
PERLOMBAAN persenjataan strategis beranjak ke rudal hipersonik yang mampu melesat minimal lima kali kecepatan suara (5-Mach) sehingga sulit dideteksi dan dicegat sistem pertahanan lawan.
Australia, negara “halaman belakang RI” juga tidak ketinggalan. PM Scott Morrison (6/4) menyatakan, negaranya sudah memperoleh dukungan dari mitranya di AUKUS (Australia, Inggeris dan Amerika Serikat) bagi pengembangan rudal-rudal tersebut.
Aliansi trilateral pertahanan AUKUS yang dibentuk 25 September 2021 sepakat berkolaborasi dalam pengembangan rudal hipersonik dan perang elektronika.
Morrison dalam pernyataannya menyebutkan Australia berniat meningkatkan kemampuan militernya secara signifikan sejalan dengan makin nyatanya ancaman China di kawasan di eraIndo-Pasfik.
Selain megklaim wilayah di dalam sembilan garis putus-putus (nine-dash line) di kawasan Laut China Selatan yang disebut sebagai wilayah operasi nelayan tradisionalnya, China juga aktif membangun pangkalan di wilayah sengketa tersebut.
China dan Solomon, negara pulau di Pasifik selatan, baru saja menandatangani kerjasama pertahanan dan keamanan sehingga kehadirannya membuat Australia dan Selandia Baru merasa terancam
AS sendiri sedang mengembangkan rudal hipersonik Air Breathing Weapon Concept (HAWC) yang dirancang bersama antara Defence Research Projects Agency (DARPA), Angkatan Udara, industry Locheed Martin dan Aerojet.
Pentagon atau Kemenhan AS disebutkan telah menggelontorkan 4,7 miliar dollar AS (sekitar Rp66,7 triliun) pada 2022 untuk membiayai litbang rudal hipersonik, sementara Menhan Australia Petter Dutton bakal menyediakan 2,6 miliar dollar AS (Rp36,9 triliun).
Dalam uji coba baru-baru ini, rudal mampu mencapai ketinggian 65.000 kaki sejauh 300 mil laut, sementara di era Presiden Joe Biden kini, milyaan dollar dianggarkan untk mengembangkan senjata pamungkas tersebut.
Jumlah senjata pemusnah massal nuklir AS dan Rusia sebenarnya sudah jauh berkurang setelah dilakukan serangkaian pembicaraan Pembatasan Persenjataan Strategis (SALT) dan START (Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis) antara keduanya.
Namun yang dimiliki saat ini yakni AS 3.750 hulu ledak nuklir dan Rusia 5.900 hulu ledak masih masih menimbulkan kerusakan berlebihan jika keduanya menggunakannya.
Rusia sudah jajal rudalnya
Sebaliknyaa Rusia justeru telah memanfaatkan perang dengan Ukraina untuk menjajal rudal hipersonik Kinzhal berkecepatan 5-Mach (sekitar 3.800 Km) untuk menghancurkan perlindungan bawah tanah lawannya di barat daya Ukraina.
Selan berkecepatan tinggi, Kinzhal yang diluncurkan dari pesawat tempur MiG-31 dilaporkan mampu mengubah-ubah arah sebelum mencapai target sehingga tidak bisa dideteksi lawan.
Rusia dilaporkan juga menggunakan rudal hipersonik Zircon berkecepatan di atas enam Mach untuk menyerang target militer di Ukraina timur , sementara selain AS, Ingggeris, Australia dan Rusia, China dan Korea Utara juga sedang mengembangkan rudal hipersonik.
RI negara dengan dua pertiga lautan dan 17.000 pulau, selayaknya juga terus memperkuat dan memodernisir militernya sehingga menimbulkan ‘deterrent effect’ atau efek penangkal bagi pihak lain yang ingin coba-coba mengusiknya.
“Si Vis Pacem Para Bellum, siapa yang ingin damai harus siap berperang” (AFP/AP/Reuters/ns)




