BEGAWAN BAHAR WISUNA (4)

Sanghyang Wenang mengomeli SBG kenapa jadi wayang peragu, gara-gara bela anak sendiri.

BERKAT minum jamu temulawak setiap pagi SBG penguasa Jonggring Salaka sudah kembali normal, sehat lagi rosa-rosa macam Mbah Marijan. Naskah akademik revisi UU Wayang Sukerta kembali disodorkan Betara Penyarikan. Setelah membaca sejenak pasal-pasal inti dalam usulan revisi ulang itu, SBG malah tercenung karena juga bingung. Ini buah simalakama baginya; dimakan ayah wafat (begitu istilah wartawan sekarang), tak dimakan bapak yang meninggal.

Soalnya, menyetujui revisi UU tersebut, artinya SBG tak berpihak pada rakyat akar rumput. Tapi jika ditolak, ini sangat mengganggu sandang pangan Betara Kala yang sebetulnya juga anak sendiri. Bisa nantinya dia klantih (kurang makan) gara-gara kebijakan ayah sendiri. Mana ada bapak tega sama anak. Saking bingungnya, sudah 2 minggu lebih SBG belum putuskan nasib itu barang.

“Bagaimana pukulun, kok revisi UU Wayang Sukerta belum ada tindak lanjutnya. Di medsos sudah rame warganet melabeli SBG sebagai penguasa Jonggring Salaka yang peragu.” Kata Betara Penyarikan setengah menyindir, padahal tujuannya mendesak agar segera diteken.

“Sabar dulu, saya harus konsultasi pada Sanghyang Wenang di Ngondar-andir Bawana.” Jawab SBG dengan gerakan tangan seputar dada untuk meyakinkan apa yang diomongkan.

Perlu diketahui, Sanghyang Wenang itu dewa yang memiliki kewenangan puncak dalam birokrasi kahyangan. Apa pun kebijakan SBG musti harus ada greenlight dari Sanghyang Wenang. Maka sebetulnya SBG itu sekedar petugas dewa yang ditunjuk oleh Sanghyang Wenang. Apa kata Sanghyang Wenang, SBG harus seia-sekata, jika tidak mau dikata-katai.

Demikianlah SBG pun segera menghadap ke kahyangan Ngondar-andir Bawana, untuk menyampaikan problematik yang tengah dihadapi Jonggring Salaka, gara-gara kebijakan SBG sendiri yang penuh KKN. Coba jika sedari awal revisi ke-1 UU Wayang Sukerta ditolak, tentu takkan terjadi tekanan massa untuk revisi ulang UU tersebut. Tapi memang harus dimaklumi, jika urusan untuk anak kabanyakan orangtua tak bisa berkutik.

Jeneng kita harus tegas, sumber masalah ini ujung-ujungnya ke Begawan Bahar Wisuna dan Divel Mabukmin, maka tangkap dua orang itu untuk menemani Begawan Rajek Sohibi di penjara. Jika ketiganya sudah dikandangi amanlah semuanya.” Perintah Sanghyang Wenang.

“Lalu bagaimana nasib Betara Kala putra ulun, pukulun? Jika UU Wayang Sukerta dikembalikan ke aslinya, anak saya bakal kekurangan  makan. Sebab obyek makanannya jadi sangat terbatas.” Kata SBG mencoba menawar.

“Kan masih bisa diganjel singkong rebus dan tiwul.” Jawab Sanghyang Wenang santai saja.

“Betara Kala kalau makan singkong dan tiwul langsung diare, pukulun.”

“Wih, nggayaaaa! Ulun sebagai dewa elit saja masih doyan pisang rebus.”

Percuma melawan kehendak Sanghyang Wenang, sebab tak lama kemudian Sanghyang Wenang panggil Betara Bayu dan Betara Indra menghadap. Keduanya ditugaskan untuk menangkap Begawan Bahar Wisna dan Divel Mabukmin. Tentu saja SBG semakin terpukul. Biasanya soal beginian menjadi urusannya, tapi kini diambil alih langsung oleh Sanghyang Wenang. Ini menandakan bahwa sebagai penguasa Jonggring Salaka sudah tidak direken. Janga-jangan tahun 2024 sudah tidak diperpanjang lagi jabatannnya.

Betara Bayu dan Betara Indra merasa mendapat kehormatan luar biasa, karena dapat penugasan langsung dari Sanghyang Wenang. Apa lagi misinya menangkap Begawan Bahar Wisuna dan Divel Mabukmin. Kedua dewa ini memang juga sebel atas kelakuan dua begawan tengil tersebut. Sebagai begawan kepada cantrik bukannya mengajarkan kebenaran, tapi malah ngompori agar melawan pemerintah. Cuma kedua dewa itu belum menemukan “benang merah”-nya bahwa kedua begawan itu sebetulnya hanya kaki tangan Betara Kala belaka.

“Mereka ditangkap langsung dimasukkan Kawah Candradimuka atau bagaimana pukulun?” kedua dewa itu bertanya lagi.

“Jangan! Panggang saja dulu, macam bikin sate bumbu pecel. Setelah tobat-tobat baru dimasukkan sel gedong waja. Mereka jangan dihukum mati, nanti Komnas HAM mencak-mencak lagi.” Pesan Sanghyang Wenang.

Kabar akan ditangkapnya Begawan Bahar Wisuna-Begawan Divel Mabukmin sudah sampai ke telinga yang bersangkutan. Langsung keduanya mengkeret macam ayam sayur. Dulu Begawan Rajek Sohibi penangkapnya hanya para wayang ngercapada kelas Gatutkaca Cs, tapi kali ini kalangan dewa elit turun tangan langsung. Dan keduanya tak sempat lagi ngatur siasat baru, lantaran makbedengus dua dewa kahyangan itu sudah ada di depannya.

“Kalau saya ngritik Pendawa-Ngastina langsung ditangkap, berarti demokrasi telah mati.” Kata Begawan Bahar Wisuna protes pada dewa penangkapnya

“Kalau demokrasi mati sekalipun, kenapa kalian repot. Toh kalian takkan diminta untuk menguburkannya?” kata Betara Indra melucu, maklum dia dewa mentornya pelawak Indro-Warkop, bahkan dapat royalty pula.

Sesusai instruksi Sanghyang Wenang, Begawan Bahar Wisuna-Divel Mabukmin dipanggang sebentar di panasnya api Kawah Candradimuka. Mereka biar merasakan panasnya api kawah, yang lebih panas ketimbang panasnya situasi gara-gara isyu-isyu yang dilemparnya ke publik selama ini. Setelah itu baru keduanya dimasukkan ke Gedong Waja bersama Begawan Rajek Sohibi.

“Lho, kok kalian jadi item macam Negro, bagaimana ceritanya?” Begawan Rajek Sohibi bertanya terheran-heran atas nasib dua sohib penerusnya itu.

“Panjang ceritanya. Dipanggang di Kawah Candradimuka tak sampai mati, tapi rambut di mana saja berada terbakar habis. Bini gue bisa pangling nih…..” Keluh Begawan Bahar Wisuna.

Begitulah, semenjak trio begawan Rajek Sohib-Bahar Wisuna-Divel Mabukmin dimasukkan Gedong Waja, negeri Ngamarta – Ngastina menjadi aman, sepi orang demo. Kalau ada demo paling-paling minta kenaikan UMP seperti DKI Jakarta. Dan SBG pun dengan tenang membatalkan revisi UU Wayang Sukerta ke-1. Artinya Batara Kala hanya boleh makan wayang-wayang sukerta standar lama. Wayang-wayang masak dengan kayu bakar dibolehkan. Hanya saja sekarang agen gasm melon 3 Kg di jagad perwayangan bangkrut total.

Betara Kala karena makanannya terlalu dibatasi, badannya jadi kurus kering. Yang enak para koruptor, tak lagi jadi menu Betara Kala, hanya dipenjarakan di Gedong Waja sampai puluhan tahun sesuai dengan uang negara yang dikorupsinya. Tentu saja Komnas HAM merasa berhasil perjuangannya, tapi hanya di dunia wayang. (Ki Guna Watoncarita- Tamat)

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement