Asia Timur Kembali Memanas

China vs Taiwan memanas lagi setelah 47 pesawat tempur China mendekati zona identifaksi pertahanan udara Taiwan (25/12) lalu. Di tempat lain, drone drone Korut juga mendekati tapal batas wilayah Korsel (26/12)

MANUVER-manuver militer yang dilakukan para pihak yang berseteru di kawasan Asia Timur yakni China vs Taiwan serta Korea Selatan vs Korea Utara memicu eskalasi konflik di wilayah itu.

AU China dilaporkan melakukan latihan melibatkan 71 pesawat tempur (25/12), 47 diantaranya bahkan menerobos median atau garis tengah imajiner di atas Selat Taiwan dan memasuki zona identifikasi pertahanan Taiwan.

Selain tujuh kapal perang, Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) dilaporkan mengerahkan pesawat-pesawat tempur Sukhoi SU-30 eks-Rusia, J-6 (tiruan MiG-19 eks-Soviet), J-10 dan  J-16 buatan dalam negeri.

Aksi militer China yang dianggap provokatif oleh Taiwan sudah acap kali dilakukan, dan kali ini dipicu oleh pengesahan UU penjualan senjata oleh AS terhadap Taiwan bernilai 12 miliar dollar AS.

Bagi China, unjuk kekuatan dilakukan sebagai peringatan bagi lawan (Taiwan dan AS bersama sekutu-sekutunya) bahwa ia tidak ragu-ragu merebut wilayahnya itu jikaTaiwan mencoba-coba mendeklarasikan kemerdekaannya.

Sementara di Semenanjung Korea, Staf Gabungan Korsel (JSC) menyebutkan, paling tidak ada lima pesawat drone (nirawak) Korut bergerak ke arah Korsel, bahkan satu diantaranya mendekati ibukota, Seoul (26/12).

AU Korsel pun bereaksi dengan mengerahkan sejumlah pesawat tempur termasuk pesawat tempur ringan buatanya KA-1 dan sejumlah helikopter serbu untuk memburu drone-drone Korut.

Walau menurut laporan intelijen Korsel, Korut mengoperasikan sekitar 1.000 drone, sejauh ini provokasi dengan pesawat nirawak tersebut adalah yang pertama kali, karena biasanya dengan uji-uji coba rudal balistik, bom nuklir atau menembakkan artileri ke perbatasan.

Masih Berstatus Perang

Dua negara serumpun, Korsel dan Korut masih berstatus perang sejak Perang Korea (Juni 1950 –  Juli 1953) yang menelan ribuan korban. Korsel didukung AS dan Barat, sedangkan Korut didukung Uni Soviet dan China.

Sementara Taiwan memisahkan diri dari penguasa China daratan pasca Perang Saudara (1927 – 1949)  antara kaum nasionalis Kuomintang dipimpin Ciang Kai-shek dan tentara komunis di bawah Mao Zedong.

Sampai saat ini RRC masih menganggap Taiwan sebagai wilayahnya yang siap untuk direbut kembali, sementara Taiwan terus berupaya untuk mendeklarasikan kemerdekaannya.

Ada 15 negara-negara yang mengakui kedaulatan Taiwan a.l Guatemala, Honduras, Haiti, Paraguai, Nikaragua, Eswatii, Tuvalu, Nauru, Saint Vincent serta beberapa negara di kawasan Pasifik.

Aksi-aksi provokasi kedua belah pihak yang berseteru, baik antara Taiwan dan China daratan atau Korsel dan Korut sejauh ini hanya memicu perang kata atau insiden kecil-kecilan, tidak sampai menjadi perang besar. (AFP/Reuters/ns)

 

 

 

 

 

 

Advertisement