Ukraina Siap-siap Hadapi Pertempuran Besar

Rusia mengerahkan persenjataan dan pasukannya ke wilayah Donbas, menyiapkan serangan besar ke ibu kota Ukraina, Kiev

BERUANG Merah Rusia dengan mesin perang raksasa ternyata belum mampu menghentikan perlawanan Ukraina, tetangganya dan juga sesama bekas sempalan Uni Soviet.

Sudah lebih satu setengah bulan sejak awal invasi dan bombardemen dari darat, laut dan udara oleh kekuatan Rusia terhadap Ukraina, 24 Februari lalu, sampai hari ini belum ada tanda-tanda bakal usai, bahkan di hari-hari mendatang diperkirakan bakal terjadi eskalasi.

Rusia, agaknya untuk menghindari perang kota yang bakal menelan banyak korban, urung memasuki ibu kota, Kiev yang “tinggal sepelemparan batu” atau hanya beberapa Km lagi di depan pasukan terdepannya.

Didukung rudal-rudal antai tank Javelin (AS) dan rudal generasi mendatang  (Next Generation Light Antitank Weapon -NLAW buatan Inggeris-Swedia, pasukan Ukraina yang kalah dalam jumlah dan persenjataan, agaknya cukup efektif menerapkan perang kota.

Kedua jenis rudal anti tank tersebut banyak memangsa tank tempur utama Rusia, begitu pula rudal-rudal panggul Stinger (AS) yang menimbulkan korban besar helikopter serang Rusia seperti  Mi-35 Hind dan KA-52 Kamov.

Citra satelit komersial mengendus konvoi tank-tank dan persenjataan berat Rusia sepanjang sembilan Km yang meninggalkan kota Lviv di Ukraina Utara (12/), menurut Kemhan Ukraina,  diduga menuju arah timur ke wilayah Donbas.

Dua wilayah berpenduduk mayoritas etnis Rusia di wilayah Donbas yakni Luhansk dan Donetsk sedang berupaya melepaskan dari dari Ukraina didukung Rusia.

Menurut Jubir Kemhan AS (Pentagon) John Kirby, alur pergerakan pasukan Rusia cukup jelas. Mereka ingin bergabung dengan kekuatan pemberontak untuk merebut pelabuhan kot Mariupol.

Presiden Ukraina Volodymyr Zeleknsky juga mengingatkan, pasukan Rusia sudah menyiapkan ribuan tentaranya untuk menyerang wilayah timur negaranya.

Serangan Besar-besaran

Sementara Kanselir Austria Karl Nehammer menyebutkan, Rusia sedang nag menyiapkan pasukan berskala besar ke Mariupol yang sekitar 120.000 warganya mengalami kelaparan dan 10.000 orang tewas akibat bombrdemen Rusia.

Jika Mariupol bisa direbut Rusia, kemungkinan akan dijadikan markas gabungan bersama pasukan dari Krimea, yakni wilayah Ukraina yang dicaploknya pada 2014 untuk selanjutnya mengepung ibukota. Kiev.

Sementara Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dari persembunyian mengatakan, pengepungan terhadap Mariupol bisa dipatahkan jika pasukannya mendapat pasokan persenjataan berat dari pihak Barat (AS dan Uni Eropa).

Sebaliknya Presiden Rusia Vladimir Putin sesumbar, ia tidak meragukan lagi, target operasi pasukan Rusia di Ukraina bakal segera tercapai.

“Kami d satu sisi berusaha membantu dan menyelamatkan warga dan di sisi lain menjamin keamanan Rusia. Tidak ada pilihan lain, ini keputusan tepat, “ ujarnya.

Entah sampai kapan pertempuran akan berhenti, mengingat AS dan pihak Barat menggelontorkan peralatan militer agar Ukraina mampu mengusir pasukan Rusia.

Ending Perang Rusia vs Ukraina belum bisa ditebak. (AP/AFP/ns).

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement