
VARIAN baru virus SARS-CoV-2 Omicron sejauh ini belum terdeteksi di Indonesia, namun pemunculan varian yang tiga kali lebih ganas memicu infeksi ulang dibandingkan varian Delta tersebut di negara jiran cukup mencemaskan.
Di Malaysia, menurut otoritas kesehatan setempat, pertama kali terdeteksi dari seorang mahasiswi yang tiba dari Afrika Selatan dua pekan lalu. Mahasiswi yang tidak mengalami gejala dan sudah divaksin itu saat ini masih dikarantina.
Sementara dari Singapura juga mengonfirmasi (2/12), kasus paparan Omicron terdeteksi dari dua penumpang penerbangan dari Afsel yang saata ini masih dirawat di Pusat Layanan Penyakit Infeksi (NCID).
Selain mampu menginfeksi ulang tiga kali lipat dibandingkan dengan varian Delta asal India (B.117) yang banyak memapar warga dunia sebelumnya, Omicron menurut hasil studi Institut Penyakit Menular (NICD) Afsel, dari bukti epidemilogis, kemampuan Omicron menghindar dari kekebalan pada infeksi sebelumnya.
Dari hasil tes terbukti, ada 35.670 kasus dugaan infeksi ulang dari 2,8 juta sampel tes positif yang diambil sampai 27 November lalu. Dikategorikan sebagai reinfeksi jika hasil tes positif dalam 90 hari.
Untuk mengantisipasi omicron, tak kurang dari Presiden Jokowi yang mewanti-wanti agar warga lebih “care” terhadap kepatuhan pada prokes. “Hati-hati, Covid belum selesai, varian Omicron muncul, “ katanya mengingatkan.
Menkes Budi Gunadi Sadikin juga memberi peringatan yang sama, sementara Plt Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Max Rondonuwu meminta agar sejumlah pintu masuk ke wilayah RI ditutup sementara.
Untuk mencegah varian omicron yang sudah terdeteksi di 32 negara dengan 390 kasus, RI melalui Surat Edaran Satgas Covid-19 No. 23 tahun 2021 menutup pintu masuk bagi pendatang dari 11 negara.
Karantina selama 10 hari, diperpanjang dari sebelumnya selama tujuh hari juga diberlakukan terhadap WNI yang melakukan perjalanan dari negara-negara yang belum terdeteksi terpapar Omicron.
Max juga meminta agar pengurutan genom (genom secuencing) pada sekuens Covid-19 haus terus ditingkatkan tidak hanya terkait kasus Covid-19 asal luar negeri, tetapi juga kasus-kasus yang terjadi akibat transmisi lokal.
Namun Direktur Badan Kesehatan Dunia (WHO) Pasifik Barat Takeshi Kasai mengingatkan, penutupan perbatasan hanya menunda masalah, karena sekarang sudah menyebar di 37 negara Pasifik Barat.
“Setiap negara harus bersiap-siap menghadapi lonjakan Covid-19, “ katanya mengingatkan.
Trauma berlebihan tidak perlu, mengingat Covid-19 di Indonesia sejauh ini masih terkendali, tetapi euforia atau abai juga jangan, karena lonjakan sewaktu-waktu juga masih bisa terjadi.,




