BANJARAN DURNA (7)

Begawan Durna kaget dan malu, karena patung dirinya begitu persis, cuma ini ukuran lebih gede 1,5 dari dirinya yang asli.

TANPA menunggu lama, setelah meninggalkan tempat Bambang Ekalaya berlatih Permadi langsung mencari gurunya, Begawan Durna. Mukanya masam macam ASN golongan I gaji habis dipotong bon ini itu. Putra ketiga Pendawa Lima itu sangat kecewa atas “perselingkuhan” gurunya dalam hal pendidikan. Diakui atau tidak, perselingkuhan suami-istri yang jadi korban hanya keluarga, tapi perselingkuhan pendidikan, pada gilirannya nanti yang menjadi korban para anak bangsa.

“Tumben Permadi, pagi-pagi ke sini. Ini kan hari Sabtu, perguruan libur tak ada kegiatan ajar-mengajar.” Kata Pendita Durna terheran-heran.

“Eyang begawan kenal sama Bambang Ekalaya?” ganti Permadi bertanya, tanpa mau menjawab pertanyaan perdana gurunya.

“Banyak Bambang kenalan saya. Ada Bambang Yudhoyono, Bambang Gentolet sampai Bambang Pacul PDIP. Dulu ada juga Bambang Suharto suami bintang film Leny Marlina…..” jawab Pendita Durna agak bingung, sebab pertanyaan Permadi di luar konteks dan konten.

Permadi lalu menjelaskan sosok Bambang Ekalaya itu, yang ngakunya tokoh dari negeri Paranggelung, yang katanya suka wisata laut di Parangtritis Yogyakarta. Dia sampaikan juga ciri-cirinya. Misalnya, rambut hitam, tapi selalu tertutup sorban, sedikit bewokan, dan sering juga pakai jubah dan suka debat di TV.

“Itu Novel Bamukmin, kan? Emangnya kenapa?” tanya Pendita Durna belum dong (paham).

“Bukan! Masak Novel Bamukmin pinter memanah.” Jawab Permadi sambil menunjukkan foto di HP-nya pada sang begawan.

“Oo ini, itu Bambang Ekalaya yang dulu pernah les privat memanah padaku, tapi hanya sebentar. Memangnya kenapa?”

Permadi lalu menjelaskan bahwa Bambang Ekalaya memiliki kepandaian memanah melebihi dirinya. Dia mengaku pernah berguru pada Begawan Durna. Dan dia sekarang ilmunya lebih jauh di atasnya. Pertanyaannya, kenapa Begawan Durna mengatakan Permadi murid satu-satunya  yang ahli memanah? Faktanya, setiap PON digelar Bambang Ekalayalah yang bisa ikut dan selalu gondol medali emas.

Paling menyakitkan, Permadi lalu berani mengungkit masa lalu Begawan Durna, ketika dia selingkuh dengan Wilutama. Sekarang dalam hal pendidikan, selingkuh lagi. Katanya Permadi diklaim murid paling pinter memanah, tapi diam-diam ada murid lain yang jauh lebih pintar memanah. Gurunya saja tak punya integritas, bagaimana muridnya nanti.

“Aduh Permadi. Sedikit kata-katamu, tapi sengak didengar. Tunjukkan di mana Bambang Ekalaya itu, nanti kita selesaikan.” Kata Begawan Durna agak risau.

“Oke. Tapi satu hal yang harus dicatat Eyang Begawan, Permadi harus tetap satu-satunya murid eyang yang jago memanah.” Ujar Permadi egois sekali.

Terhalang aturan ganjil genap, Permadi lalu mengajak Begawan Durna ke tempat Bambang Ekalaya dengan sepeda motor lawas, Honda ’69 yang suaranya khas engukkk.. engukkkk melulu. Tiba di lokasi, kebetulan Bambang Ekalaya sedang giat berlatih memanah. Padahal dia sudah pakarnya urusan memanah. Itulah intelektual sejati, selalu merasa kurang ilmunya. Tapi hati-hati, setelah menjadi pakar jangan sampai apa-apa dibikin sukar. Misalnya, murid diganti istilahnya jadi peserta didik.

Melihat kedatangan Begawan Durna, Bambang Ekalaya langsung menghentikan latihannya. Buru-buru dia menyembah dan cium kaki “guru” memanahnya tersebut. Tentu saja Begawan Durna jadi risih, kenapa diperlakukan sampai seperti habib Bahar Smith. Apakah karena dirinya datang pakai jubah dan surban?

“Sst Bambang Ekalaya, jangan begitu. Nanti  orang yang nggak suka menuduh diriku kadrun juga….” kata Begawan Durna.

“Terima kasih atas kehadiran Eyang Begawan. Tapi kok sama Permadi kenalan baruku kemarin? Memangnya ada apa? Kok sepertinya serius banget? Mari masuk ke rumah saja, jangan di sini.” Kata Bambang Ekalaya menghormati tamunya.

Tetapi Begawan Durna dan Permadi menolak dengan halus. Katanya cukup di luar saja, karena hanya ada kepentingan sedikit. Apa itu? Begawan Durna pun lalu menjelaskan maksud kedatangannya bersama Permadi. Tak lain tak bukan hanyalah untuk meluruskan klaim Permadi bahwa dirinya memiliki murid panah memanah lain yang lebih jago dan wudhu tanding (tiada lawan).

“Kamu dulu les privat sama saya kan hanya sebentar ya?” tanya Begawan Durna.

“Betul eyang begawan. Tapi dengan memajang patung begawan, saya terpacu untuk otodidak belajar memanah.” Jawab Bambang Ekalaya.

Bambang Ekalaya lalu menunjukkan patung begawan Durna di pojok lapangan tersebut. Lagi-lagi Begawan Durna terkaget-kaget ketika tahu sosok dirinya dipatungkan segala. Tapi di hati kecilnya dia memuji keberadaan patung itu. Begitu mirip dengan dirinya. Cuma ini ukurannya 1,5 kali dari dirinya. Gede ukurannya lho ya, bukan syahwatnya.

Pematungan dirinya semoga saja tak didengar oleh UAS. Sebab ini bisa dituduh kafir dan musyrik. Bisa-bisa perguruannya dikencingi massal, bisa pesing semuanya. Tapi karena otak bisnis Begawan Durna cukup lumayan, justru Bambang Ekalaya kemudian “diperes” macam panti penitipan anak beberapa waktu yang lalu. Cuma karena ada di dekat Permadi, tak enak untuk memeras secara kasar ala preman Tanah Abang, Begawan Durna mencoba memeras secara elegant dan kesannya sangat menguntungkan Permadi.

“Bambang Ekalaya kenapa bikin patung tanpa seizin saya. Ini pelanggaran serius tentang hak kekayaan intelektual. Kamu baru boleh bikin patungku 50 tahun setelah aku meninggal nanti.” Kata Pendita Durna menakut-nakuti.

“Maaf eyang begawan, saya awam soal UU Hak Cipta. To the point saja, Eyang begawan butuh kompensasi apa, nanti saya siapkan. “ jawab Bambang Ekalaya terus terang.

Begawan Durna menegaskan bahwa dirinya tak mata duitan, meski bisa saja minta kompensasi Rp 1 miliar misalnya. Dia kemudian hanya minta kenang-kenangan cincin Mustika Ampal yang sedang dikenakan Bambang Ekalaya. Sebetulnya ini berat bagi tokoh dari Paranggelung ini, sebab cincing itu sudah kadung menyatu dengan jari-jemarinya macam sudah dikeling (las) dengan jari jemarinya. (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement