Maut di Jalan Raya

Mobil yang ditumpangi selebritis Vanessa Angel dan Suaminya Febri Ferdiansyah ringsek,sementara keduanya tewas dalam kecelakaan di tol Nganjuk, Jatim, Kamis siang (4/11)

TAK berlebihan, jalan raya di Indonesia dijuluki “malaikat pencabut nyawa”, mengingat dalam satu jam saja, paling tidak tiga nyawa penggunanya di berbagai wilayah melayang akibat kecelakaan lalu lintas (lakalantas).

Peristiwa teranyar, selebritis papan atas Vanessa Angel (28) bersama suaminya, Febri Ardiyansyah (32) tewas di KM672 + 400 di ruas jalan tol Nganjuk, Jawa Timur, Kamis siang (/11) pukul 12.46 waktu setempat.

Supir (TJ), penyebab kecelakaan tunggal mobil Pajero Sport B 1284 BJU yang saat itu diduga mengantuk, selamat dan kini masih dirawat di RS Kertosono walau mengalami shock dan luka-luka, begitu pula babby sitter dan putera kedua pasangan yang masih balita.

Sementara Dekan Fakultas Peternakan UGM Prof. I Gede Suparta Budisatria (53) juga meninggal akibat kecelakaan di KM133 ruas tol Cikopo – Palimanan, Subang, Jawa Barat pada hari yang sama, dinihari.

Diduga mobil Toyota Innova AB1969 PY yang ditumpangi korban bersama dosen FP UGM lainnya, Ali Agus dan Khusnul Hanim dan supir yang selamat, diduga diseruduk truk dari belakang.

Data dari kepolisian mengungkapkan, kecelakaan lalu lintas di berbagai ruas jalan raya di Indonesia pada 2020 sebanyak 100.028 kali atau tiap hari terjadi sekitar 25 kasus lakalantas, sementara korban meninggal 23.529 orang atau setiap jam tiga orang.

Manusia, Penyebab Lakalantas

Lakalantas paling banyak terjadi akibat kesalahan atau kelalaian manusia, misalnya mengantuk, kelelahan, mengosumsi obat atau tidak mengenal situasi  jalan yang diliwati atau berkendara sambil bercengkerama atau main ponsel.

Keterampilan mengendara termasuk faktor manusia, akibat mudahnya memperoleh SIM, bahkan mengendara tapa memegang  SIM dan juga lemahnya penegakan hukum termasuk praktek “prit jigo” atau suap oleh oknum-oknum kepolisian terhadap pelanggar lalin.

Faktor kendaraan penyebab kecelakan a.l. muatan berlebih, rem blong, ban aus, kendaraan yang menyimpang dari spesifikasinya, kondisi jalan bergelombang, minim marka atau penerangan jalan, sedangkan faktor alam seperti angin topan, banjir dan longsor.

Yang memprihatinkan, sejauh ini belum tampak upaya serius oleh para pemangku kepentingan seperti kementerian perhubungan dan kepolisisan untuk menekan angka lakalantas.

Lakalantas yang terjadi tiap hari di berbagai ruas jalan di negeri ini justru malah membuat orang menganggapnya sebagai kejadian rutin, dan disayangkan, kasus kecelakaan hanya ramai di media jika korbannya selebriti atau orang-orang ternama.

Pemberitaan media massa, medsos dan elektronika terutama televisi, juga cenderung meyorotinya dari sisi infotainment ketimbang memberi edukasi pada publik dan para pemangku kepentingan misalnya terkait penyebab kecelakaan.

Yang memprihatinkan, hampir separuh korban tewas akibat lakalantas adalah penduduk berusia produktif antara 15 sampai 30 tahun terdiri dari pelajar, mahasiswa dan karyawan.

Selain merenggut  nyawa atau menimbulkan cacat permanen, tingginya angka lakalantas yang mencerminkan perilaku buruk di jalan-jalan juga menunjukkan kelas atau peradaban suatu bangsa.

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement