KEBIJAKAN tarik-ulur terkait penanganan Covid-19 yang dilakukan otoritas kesehatan China mencerminkan betapa sulitnya mencari keseimbangan antara menekan pandemi dan menggerakkan roda-roda ekonomi.
Pada awal-awal pandemi Covid-19, bermula dari Pasar Huanan, Kota Wuhan Prop. Hubei, medio Des. 2019, pemeirntah China langsung memberlakukan total lockdown dengan menutup sejumlah kota.
Ketegasan China menangani pandemi Covid-19 sempat dipuji dunia, termasuk WHO karena hanya beberapa bulan, penyebaran penyakit akibat virus SARS-CoV-2 itu bisa ditekan secara drastis, namun kemudian menuai kecaman karena dianggap terlalu dini.
Saat Itu China berusaha menyetop laju penularan Covid-19 dengan segala cara dan upaya, sehingga selang dua tahun kemudian, saat terjadi lagi lonjakan akibat munculnya varian baru Omicron dan sub-sub variannya, pengetatan prokes diberlakukan lagi.
Melalui kebijakan super ketat disebut Zero Tolerance Covid-19 Policy” 74 kota dengan 317 juta penduduknya ditutup total (lockdown) sejak 20 Agustus 2022.
Penduduk dilarang keluar rumah, sementara pasokan logistik disediakan oleh pemerintah, bahkan jika ada satu saja warga terpapar, seluruh penduduk di sekitarnya dikarantina ke hotel-hotel atau diungsikan di fasilitas karantina.
Akibatnya, penduduk yang sudah jemu mematuhi lockdown dan prokes ketat, resah bahkan mulai muncul aksi-aksi unjuk rasa menentangnya di sejumlah kota, sehingga akhirnya pemrintah mengalah dan melonggarkan lagi prokes.
Di Indonesia PSBB
Sebaliknya di awal-awal pandemi di Indonesia sejak 2 Maret, 2022, terjadi pro kontra antara pemberlakuan lockdown dan karantina terbatas (pembatasan Sosial Berskala Besar – PSBB dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat – PPKM).
Akhirnya, pemerintah memutuskan PPKM dengan berbagai tahapan sesuai dengan perkembangan pandemi setelah sebelumnya dilakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Masalahnya, kebijakan lockdown tidak dipilih, selain karena pemerintah tidak mampu memasok kebutuhan penduduk, juga dicemaskan bakal melumpuhkan kegiatan masyarakat, apalagi 73 juta warga yang bekerja di sektor informal.
Sampai hari ini, pergeseran dari pandemi menuju endemi juga masih belum terjadi,bahkan sempat terjadi lonjakan kasus akibat munculnya varian Omicron dan sejumlah sub-sub variannya.
Pada 16 Dec. tercatat jumlah paparan harian Covdi-19 sebanyak 1.451 kasus, yang meninggal 27 orang dan sembuh 2.806 orang.
Cara “injak dan lepas pedal rem” sesuai perkembangan pandemi agaknya masih harus terus dilakukan untuk mencari keseimbangan antara menjaga dan menekan laju penularan dan menjaga agar roda-roda ekonomi tetap bergerak.





