Taiwan – China Memanas Lagi

Pelayaran kapal perusak AS dari kelas Arleigh Burke USS Chung-hoon di Selat Taiwan (5/1)memicu protes dari China.

SELAT Taiwan kembali tegang akibat pelayaran kapal perang Amerika Serikat, Kamis (5/1) sehari setelah inspeksi yang dilakukan oleh Presiden Taiwan Tsai Ing-wen ke salah satu pangkalan AL negaranya.

Di pangkalan Chiayi, Taiwan, Tsai menyaksikan latihan gabungan pasukannya serta Skuadron Taktis ke-4 Angkatan Udara yang bertugas mencegat setiap pelanggaran udara China ke wilayahnya.

“Kita harus terus berusaha memperkuat kemampuan tempur untuk mengamankan kedaulatan dan kepentingan nasional, “ ujar Presiden Taiwan itu.

Untuk menghadapi ancaman invasi raksasa China, Taiwan terus membangun industri militer termasuk pembuatan kapal perang dan alutsista lokal serta memperluas wajib militer bagi warga negara laki-laki dari empat bulan menjadi setahun.

Sebelumnya, AU China dilaporkan melakukan latihan melibatkan 71 pesawat tempur (25/12), 47 diantaranya menerobos median atau garis tengah imajiner di atas Selat Taiwan dan memasuki zona identifikasi pertahanan Taiwan.

Selain tujuh kapal perang, Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) dilaporkan mengerahkan pesawat-pesawat tempur Sukhoi SU-30 eks-Rusia, J-6 (tiruan MiG-19 eks-Soviet), J-10 dan  J-16 buatan dalam negeri.

Sebaliknya, China melontarkan protes atas kapal perusak berpeluru kendali kelas Arleigh Burke USS Chung-Hoon melintas Selat Taiwan, Kamis (5/1) lalu.

Laporan dari Komando Militer Timur Tentara Pembebasa Rakyat China menyebutkan, gerakan kapal As tersebut terus dipantau.

Sementara Jubir Kedubes China di AS, Liu Pengyu dalam pernyataan tertulisnya menyebutkan, negaranya menentang keras aksi AS tersebut dan meminta AS menghentikan tindakan provokasi yang menambah ketegangan di kawasan.

Sebaliknya, Armada VII AS merespons pernyataannya China dengan menyebutkan, Selat Taiwan adalah perairan internasional di luar laut teritorial negara mana pun.

“Pelayaran USS Chung-hoon di Selat Taiwan menunjukkan komitmen AS pada kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka. Militer AS akan berlayar, terbang dan beroperasi kemana saja sepanjang diiizinkan hukum internasional, “ ujarnya.

Selat Taiwan dengan lebar rata-rata 180 Km dan  bagian tersempit 130 Km yang memisahkan daratan China dan Taiwan sering memicu perselisihan antara kedua negara serumpun yang berseteru sejak 1949 saat pasukan nasionalis  pimpinan Ciang Kai-shek mengundurkan diri akibat kekalahannya dari kubu komunis di bawah Mao Zedong.

Letupan-letupan kecil terus terjadi antara Chian dan Taiwan yang didukung AS dan Barat sejauh ini sebatas propaganda dan perang kata tidak sampai  bereskalasi menjadi perang beneran. (Reuters/AP).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement