Sekolah yang Aman dan Menyenangkan, Kapan?

Siswi SD IV N Baubau Sultara yang distrapp dan disebarkan di tayangan videonya oleh gurunya hanya gara-gara salah menjawab soal. Siklus kekerasan menjerat dunia pendidikan di Indonesia. Tugas berat pada penentu kebijakan untuk membuat sekolah menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak didik.

MENDIKBUD, Ristek Nadiem Makarim menjanjikan, pihaknya mencanangkan dasar pendidikan dalam lima tahun ini agar tidak salah arah dan membuat sekolah menjadi tempat yang  nyaman dan menyenangkan bagi anak didik.

“Dalam 10-15 tahun ke depan, transformasi sistem pendidikan yang mengikuti standar int’l serta sekolah yang menyenangkan bisa dirasakan untuk mendukung pembangunan SDM Indonesia yang unggul dan berkarakter, “ tutur Nadiem saat berkunjung ke redaksi Kompas (2/11).

Tentu, janji yang dilontarkan Nadiem menjadi angin segar bagi dunia pendidikan yang dirasakan publik tidak jelas arahnya, kecuali gonta-ganti menteri dan peraturan.

Pengamat pendidikan Indra Samiaji berpandangan, sistem pendidikan harus di”overhaul” atau dirombak total karena selama ini hanya judul programnya yang “digonta-ganti”, namun secara substansi nyaris tidak ada perbaikan.

Tidak usah dulu lah berbicara soal mutu, menurut catatan penulis, kasus-kasus kekerasan fisik atau kekerasan seksual sesama siswa, oleh guru atau tawuran antarsiswa sekolah masih mewarnai dunia pendidikan di Indonesia.

Sebut saja kasus-kasus yang baru viral di medsos seperti dialami AF (12) siswa kelas V SD N Lubuk Ngin, Kec. Selangit, Kab. Musi Rawas, Sumatera Selatan yang terancam lumpuh akibat dikeroyok teman-temannya  (11/10) dan M Rizki (17) siswa SMA N VII Bogor yang tewas dibacok geng sekolah lain (6/10).

Sementara Musa Malde (13), siswa SMP Padang Alang,  Kec. Alor Timur, Kab Alor, NTT tewas dianiaya gurunya (SK, 33 tahun)  hanya karena alpa tidak mengerjakan PR. (26/10) dan tayangan video tentang S siswi SDN IV Baubau, Sulawesi Tenggara yang disebar di medsos oleh guru kelasnya (AS).

Dari tayangan video berdurasi 47 detik yang menjadi viral di medsos tampak korban yang menangis distrap di depan pojok kelas sambil diteriaki dan disoraki oleh teman-teman sekelasnya

Tawuran antar siswa sekolah – anomali yang tidak terjadi di negara lain – juga tidak pernah dituntaskan, terus terjadi di banyak tempat,  dianggap kejadian biasa, dan sejauh ini tidak tampak greget para pemangku kepentingan pendidikan, politisi dan para elite di negeri ini untuk mengakhirinya.

Sementara menurut Nadiem, regenerasi guru melalui kepemimpinan yang mampu menggerakkan dan mendorong perubahan di sekolah disiapkan melalui program guru penggerak.

Tenaga profesi pendidikan guru yang akan ditempa, menurut dia, juga akan ditempatkan di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T).

Ada 5.000 sekolah penggerak yang disiapkan, dengan menerapkan kurikulum piloting atau penyederhanaan dari kurikulum 2013 yang pendekatannya didisain dari pemikiran guru dan untuk guru.

Sekolah, selain kawah candradimuka untuk menyiapkan  kader-kader masa depan yang mampu bersaing di tengah kemajuan teknologi 4.0, juga melahirkan manusia berkarakter, jujur dan berintegritas.

Sebaliknya, apa yang bisa diharapkan dari anak didik yang hidup di tengah siklus budaya kekerasan, selain pemimpin dan politisi yang korup atau serakah, haus kekuasaan dan hanya mementingkan diri dan kelompoknya?

Pembenahan di sektor pendidikan perlu dan harus, tidak hanya dilakukan oleh kemendikbud dan ristek, tetapi melibatkan seluruh pemangku kepentingan, pejabat daerah dan para politisi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement