China Kepakkan Sayap ke Pasifik

China dengan gencar berupaya membangun kemitraan dengan berbagai negara termasuk dengan Solomon di Pasiifk Selatan, sehingga membuat cemas Australia dan Selandia Baru.

LANGKAH China menjadi penguasa dunia menyaingi Amerika Serikat kian nyata dilihat dari pembangunan militer dan ekspansi bisnis serta ofensif diplomasinya menjangkau berbagai negara di sejumlah kawasan.

Di sisi militer, anggaran pertahanannya pada 2022 sebesar miliar  178,2 miliar dollar AS (sekitar Rp2.359 triliun) hanya kalah dari AS yang menempati ranking pertama dengan 740,5 miliar dollar (Rp10,55 quadriliun).

Dengan anggaran pertahanan sebesar itu, China mampu membangun kapal induk (saat ini sudah empat buah), pesawat-pesawattempur  siluman generasi ke- lima J-20 Chengdu dan rudal-rudal balistik antarbenua (seri Dong Feng -DF).

China juga mengklaim seluruh wilayah Laut China Selatan dan  membangun sejumlah spangkalan di pulau-pulau atol yang masih dalam sengketa serta mengoperasikan armada lautnya hingga perairan utara P. Natuna.

Di bidang ekonomi dan investasi, China misalnya memiliki Forum Kerjasama China -Africa (FOCAC) yang dibentuk pada tahun 2000 diikuti 53 negara Afrika.

Dengan ASEAN, China juga menggelar helat tahunan China-ASEAN Ekspo (CHAEXPO) dan China-ASEAN Business and Investment Summit (CHABIS)  di kota Nanning, Prov.Guang-Xi.

China terus berusaha membangun kemitraan, misalnya di bidang keamanan dengan negara kepulauan Solomon, di Pasifik Selatan yang ditandatangani, Jumat (25/3) lalu.

Dalam pernyataan publik pemerintah Solomon, disebutkan kemitraan dengan China dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas hidup rakyat dana menghadapi segala bentuk ancaman terhadap negara.

Kerjasama meliputi bidang kepolisian, supremasi hukum, tanggap bencana dan perlindungan bagi warga negara China yang berkerja di sejumlah  proyek pembangunan di Solomon dan di bidang militer.

Diversifikasi Relasi

Pemerintah Solomon sendiri menganggap diversifikasi kerjasama dengan banyak negara dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi kegiatan investasi.

Solomon yang terletak di timur Papua Nugini di wilayah Samudera Pasifik selatan terdiri dari 992 pulau seluas 28.450 Km2 dihuni sekitar 600.000 penduduk.

Kemitraan Solomon dan  China membuat risih  tetangganya, Australia dan Selandia Baru yang merupakan bagian “keluarga Pasifik” dengan  sejarah panjang terkait dukungan dan berbagai upaya merespons krisis di wilayah itu.

“Kami sadar betul, ada negara lain yang berusaha mempengaruhi dan mungkin berniat menguasai wilayah itu”, ucap PM Australia Scott Morrison.

Menteri Urusan Pasifik Australia Zed Seselja menyebutkan, ia telah menyampaikan kecemasannya pada PM Solomon Manasseh Sogavare, bakal terjadi tekanan balik yang signifikan di kawasan itu. (akibat kehadiran China-red).

Sementara Menlu Selandia Baru Nanahia Mahuta melontarkan keprihatinannya dengan menyebutkan, mitra-mitra di Pasifik harus transparan walau mereka berdaulat penuh  untuk menjalin kemitraan dengan siapa saja.

“Namun dalam perkembangannya kemudian, perjanjian (dengan China-red) bisa merusak tatanan yang telah lama menopang keamanan kawasan Pasifik, “ ujarnya.

Sebaliknya, Jubir Kemlu China Wang Wenbin meminta agar pihak-pihak terkait melihat kerjasama antara China dan Solomon secara obyektif dan tidak menafsirkanya secara berlebihan. (AP/AFP/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement