Rusia Kuasai Ukraina timur

Rusia dengan mesin perang raksasanya dilaporkan sudah merebut Donbas di Ukraina timur (1/6) , namun pasukan Ukraina masih bertahan sambil menanti pasokan senjata-senjata canggih dari Barat terutama AS.

HARI ke-98 sejak invasi Rusia ke wilayah tetangganya, Ukraina, pada 24 Feb. pasukan Beruang Merah dilaporkan nyaris menguasai seluruh wilayah Luhanks dan Donetsk di kawasan Donbas yang dihuni mayoritas etnis Rusia.

Mesin perang raksasa Rusia yang didukung ketiga matra (AD,AL dan AU) semula langsung menyasar ibukota Ukraina, Kiev, namun secara tak terduga, mendapat perlawanan sengit dari lasykar Ukraina yang cukup efektif menerapkan taktik perang kota.

Kemungkinan, untuk menghindari kerugian personil dan perangkat perang lebih besar lagi, Rusia sejak April lalu mengalihkan fokus serangannya ke wilayah Luhansk dan Donetsk di kawasan Donbas, Ukraina timur yang dihuni mayoritas etnis dan separatis Ukraina.

Kantor Berita Reuters melaporkan, (1/6), pada hari ke-98, pasukan Rusia bersama milisi setempat (etnis Rusia) telah berhasil merebut  pusat industri di kota Sievierodonetsk dan kota kembarannya, Lysychanks di barat Sungai Siverskyi Donetsk, Luhanks.

Gubernur Luhanks, Serhy Gaidai sehari sebelumnya juga menyebukan, sebagian besar wilayah kota Sivierodonetsk porak-poranda akibat gempuran artileri berat dan rudal-rudal Rusia sementara 60 persen bangunan rusak parah.

Perlawanan Berlanjut

Walau pasukan Rusia yang lebih banyak jumlah dan lebih lengkap persenjataannya, perlawanan pasukan Ukraina belum berakhir, apalagi dengan mengalirnya alutsista  baru yang lebih canggih dari Barat terutama Amerika Serikat.

Dalam pertemuan dengan sekitar 50 menteri pertahanan di Brussel, Senin lalu (30/5), Ukraina memperoleh komitmen bantuan alutsista dari sejumlah negara termasuk rudal-rudal canggih.

AS sendiri menggelontorkan bantuan senilai 700 juta dollar AS (sekitar Rp9,4 triliun) termasuk pesawat-pesawat nirawak (drone), rudal panggul anti pesawat Stinger, rudal anti tank Javelin dan peluncur roket mobilitas tinggi (High Mobility Artilery Rocket System – HIMARS) M142.

Dengan roket berlaras ganda berjarak jangkau sampai 300 Km tersebut, pasukan Ukraina diperkirakan bisa bertahan, bahkan mampu melakukan ofensif terhadap posisi pasukan Rusia.

Jerman juga tak ketinggalan, seperti disampaikan oleh Kanselir Olaf Schols, pihaknya akan memasok Ukraina dengan rudal-rudal anti pesawat terbaru Infrared Imaging System Trail (IRIS-T).

Sejumlah negara anggota NATO dikabarkan juga bersedia memasok rudal jelajah Harpoon buatan AS stok mereka yang mampu menyasar target di darat seperti bunker atau situs-situs rudal musuh, kapal permukaan dan kapal selam.

Sebaliknya, Wamenlu Rusia Sergei Ryabkov pada kantr berita RIA Novosti mengingatkan, pasokan senjata dari Barat ke Ukraina bisa meningkatka risiko konfrontasi langsung (antara Rusia dan AS atau NATO-red).

Yang jelas, tentu saja aliran persenjataan untuk Ukraina bakal menghambat gerak maju pasukan Rusia sehingga bisa jadi perang bakal berlarut-larut. (AFP/AP/Reuters)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement