Dompet Dhuafa Optimis Kurban Tahun ini Meningkat

JAKARTA – Dompet Dhuafa pada Kamis (16/6/2022), di Kafe Kopi Ko Acung Jl. Sabang, Jakarta Pusat, menggelar Press Conference THK 1443.

Pada kesempatan tersebut, Dompet Dhuafa mengundang media massa untuk berdiskusi bersama Dian Mulyadi selaku Ketua THK 2022, Drh. Sariyanti selaku Koordinator Kesehatan Masyarakat Veteriner sekaligus Wasekjen PB Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia, Sunarsip selaku Kepala Ekonom The Indonesia Economic Intelligence dan Eko Aris Setyawan selaku Peternak Mitra THK Dompet Dhuafa.

Sebelum dimulai, Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa, Rahmat Riyadi menyampaikan catatan-catatan kunci kepada para audien yang hadir. Ia menegaskan bahwa program THK sejatinya adalah milik bersama. Maka itu, Dompet Dhuafa sangat terbuka pada saran dan masukan dari semua pihak. Selain itu, Rahmat juga mengajak seluruh masyarakat untuk bersama mensukseskan program THK supaya dapat lebih banyak menebar manfaat.

“Kami berharap program THK ini banyak mendapatkan support. Penyelenggara THK Saya kira bukan hanya Dompet Dhuafa saja, melainkan program bersama. Kesadaran penyebaran hewan ini pun kami harap dapat keterlibatan dari semua pihak. Dompet Dhuafa sangat terbuka untuk menerima masukan-masukan dan ide-ide dari masyarakat supaya terus menjadi lebih baik sehingga bisa ditiru juga oleh teman-teman yang lain,” ucapnya.

Ketua THK 2022 Dian Mulyadi memaparkan, selain dengan tujuan ibadah yang disyariatkan oleh Islam, THK juga sebagai bentuk pemberdayaan peternak lokal. Selama ini, seperti data yang dikaji oleh IDEAS, bahwa daging-daging kurban banyak yang menumpuk di pusat-pusat kota besar. Ada 45 ribu ton daging yang menumpuk di Jabodetabek dan Bandung. Sedangkan daerah-daerah lain banyak mengalami defisit daging, bahkan di pelosok-pelosok banyak yang belum merasakan daging kurban.

“Paska pandemi, Indonesia sudah bisa pulih kembali. Maka kami yakin untuk menargetkan THK tahun ini yang cukup tinggi, yaitu 40.000 setara doka ke pulau-pulau pelosok terluar, terpencil dan tertinggal. Kami juga upayakan distribusi ke luar negeri. Seperti di Palestina, Suriah, Afghanistan, Somalia, Bangladesh, Timor Leste, yang memiliki komunitas muslim cukup tinggi namun mengalami krisis pangan dan kemanusiaan yang tinggi juga,” imbuh Dian.

Tentang wabah PMK, Dian menjelaskan Sejak dulu THK Dompet Dhuafa sebenarnya sudah menerapkan Quality Control bagi hewan-hewan yang mau dikurbankan. Termasuk bobot, kecacatan dan kesehatan hewan. QC pertama pada 2 bulan menjelang Idul Adha, dan yang kedua 1 bulan menjelang Idul Adha. Hewan yang tidak lulus QC akan dipisahkan untuk tidak dikurbankan. Selain itu, masing-masing sentra ternak maupun mitra ternak THK dibekali dengan ilmu yang cukup supaya bisa melakukan QC secara mandiri setiap kali dibutuhkan.

Menguatkan perkataan Dian, Eko sebagai mitra peternak Dompet Dhuafa di Madiun sejak 2012, mengatakan bahwa delapan bulan sebelum Idul Adha sudah mulai untuk mengajukan bibit-bibit yang akan dijadikan sebagai hewan kurban di Dompet Dhuafa. Dalam kurun waktu 8 bulan tersebut hewan-hewan terus dipantau perkembangannya. Dompet Dhuafa benar-benar mempersiapkan hewan-hewan terbaik untuk para donatur. Sehingga semua orang merasa senang dan puas baik para pekurban maupun penerima manfaatnya.

Dari segi ekonomi, Sunarsip menyebutkan saat ini sebenarnya perbankan memiliki tabungan uang. Artinya banyak orang yang menyimpan uang di bank. Meskipun terjadi krisis karena wabah pandemi dan PMK, namun orang-orang yang punya uang sebenarnya tidak terlalu terkena dampak ekonomi yang signifikan. Ia melanjutkan bahwa kurban adalah suatu keharusan. Maka sebagai orang yang beragama seharusnya ikut menjalankan. Krisis ini pun sebenarnya tidak mempengaruhi mereka yang punya uang. Maka itu, Sunarsip sangat optimis dengan kegiatan kurban kali ini akan meningkat.

“Dari segi demand (permintaan untuk kurban), saya rasa di Dompet Dhuafa tidak akan menurun. Justru yang saya khawatirkan itu pasokan hewannya yang kurang karena terlalu banyaknya permintaan, sedangkan kasus PMK masih ramai,” ucapnya.

Drh. Sariyanti menganjurkan masyarakat untuk tidak mengunjungi kandang-kandang ternak. Maka berkurban secara online melalui Dompet Dhuafa adalah pilihan yang tepat untuk memenuhi ibadah Idul Adha.

Drh. Sariyanti menanggapi, PMK sejatinya tidak menular ke manusia. Meski begitu, tingkat menularannya sangat tinggi dan manusia sangat bisa menjadi si penular. Anak kandang pindah dari hewan yang sakit ke hewan yang sehat itu bisa menularkan penyakit ini. Maka pemberlakuan kurban online sangat lah efektif karena tidak perlu memilih langsung ke kandang. Dompet Dhuafa sudah menjamin semuanya.

“Saya sangat apresiasi dompet Dhuafa yang telah menerapkan QC di setiap kandang dan hewan ternak khususnya yang akan dijadikan kurban. Masa inkubasi virus PMK adalah 1-12 hari. Pemberlakuan lockdown memanglah solusinya. Ini tugas kita bersama untuk menggaungkan kurban online. Jadi tidak perlu lagi kita pegang-pegang milih-milih hewan ke kandang. Kualitas hewan dan keabsahan kurban insya Allah sudah dijamin sama Dompet Dhuafa,” terangnya, dikutip dari dompetdhuafa.org.

Advertisement