KTT Perubahan Iklim di Tengah Pesismisme

COP27 tentang perubahan aiklim di Sharm el-Sheik, Mesir sejak Senin (7/11) menuntut kontribusi kongkret tiap negara untuk menurunkan produksi emisi karbon masing-masing seperti dilakukan RI.

KONFERENSI Perubahan Iklim (Conference of the Parties – COP)      ke-27 yang diikuti wakil-wakil dari lebih 120 negara digelar di Sharm El-Sheikh, Mesir, Senin (7/11)  dibayang-bayangi pesimisme terkait kontribusi kongkrit tiap negara.

Hadir dalam pertemuan itu a.l. Presiden Uni Emirat Arab Sheik Muhammad bin Zayed, Presiden Perancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Olaf Scholz, Pm Belanda Mark Rutte, sedangkan RI diwakili Wapres Ma’ruf Amin.

Aktivis lingkungan Greta Thumberg misalnya, jauh-jauh hari sudah menyatakan tidak aka hadir dalam pertemuan COP-27 dengan alasan, ruang (partisipasi-red) bagi masyarakat sipil amat terbatas.

“COP Cuma jadi panggung para pemimpin negara mencari pencitraan dan penuh dengan kepura-puraan dan peserta pertemuan ini juga tidak berniat mengubah sistem secara komprehensif melainkan hanya sebatas mendorong kemajuan secara bertahap.

Hal senada dilontarkan oleh Co-founder dan Presiden Gugus Tugas Udara Bersih (Clean Air Task Force) Armond Cohen yang menyebutkan dalam situsnya (www.catf.us), COP27 perlu dimanfaatkan untuk memperjelas ragam tujuan, menghadapi sejumlah tekanan dan melakukan upaya terbaik, memenuhi kebutuhan lingkungan ekonomi dan pembangunan manusia.

“Tidak ada satu tujuan tunggal yang bisa disepakati bersama. Jadi, lebih baik disiapkan strategi nol karbon, “ ujarnya.

Krisis Iklim

Wapres Ma’ruf Amin dalam pidatonya mengingatkan, dunia saat ini menghadapi krisis perubahan iklim, polusi dan punahnya keanekaragaman hayati. “Semua mendesak diatasi dan saling terkait, “ ujarnya.

Untuk itu ia mengjak seluruh pemimpin negara peserta COP27 menjadi bagian dari solusi dengan memberikan kontribusi sesuai kapasitas masing-masing dengan semangat berbagi beban, bukannya mengalihkan beban.

Menurut Ma’ruf Amin, langkah kongkret serta penguatan kolaborasi berlandaskan dialog dan sikap saling percaya perlu jadi hasil COP27, begitu pula dukungan negara maju pada negara berkembang harus dipenuhi.

“COP27 menuntut implementasi, apalagi setelah COP26 di Glasgow, belum terasa adanya kemajuan berarti, “ ujarnya.

Wapres juga mengungkapkan kontribusi Indonesia seperti yang dituangkan dalam Kontribusi Nasional yang Ditentukan (Nationally Determined Contributions-NDC ) yang sudah disampaikan dua bulan lalu.

Dalam NDC 2016, RI menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca 29 persen dengan kemampuan sendiri (unconditional) dan naik 41 persen jika ada bantuan int’l, sementara target NDC 2022 dinaikkan dengan penurunan 31,89 persen emisi gas rumah kaca (unconditional) dan 43,2 persen dengan bantuan int’l.

Peninigkatan target NDC sejalan dengan kebijakan perluasan konservasi dan restorasi alam, penerapan pajak karbon, mendorong pencapaian hasil kehutanan dan pemanfaatan lahan lainnya (Forest and Other Land Uses – FOLU), pengembangan ekositem kendaraan listrik serta menginisasi program biodiesel (B-40)

FOLU Net Sink adalah kondisi yang ingin dicapai melalui penurunan emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan dimana tingkat serapan sama atau lebih tinggi dari tingkat emisi.

Sebagai presidensi G20, RI juga mendorong pemulihan program penghijauan (regreening) serta aksi yang solid dan inklusif, begitu pula melalui keketuaan dalam ASEAN 2023, RI memberikan perhatian pada aksi-aksi terkait perubahan iklim.

Bumi milik kita bersama, sehingga sepantasnya lah jika tiap negara berkontribusi menekan produksi emisi gas rumah kaca guna mencegah terjadinya krisis iklim.

 

 

 

 

 

Advertisement