
PEMBERIAN vaksin penguat (booster) harus digenjot lagi untuk menahan lonjakan penularan virus corona (SARS-CoV-2) subvarian Omicron khususnya BA4 dan BA5 yang diprediksi menuju puncaknya, Juli.
“Hasil surveilan menunjukkan, vaksin yang disuntikkan ke masyarakat, baik dosis primer (I dan II) mau pun booster, jauh manfaatnya ketimbang risiko nya, “ kata Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) Hindra Irawan Satari di Jakarta (25/6).
Berdasarkan laporan yang diterima KIPI, dari 74,8 juta dosis vaksin AstraZeneca yang disuntikkan, ada 64 laporan KIPI yang dinilai serius, dan 4.114 laporan berkategori non-serius.
Menurut Hindra, kasus-kasus KIPI serius di Indonesia terbilang kecil, paling banyak yang non-serius seperti terjadi demam, sakit kepala atau nyeri lokal dan berlangsung dalam waktu singkat.
“Kami memastikan, vaksin yang disuntikkan pada masyarakat saat ini aman, dan kami terus melakukan pemantauan dan pengawasan, sedangkan laporan yang masuk dikaji oleh para ahli yang kompeten, “ ujarnya.
Sementara berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, sampai hari ini tercatat sudah 167,7 juta penduduk yang menerima vaksin dosis pertama dan kedua, sedangkan vaksin penguat atau booster baru menjangkau 49,9 juta orang (18,4 persen).
Untuk mencapai tingkat kekebalan komunitas (herd Imunity) , paling tidak 80 persen penduduk Indonesia atau 208,2 juta dari 273 juta harus divaksin lengkap ditambah vaksin penguat atau booster.
Penguat respons Imun Tubuh
Berdasarkan rekomendasi WHO, kata Ketua Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) Sri Rezeki Hadinegoro, vaksin penguat diberikan saat respons imun tubuh dari vaksin primer (dosis I dan II) mulai menurun setelah empat sampai enam bulan disuntikkan.
Vaksin penguat juga dapat meningkatkan kemampuan menetralisasikan virus Omicron termasuk subvarian baru (BA4 dan BA5) untuk menekan angka rawat inap dan kematian akibat Covid-19 antara 91 sampai 93 persen.
Beberapa hari ini tampak tren kenaikan kasus harian Covid-19 yang didomini sub varian Omicron BA4 dan BA5 yang cepat menyebar, mampu mereinfeksi (memapar ulang penyintas, baik yang sudah menerima vaksinasi dosis lengkap), namun fatalitasnya (risiko kematian) rendah.
Pada Jumat (24/6) angka harian paparan tembus di atas 2.000 kasus (2.069 kasus), sedangkan angka kematian harian relatif rendah (tiga orang). Diprediksi, angka penularan harian pada puncaknya akhir Juli nanti, bisa mencapai 20.000 kasus per hari.




