Vaksinasi Timpang, Omicron Muncul

Munculnya varian baru virus corona Omicron di Afsel terjadi akibat ksenjangan pemerataan vaksin yang menomorduakan penduduk di negara-negara miskin.

LARANGAN berkunjung terutama dari sejumlah negara Eropa terhadap warga negara-negara di Afrika dalam upaya membendung varian Omicron, membuat Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa meradang.

“Aksi ini selain diskriminatif karena tidak mengacu pada temuan ilmiah, juga mempersulit perekonomian negara-negara di Afrika karena kami tidak akan mampu menangani pandemi Covid-19 jika perekonomian tidak jalan, “ ujarnya (29/11).

RI dan sejumlah negara seperti Australia, Jerman, Itali, Inggeris, Belgia, Belanda serta, Scotlandia, Ceko, Hong Kong dan Israel menetapkan larangan masuk bagi pendatang asal Afrika Selatan, Botswana, Zimbabwe, Lesotho, Mozambik, Eswatini dan Nigeria.

Di satu sisi, upaya vaksinasi massal di negara-negara maju mencerminkan kesadaran penanganan pandemi secara global, namun di sisi lain, juga keabaaian mereka untuk memeratakan vaksinasi khsusunya ke benua Afrika yang tingkat ekonomi penduduknya rata-rata rendah.

Sebelumya, Direktur Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk Afrika Matsidisho Muti juga menyebutkan, pihaknya tidak pernah menganggap aksi penolakan kunjungan adalah cara efektif untuk mencegah pandemi Covid-19.

“Galur baru (Omicron-red), muncul karena terjadi kesenjangan vaksinasi (ada yang tinggi dan ada pula yang rendah), “ tuturnya.

Negara terendah dan tertinggi Vaksinasi

Sebagai perbandingan, 10 negara tercatat dengan vaksinasi terendah, yakni Republik Demokrasi Kongo (0,06 persen), Chad (0,42), Haiti (0,58), Guinea-Bissau (0,91), Yaman (1,16), Sudan Selatan (1,1), Etiopia (1,2), Burkina Faso (1,36), Madagaskar dan Mali (1,5).

Sebaliknya, negara dengan vaksinasi tertinggi yakni Spanyol (80,4 persen), Kuba (81,17), Islandia (81,77), Kep Cayman (83,24), Malta (83,72), Chili (83,81), Portugal (87,78), UAE (88,4), Singapura (91,91) dan Gibraltar (119,2 persen).

Kondisi di benua Afrika lebih memprihatinkan lagi, mengingat baru sekitar 6,6 persen dari sekitar 1,2 miliar penduduknya yang sudah menerima suntikan vaksinasi dosis kedua.

Gejala Ringan

Sementara dr. Angelique Coetzee di Pretoria, Afrika Selatan mengemukakan, pasien-pasien yang terkena varian Omicron sejauh ini bergejala ringan dan bisa rawat jalan di rumah tidak seperti pasien yang terpapar varian delta yang mengalamia gejala berat terutama pneumonia.

“Keluhan yang disampaikan pasien (Omicron) biasanya merasa sangat capek selama satu atau dua hari, sakit kepala dan badan terasa sakit dan tenggorokan serak, namun tidak batuk mau pun kehilangan penciuman.

Sementara pakar Mikrobiologi dan Imunologi Universitas Melbourne, Australia Jennifer Juno mengemukakan, hubungan antara mutasi dan kesenjangan akses vaksinasi masih harus diselidiki lebih dalam, namun yang jelas, minimnya vaksinasi meeningkatkan risiko penularan dan pemunculan kluster-kluster baru.

Galur Omicron yang pertama kali ditemukan di Gauteng, Afsel 9 November memiliki 30 jenis mutasi yang bisa menginfeksi ulang orang yang pernah sembuh dari paparannya.

Galur ata varian lain yang masuk kategori perlu diwaspadai oleh WHO adalah Beta asal Afsel, Gamma asal Brazil dan Delta dari India yang berkontribusi paling tinggi paparan Covid-19 global.

Di Indonesia sendiri, walau angka pertambahan harian kasus Covid-19 dan angka kematian menurun, kecemasan akan munculnya varian baru yang lebih ganas juga terjadi.

Wakil Ketua Komisi ASN Tasdik Kinanto menyerukan pada setiap pimpinan instansi untuk mengawasi aturan larangan cuti dan bepergian selama Natal dan Tahun Baru guna mencegah penyebaran Covid-19 gelombang ketiga.

“Mereka harus memastikanaaa, pegawainya yang diberi cuti tetap di rumah tidak berpergian dan jika terbukri melanggar dikenakan sanksi,” ujarnya.

Menurut catatan, pertambahan angka Covid-19 (29/11) ada 176 kasus atau terendah sejak puncaknya pada 15 Juli (56.757 kasus), dan angka kematian 11 orang, bahkan sehari sebelumnya hanya satu orang, terendah dari puncaknya pada 27 Juli sebanyak 2.069 orang.

Soliditas dan kesetiakawanan warga dunia untuk bahu membahu memerangi Covid-19 harus terus dibangun, sedangkan di dalam negeri, tetap patuhi 3M, tingkatkan 3T, percepat cakupan vaksinasi den cegah masuknya varian virus baru.

 

 

 

 

Advertisement