
RUANG publik termasuk jalan-jalan di tengah kota selayaknya merupakan simbul tingkat peradaban suatu bangsa, sehingga harus dijaga keamanan dan kenyamanannya bagi para pengguna.
Hal itu belum terwujud di negeri ini. Sebaliknya, hingar bingar klakson dan salip-menyalip kendaraan mewarnai pemandangan sehari-hari, tambah lagi maraknya aksi-aksi gangster, gang motor, klithih (di Yogyakarta).
Selain untuk mencari jati diri dengan memosting aksi-aksi kekerasan yang mereka lakukan di medsos, tidak jarang, sekaligus juga bermotif ekonomi dengan melakukan perampasan atau pemjambretan harta benda para pelalu-lalang.
Kelompok-kelompok pelaku kriminal semula terdiri dari remaja-remaja satu sekolah, satu kampung atau teman nongkrong, namun kemudian berkembang menjadi kelompok yang anggotanya heterogen, siswa, droppout dan pengangguran.
Aksi-aksi gangster marak terjadi di Kota Pahlawan, Surabaya yang tumbuh menjadi kota nyaman, tertib dan hijau saat di bawah kepemimpinan walikotanya Tri Rismaharini (2010 -2020) dalam beberapa pekan terakhir ini yang sangat meresahkan warganya.
Dalam kejadian teranyar, puluhan remaja berkonvoi sepeda motor dengan membawa senjata tajam menyerang kedai kopi di kawasan Keputih, Surabaya, Jmat dini hari (2/12).
Seperti dituturkan oleh warga setempat (R), kelompok tersebut begitu turun dari sepeda motor mereka, langsung mengacak-acak warung sehingga para pengunjung berhamburan menyelamatkan diri, walau ponsel dan tas sebagian tamu ada yang dirampas.
Warga bersama Karang Taruna setempat langsung mengepung dan mengejar para pelaku tersebut dan akhirnya berhasil menangkap dan menyerahkan 13 remaja pelaku ke Polsek Sukolilo.
Tiada Hari Tanpa Tawuran
Aksi-aksi kekerasan di ruang publik dan jalanan seolah-olah fenomena yang tak teratasi secara tuntas oleh aparat keamanan, agaknya cuma dilakukan bagai pola “pemadam kebakaran”, tidak komprehensif, termasuk pencegahan dan sanksi tegas.
Dari sisi edukasi, mestinya menteri pendidikan dan kebudayaan serta ristek memiliki greget, ikut cawe-cawe, bagaimana mencegah aksi-aksi memalukan tersebut, baik melalui kurikulum pendidikan, maupun pengawasan di sekolah-sekolah.
Peran keluarga tentu juga penting sehingga untuk itu, pembinaan melalui penyuluhan, pemberitahuan atau himbauan di lingkungan hunian, mulai dari lurah beserta jajarannya (RT,RW) perlu secara rutin dilakukan.
Dari sisi pencegahan, jika petugas, mulai dari babhinkantibmas (polisi), binmas (TNI) yang ditempatkan di tingkat kelurahan, reserse Polri da BIN TNI serta institusi teritorial (Koramil, Kodim, Polsek, Polres) lebih aktif menjalankan fungsinya, tentunya aksi-aksi kekerasan, apa pun bentuknya, bisa segera dicegah.
Partisipasi anggota Karang Taruna, Ormas-ormas keagamaan dan Parpol untuk mencegah, melaporkan dan membantu penanganan kekerasan di ruang-ruang publik aau jalanan juga perlu digerakkan.
Ayo segera hentikan, premanisme, gang motor, gangster, klithih atau apa pun namanya yang sangat meresahkan dan merusak citra bangsa dan negara.




