LUMAJANG – Ahli Vulkanologi Surono mengatakan, pemukiman warga yang terdampak erupsi Gunung Semeru memang berada di daerah rawan bencana yang sangat tinggi.
Berdasarkan peta kawasan rawan bencana, rumah-rumah masyarakat tersebut berada di zona merah yang artinya berbahaya.
Ia mengungkapkan, ancaman masyarakat yang paling mengkhawatirkan adanya awan panas yang kecepatannya bisa mencapai ratusan kilometer per jam, dibandingkan dengan kecepatan larva yang belasan kilometer per jam. Berdasarkan pertimbangan itu, menurutnya, pemukiman warga yang terdampak saat ini tidak bisa kembali untuk di huni.
“Saya tidak akan menyalahkan, mereka itu ada di kawasan rawan bencana. Mari kita jujur. Kemudian what’s next? Karena ini pasti akan terjadi lagi di kemudian hari. Tidak bisa lari mereka, terlalu cepat awan panas, dan bisa datang kapan saja. Dan sekarang yang agak mengkhawatirkan bagi saya, bukaan di kawah Semeru sudah sangat terbuka, bibirnya sekarang sudah sumbing, sehingga tumpukan kubah larva setiap saat bisa longsor gugur dan menghasilkan awan panas,” ungkap Surono.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa status “waspada” yang disematkan berdasarkan aktivitas Gunung Semeru sebelum terjadinya awan panas sudah benar, dan an pihak terkait sudah mengingatkan warga. Hal ini ditandai dengan sudah adanya 500-an pengungsi pada 1 Desember.
Selain itu, menurutnya, aktivitas gunung api tidak dapat diramalkan. Namun, peningkatan aktivitas suatu gunung api tetap perlu diinformasikan kepada masyarakat, sehingga mitigasi risiko bisa dilakukan dengan seksama.
“Ingat, warning gunung api itu bukan untuk meramalkan kapan terjadinya letusan gunung api, dan berapa besar letusannya. Tetapi itu merupakan hak gunung api menyandang status itu berdasarkan peningkatan aktivitasnya dan hak masyarakat untuk mengetahui status gunung apinya, sehingga tahu harus berbuat apa, supaya dia selamat,” jelasnya.





