
KASUS gangguan ginjal akut progresif atipikal yang menyerang 131 anak di 14 propinsi di Indonesia selama periode Januari sampai September perlu diwaspadai, apalagi penyebabnya masih misterius.
Dirjen Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu (12/10) menyebutkan, tim khusus Kemenkes, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan RS Cipto Mangunkusumo sudah dibentuk untuk meneliti penyakit misterius tersebut.
“Namun sejauh ini belum diketemukan bakteri atau virus yang spesifik, “ ujarnya.
Sedangkan menurut informasi dari Dirjen Pelayanan Kesehatan, Kemenkes, gangguan ginjal akut progresif atipikal (atypical  progressive acute kidney injury) menyerang anak-anak di bawah usia 18 tahun.
Gejalanya, demam selama tujuh sampai 14 hari, infeksi saluran cerna seperti muntah dan diare dan Infeksi Saluran Pernafasan Atas (batuk dan pilek), mengalami keluhan tidak bisa berkemih (anura) disertai turunnya volume urine.
Pada beberapa kasus juga terjadi penurunan kesadaran, sehingga jika ini terjadi, pasien diharapkan segera dilarikan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat agar penyakitnya tidak semakin parah.
Pasien perlu dirujuk ke RS jika volume urine kurang dari 0,5 mililiter per kilogram berat badan per jam selama enam sampai 12 jam atau tidak ada urine selama enam sampai delapan jam di siang hari. Tatalaksana atau perawatan selanjutnya juga dilakukan di RS.
Sebelumnya Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDA) menyebutkan, ke-131 anak yang mengalami gagal ginjal tersebut berasal dari 14 propinsi a.l. Aceh, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Bali, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, NTT dan Papua.
Yang melegakan, Dirut BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti menyatakan, layanan kesehatan bagi penyakit baru termasuk gagal ginjal akut misterius tersebut ditanggung oleh program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).
“Sepanjang sesuai prosedur dan terindikasi medis, BPJS Kesehatan akan meng-cover pembiayaan untuk penyakit misterius termasuk gagal ginjal akut atipical , “ujarnya.
Yang juga perlu diketahui, kasus gagal ginjal akut yang terdeteksi di Indonesia tidak ada kaitannya dengan kematian 66 anak di Gambia, Afrika Barat baru-baru ini yang diduga mengonsumsi obat batuk pruduk India.
BPOM memastikan keempat obat batuk yang menurut WHO mengandung zat berbahaya (Promethazine Oral Solution, Kotexmalin dan Makoff Baby Cough Syrup serta Magrib N Cold Syrup) tidak terdaftar di Indonesia.
Para orang tua diminta waspada dan segera membawa anaknya ke fasyankes terdekat jika ditemui gejala-gejala terkena gagal ginjal akut misterius tersebut.
“Jangan sampai terlambat!”




