“Jago” Dalam Kampus

Demo mahasiswa Universias Dr Sutomo (Unitomo) Surabaya dalam rangka membentuk Satgas Anti Pelecehan Seksual.

SUDAH lama ada istilah “ayam kampus”, yakni mahasiswi yang “ngompreng” jadi pelacur untuk mencukupi biaya kuliah. Seiring dengan perkembangan jaman dan teknologi, kini ada pula “jago kampus”, yakni oknum dosen yang melecehkan mahasiswinya. Dan ini jumlahnya banyak, dan terjadi di mana-mana baik di PTN maupun PTS. Pendek kata, dari Sorong sampai Banda Aceh berjajar dosen-dosen cabul!

Lelaki “jago kampus” kini sedang ramai di Universitas Gunadarma, Depok. Tapi pelakunya mahasiswa, terhadap mahasiswi di kampus yang sama. Sayangnya, penyelesaiannya bukan secara hukum, tapi secara hakim amatiran. Maksudnya, main hakim sendiri, begitu. Si “jago kampus” –yang ternyata lebih dadi satu– itu diikat di pohon lalu ditelanjangi dan dianiaya. Ada yang menyundutnya dengan rokok bahkan ada pula mahasiswi yang menjagalnya untuk minum air kencing. Ini baru kencing mahasiswi, bagaimana kalau kencing onta?

Sayangnya pelecehan seksual itu berujung lapan anem (damai), sebab para mahasiswi yang jadi korban kejahatan “jago kampus” tersebut mencabut laporannya dari Polres Depok. Begitu juga para mahasiswa yang mempersekusi para “terdakwa” juga tidak diproses. Apakah ini bukti bahwa masyarakat kita cinta damai dan perdamaian?

Tak urung hal ini disayangkan banyak kalangan, termasuk dari Senayan sana. Ketua Komisi X Syaiful Huda menyarankan, mustinya para pelaku pelecehan itu bukan ditelanjangi tapi diberi sanksi sosial. Misalnya apa? Dipaksa ngepel lantai kampus, apa nyapu jalan raya Cimanggis-Depok?

“Pelecehan di kampus dan SMA sudah merupakan gunung es. Di kampus dosen dengan mahasiswi, di SMA guru dengan murid,” kata Syaiful Huda. Dan yang terjadi Gunadarma ini memang sebuah “peningkatan”. Pada Agustus lalu terjadi pelecehan oleh oknum dosen pada mahasiswi. Kini meningkat, mahasiswa ikutan pula jadi “jago kampus” dengan mendel (pukul dan mematuk) mahasiswi.

Benar kata orang Senayan itu, pelecehan seksual di dunia pendidikan memang sudah lama terjadi. Dan “gunung es” itu tak pernah longsor, tapi semakin  kokoh saja. Nggak percaya? Lihat Mbah Google, begitu banyak dosen celamitan pada mahasiswinya. Dari arah timur; di Universitas Victory Sorong (2022), FKIP Unpati Ambon (2019), Unsrat Manado (2022), Universitas Tadulaku Palu (2005), Universitas UHO Kendari (2022), Universitas Hasanudin Makassar (2005).

Meloncat ke Kalimantan; Universitas Mulawarman Samarinda Kaltim (2022), Universitas Palangka Raya Kalteng (2022), Uniska Banjarmasin Kalsel (2022), Universitas Tanjungpura Kalbar (2016), Unej Jember (2021), Unesa Surabaya (2022), Undip Semarang (2019), UGM Yogyakarta (2016), UIN Bandung (2019), UI Depok (2008), UNJ Jakarta (2021). Dan di Sumatra; pelecehan seksual mahasiswi oleh dosennya ada juga di Unsri Palembang (2022), Unri Riau (2021), PTN Padang (2020), PTN Meulaboh Aceh (2022).

Dari banyak kasus pelecehan seksual oleh dosen pada mahasiswinya, kebanyakan terjadi di tahun 2022 ini. Mungkin tahun ini suhu udara di Indonesia terasa lebih dingin di berbagai kampus, sehingga para oknum dosennya berusaha mencari “kehangatan” dengan caranya sendiri. Padahal jika ketahuan, tadinya mau berburu nikmat, kariernya bisa langsung tamat.

Alhamdulillah masih ada sejumlah kampus negeri maupun swasta yang terbebebas dari dosen celamitan. Untuk mengantisipasi, rektorat dan BEM-nya di mana-mana membentuk Satgas pananggulangan pelecehan seksual itu. Tak jelas, bagaimana cara mendeteksi dosen yang suka celamitan itu. Apa dari tutur katanya, atau sikap dan gerak-geriknya.

Yang jelas gunung es pelecehan dosen atas mahasiswa itu belum juga sirna, bahkan mahasiswanya ikut-ikutan pula jadi “jago kampus”. Yang namanya nafsu birahi itu  memang karunia Illahi, tapi harus disalurkan pada tempatnya yang tepat, sehingga menjadi halalan tayiban wa asyikan. Agama telah mengajarkan, bagaimana iman harus lebih kuat daripada “si imin”. Cuma manusia biasa memang tak seteguh iman Nabi Yusuf, disodori wanita secantik Siti Zulaiha jawabnya malah: masa ada rejeki kok ditolak. (Cantrik Metaram)

Advertisement