kompas, 2/11) mengemukakan, mobilitas masyarakat yang diberlakukan Juli dan Agustus berhasil meredam penyebaran Covid-19 walau berdampak tersendatnya perekonomian.
Pada 15 Juli lalu tercatat rekor penyebaran harian Covid-19Â dengan 56.757 kasus dan rekor angka kematian pada 27 Juli sebanyak 2.069 orang, dibandingkan pada 2 Nov. sudah turun drastis dengan angka penyebaran harian 612 kasus dan kematian 34 orang.
Pertumbuhan ekonomi pada triwulan ke-3 2021, menurut Rezki, diprediksi antara 3,9 sampai 4,4 persen dan baru membaik lagi pada awal 2022 antara 5,1 sampai 5,4 persen.
Untuk itu, ia mengingatkan agar munculnya virus baru yang bisa membuat pertumbuhan ekonomi anjlok lagi perlu diwaspadai. “Jangan lengah, tetap patuhi prokes agar geliat ekonomi tetap terjaga, “ ujarnya.
Sementara berdasarkan laporan Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID), dari sekitar 600 ribu genom SARS-CoV-2 (virus corona penyebab Covid), 446 diantaranya berasal dari Indonesia yang ditemukan dari 41-ribu mutasi terbagi dalam 880 garis keturunan.
Tiga varian yang menjadi perhatian Badan Kesehatan Dunia (WHO) adalah varian virus Delta B1.1.7 asal Inggeris, Gamma P.1 asal Brazil dan Beta B.1.351 asal Afrika Selatan.
Sementara peneliti LPEM UI lainnya Teuku Riefky berpendapat, perekonomian RI tahun ini masih tertolong pertumbuhan positif ekspor sampai akhir tahun sebagai dampak kenaikan sejumlah komoditi unggulan seperti minyak sawit dan batubara.
“Namun kita tidak bisa bergantung terus pada kedua komoditi tersebut yang sewaktu-waktu bisa turun harganya jika kondisi sudah kembali normal dan faktor penghambatnya sudah terurai, “ ujarnya.
Sedangkan ekonom Moody’s Analytic Shahana Mukherjee memprediksi, pada triwulan II 2022 ekonomi RI melambat menjadi 4,5 persen dibandingkan triwulan II 2021 setinggi   7,07 persen akibat anjloknya permintaan domestik cukup besar akibat lonjakan Covid-19 pada Juli lalu.
Namun senada dengan Riefky, Mukherjee juga memprediksi, ekspor RI tetap tinggi berkat naiknya harga komoditas harga ekspor.
Tetap patuhi prokes 3M, laksanakan 3T dan percepat vaksinasi, karena sukses tidaknya upaya pengendalian Covid-19 tergantung dari capaian kinerja ekonomi.




