Misteri Tewasnya Empat Orang Sekeluarga

Temuan empat sekeluarga yang tewas misterius di Kompleks Citra Garden, Kalideres, Jakarta Barat, 11 Nov. lalu masih terus ditelusuri kepolisian.

TEWASNYA empat orang sekeluarga secara misterius di kompleks perumahan Citra Garden I, Kalideres, Jakarta Barat hendaknya menjadi pelajaran bagi segenap warga dan pmangku kepentingan di wilayah hunian.

Belum diketahui sejauh ini misteri penyebab meninggalnya empat orang sekeluarga yang kemungkinan sudah terjadi sekitar tiga pekan lalu dan baru diketahui, Kamis (10/11).

“Untuk sementara, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan  atau luka, “ kata Kanit Kriminal Umum Polres Metro Jakarta Barat AKP Avrilendi di Jakarta pada hari yang sama.

Keluarga yang menurut keterangan Ketua RT setempat, Asiong, tertutup terdiri dari pasutri RY (70) dan RN (68), anak perempuannya DR (42) dan adik RY berinisial BG (68).

Asiong mengaku pernah mengontak DR untuk memberitahukan bahwa aliran listrik di rumah tersebut akan diputuskan karena menunggak pembayaran, dan menurut dia DR menyanggupinya untuk segera menghubungi PLN untuk melunasinya.

Selama puluhan tahun menghuni kompleks, lanjut Asiong, ia tidak pernha menyaksikan keluarga atau kerabat korban mendatangi rumah tersebut namun menurut informasi,kakak RN yang tinggal di Yogyakarta akan datang, Sabtu (12/11).

Keempat jenasah yang sudah berbau menyegat dan mengganggu lingkungan perumahan Citra Garden langsung dilarikan ke RS Polri, Kramat Jati, dan menurut dokter yang mengotopsinya, dua jenasah jenasah (RY dan RN) dalam kondisi kering.

Menurut Kaseksi Humas Polres Metro Jakarta Barat, Kom. Pol. Taufik Ikhsan, selain tidak menemukan tanda-tanda kekerasan,   diduga para korban sudah tidak mendapat asupan minuman dan makanan sekitar tiga minggu, dilihat dari lambung mereka yang kosong dan otot mengecil.

Pembelajaran

Tidak lebai rasanya jika ada orang yang mengiaskan “kehidupan  ibukota lebih kejam dari ibu tiri” karena terkadang masyarakatnya individual, egois atau korban tertutup karena malu misalnya, sampai tidak bisa makan atau mengalami KDRT atau kasus aib lainnya.

Di sini, perlu dikedepankan peran dan tanggungjawab pengurus RT untuk sigap mengendus tanda-tanda ketidakwajaran yang dialami warganya, begitu pula dituntut atensi dan empati dari warga di sekitarnya jika menaruh kecurigaan terhadap perilaku warganya.

Bisa saja di dalam rumah tangga yang serba tertutup dibatasi pagar dan halaman, terjadi KDRT, anak yang diterlantarkan atau lansia jomblo yang memerlukan pertolongan darurat.

Begitu pula, aparat kepolisian (Bhabikantibmas)  dan personil militer (Babinsa) yang ditugaskan lebih proaktif mengamati perilaku atau potensi ancaman terhadap warga di wilayah teritorial penugasannya.

“Jika tidak ada yang betanggung jawab atau semua lepas tangan, korban berikutnya bisa saja berjatuhan lagi, “.

 

 

 

 

 

 

Advertisement