AS Cemas Tersaingi China

Ilustrasi rudal hipersonik yang bisa melayang di atas lima kali kecepatan suara. AS cemas atas kemajuan persenjataann Cina termasuk pengembangan rudal hipersonik.

Amerika Serikat yang berjaya menjadi negara terkuat di dunia tanpa pesaing pasca era Perang Dingin yang ditandai runtuhnya Uni Soviet pada 1992 kini mulai cemas atas perkembangan kemajuan persenjataan China.

Sekretaris Angkatan Udara AS Frank Kendall (30/11) mengakui negerinya saat ini sedang terlibat dalam perlombaan untuk mengembangkan rudal hipersonik yang mematikan. Sebelumnya China sukses memproduksi rudal-rudal balistik antarbenua seri Dong Feng (seperti DF-17, DF-27, DF-41) yang bisa mengangkut hulu ledak nuklir atau penghancur kapal induk.

Kendal mengakui, kedua belah pihak (AS dan China) telah melaksanakan rangkaian uji coba cukup panjang dan melakukannya secara  agresif.

Sebelumnya, Oktober lalu, Kastaf Gabungan AS Jenderal Mark Milley mengonfirmasi, China telah melakukan uji rudal hipersonik yang mampu mengorbit bumi dan dirancang memiliki kecepatan super untuk menghindari sistem rudal pertahanan AS.

Ambisi China untuk menyalip AS dalam lomba persenjataan tampak dari anggaran belanja miiternya yang pada 2021 mencapai 178,2 miliar dollar AS (sekitar Rp2,57 quadrliun), membuntuti AS sebesar 740,5 miliar dollar AS (sekitar Rp10,7 quadriliun).

Tentara Pembebasan China (PLA) dengan lebih dua juta personil aktif  jumlahnya mengungguli  AS dengan 1,35 juta personil, begitu pula dengan matra laut, China memiliki 360 kapal perang dibandingkan AL AS (297), sebaliknya AU AS mengoperasikan lebih banyak pesawat tempur (5.200-an unit) dibandingkan China (2.500 unit).

Di atas kertas, AS lebih unggul dari sisi kecanggihan teknologi yang sudah teruji (combat proven) di berbagai medan tempur di seluruh dunia dibandingkan China yang belum pernah melakukannya.

China dilaporkan telah melakukan uji coba rudal hipersonik berkemampuan nuklir yang mengelilingi orbit bumi Agustus lalu sehingga  sangat mengejutkan pihak intelijen AS.

AS sendiri tahun ini menggelontorkan proyek senilai 60 juta dollar AS (Rp856 miliar) ditangani oleh industri alutsista terkemuka Northrop Grumman, Lockheed Martin dan Ratheon untuk mengembangkan sistem pertahanan guna mencegat rudal hipersonik China.

Menurut AFP, rudal hipersonik tersebut diangkut oleh roket Long March pada orbit rendah dan rudal meleset dari sasaran pada ketinggian lebih dari 20 mil atau sekitar 32 kilometer.

Yang melegakan, perlombaan senjata oleh beberapa negara agaknya hanya untuk memenuhi azas “Si Vis Pacem para Belum” (Yang ingin damai harus siap perang), karena perang mestinya dihindari, mengingat dengan senjata pemusnah massal (nuklir) saat ini , kedua pihak bakal sama-sama hancur.

Advertisement