
HASIL pemilu sela yang digelar di Amerika Serikat, Selasa (7/11) akan menentukan kelangsungan nasib program kerja Presiden petahana Joe Biden dari Partai Demokrat atau kemungkinan, Donald Trump dari Partai Republik maju lagi pada Pemilu 2024.
Sebanyak total 435 kursi di DPR AS diperebutkan, sementara di Senat 35 dari seluruhnya 100 kursi yang ada, selain ada pula pemilihan gubernur di 36 negara bagian dan teritorial AS yakni Guam, Kepulauan Mariana Utara dan Kepulauan Virgin.
Komposisi DPR (House of Representatves) dan Senat yang dihasilkan dari Pemilu sela ini sangat meentukanjalannya pemerintahan Biden, sehingga misalnya mayoritas parlemen diisi oleh legislator dan senator dari Partai Republik, kemungkinan kuat berbagai program kerja Biden akan dicoret atau minimal anggarannya disunat.
Selain menentukan peluang mencalonkan diri untuk periode ke-2 pada Pemilu 2024, pemerintahan Biden juga akan menghadapi banyak tantangan jika mayoritas parlemen dikuasai Partai Republik.
Bisa jadi akan dilakukan investigasi atas keputusan Biden menarik pasukannya dari Afghanistan sehingga berujung kembalinya rezim Taliban, penyelidikan terhadap kebijakan ekonomi dan penanganan Covid-19 yang bisa mendorong pemakzulan.
Sebaliknya, kubu Partai Republik seolah-olah mendapat amunisi atas kemarahan publik terhadap lonjakan laju inflasi di bawah kepemimpinan Presiden Biden akhir-akhir ini dan juga untuk memperjuangkan hak perlindungan bagi perempuan untuk melakukan aborsi.
Namun kedua kubu saling menuding, lawannya lah yang mengancam demokrasi AS. Biden mengungkit-ungkit kembali sikap Trump yang menolak hasil pemilu 2020 setelah dinyatakan kalah.
“Demokrasi yang sah adalah hasil pilihan rakyat. Hanya karena pihak yang kalah marah, bukan berarti proses demokrasi tidak sah, “ kata Biden.
Namun, kubu mana pun yang menang atau kalah, bagi AS yang jam terbang kehidupan berdemokrasinya sudah mapan, tidak akan banyak perubahan yang bakal terjadi. (Reuters/AFP/ns)




