
BENCANA vulkanologi akibat erupsi dan luncuran awan panas Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, Sabtu malam (4/12) yang merenggut puluhan korban jiwa, rusaknya sejumlah prasarana dan bangunan perlu menjadi pembelajaran ke depannya.
Dilaporkan, sejauh ini 34 orang dinyatakan meninggal, masing-masing 22 orang hilang dan luka-luka berat, 5.050 bangunan dan rumah serta jembatan rusak berat di Kec. Pronojiwo dan Sumberwuluh, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Hampir seluruh rumah di area Curah dan Besuk Kobokan, Desa Supiturang hancur akibat luncuran awan panas dan pasir yang dimuntahkan dari kawah dan menimbun lokasi tersebut.
Hujan abu vulkanik mengguyur sejumlah desa di Kab. Lumajang, sementara material guguran awan panas turun dari lereng gunung bersamaan dengan turunnya hujan deras dan diiringi letupan material yang dimuntahkan dari kawah G. Semeru.
Sebanyak 4.250 penyintas dari kedua kecamatan tersebut sejauh ini sudah berada di 19 lokasi pengungsian walau fasilitas yang disediakan seperti air bersih, MCK, tenda-tenda serta dapur umum dan obat-obatan belum memadai.
Dalam peninjauan ke lokasi bencana, Selasa (7/12) Presiden Jokowi menyebutkan, pemerintah akan mengidentifikasi 2.000 rumah yang terletak di lokasi berbahaya dan rentan untuk direlokasi ke tempat lebih aman. “Pembangunan rumah-rumah akan segera dilakukan begitu lokasinya sudah ditetapkan, “ janji Jokowi.
Gubernur Jatim Khofifah meminta para penyintas mengikuti instruksi petugas dan bertahan sementara di pengungsian sampai kondisi aman, karena sampai hari ini masih terjadi beberapa kali aktivitas vulkanik dan potensi aliran lahar dari kawah.
Namun seruan untuk menjauhi zona berbahaya pada radius satu Km dari kawah dan lima Km dari bukaan kawah tidak sepenuhnya dipatuhi, misalnya aktivitas penambang pasir masih berjalan di Kali Besuk yang terdampak erupsi G. Semeru.
Sementara Pakar Geologi dan Mitigasi Bencana ITS, Dr. Ir. Amien Widodo mengatakan, peta kawasan rawan bencana yang bisa dijadikan acuan bagi para pemukim sebenarnya sudah diterbitkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Peta tersebut mengklasifikasikan Kawasan Rawan Bencana (KRB) 1, 2, 3 sesuai jarak dari kawah dan bukaan kawah, namun selain banyak warga yang membandel, informasi dari kelurahan atau pemerintah daerah yang lebih tinggi kurang memadai.
Sedangkan Ahli Vulkanologi Surono atau dikenal Mbah Rono mengemukakan, peta rawan bencana di wilayah permukiman harus terus diperbarui karena wilayah yang dulu aman, bisa jadi kini sudah tidak aman lagi.
“Peta kan buatan manusia. Jadi perlu dievaluasi dan direvisi jika ada perluasan wilayah rawan bencana, “ tuturnya seraya mengingatkan, peta rawan bencana harus ditetapkan dengan transparan guna menekan risiko ke depannya.
Mengingat di Indonesia ada 127 gunung berapi aktif yang sewaktu-waktu bisa erupsi dan ada jutaan penduduk yang berpotensi terdampak, selayaknya aksi mitigasi, penanganan dan masa tanggap darurat harus lebih dipersiapkan lagi.
Dari sisi mitigasi, penyadaran dan literasi penduduk tentang potensi risiko bahaya bencana vulkanologi, juga peringatan terus-menerus dari aparat desa, termasuk pengawasannya, harus terus ditingkatkan.
Kesiapan lokasi dan fasilitas di tempat pengungsian seperti dapur umum dan fasilitas MCK serta rumah sakit lapangan perlu disiapkan agar para penyintas tidak terlalu lama menanti, begitu pula korban yang memerlukan pengobatan atau perawatan.
Selayaknya otoritas yang berwenang menangani bencana di Indonesia yang terletak di jalur cincin api serta banyak gunung berapi, tidak hanya reaktif saat bencana tiba, tetapi perlu melakukan persiapan dan mitigasi dengan serius sedini mungkin.




