Harga Beras Masih Tinggi

Harga beras diperkirakan akan tetap tinggi sampai pertengahan Juli 2023 akibat terganggunya rantai pasokan dan harga energi sebagai imbas perang Rusia dan Ukraina.

SEBAGIAN beras impor dari total 500-ribu ton berasal dari Vietnam telah tiba sejak Desember tahun  lalu, namun harganya di pasar lokal masih tinggi dan  diduga sampai medio Juli nanti bakal belum turun.

Selain perubahan iklim, tutupnya pelabuhan di Laut Hitam sebagai dampak perang Rusia dan Ukraina yang berkecamuk sejak 24 Februari 2022 mengakibatkan terganggunya rantai pasok pangan dan naiknya harga energi.

Kepala Koperasi Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) Zulkifly Rasjid (4/1) mengungkapkan, harga beras di awal 2023 masih bertengger di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, sehingga ketersediaannya untuk operasi pasar perlu diperbanyak.

Harga beras kualitas medium di tingkat pedagang masih di atas Rp10-ribu per Kg atau rata-rata Rp11.043 per kg, lebih tinggi dibandingkan harga rata-rata Januari 2022 yakni Rp.9.786 per kg atau bulan sama tahun 2021 Rp9.999 per kg.

Sementara di tingkat konsumen, harga beras medium juga di atas HET yang ditetapkan yakni antara Rp9.450 – Rp10.250 per kg.

Menurut Rasjid, pasokan beras operasi pasar dari Bulog masih tesedia walau stoknya yang dikuasai pedagang jumlahnya hanya  mencukupi sepuluh hari ke depan, sementara beras impor belum masuk.

Perum Bulog terkait produksi beras,  berbeda data dengan Kementerian Pertanian sehingga memutuskan tetap mengimpor beras dengan kuota 200-ribu ton pada 2022 dan 300-ribu ton pada 2023.

Sementara di tingkat konsumen, harga beras medium juga di atas HETyang ditetapkan yakni antara Rp9.450 – Rp10.250 per kg.

Kepala Badan Pangan Nasional (NFA) Arief Prasetyo mengemukakan, tingginya harga beras medium terjadi akibat lebih tingginya konsumsi bulanan ketimbang produksinya.

Konsumsi beras pada Desember dan Januari 2023 masing-masing 2,53 juta ton dan 2,51 jutaton, sedangkan produksinya diperkirakan 1,42 juta ton dan l,31 juta ton.

Laporan FAO

Indeks pangan global 2023 Badan Pangan Dunia (FAO) menyebutkan, harga pangan global diperkirakan masih tetap tinggi sampai Juli 2023 akibat dampak perang Rusia dan Ukraina yang menyebabkan terganggunya rantai pasok pangan dan juga kenaikan harga energi.

Laporan daring  FAO yang dirilis (6/1) menyebutkan, harga pangan seperti daging, susu dan produk turunannya, gandum, biji-bijian, minyak goreng dan gula pada 2022 naik rata-rata 14,3 persen dibandingkan 2021.

Kenaikan harga pangan secara drastis terjadi sejak medio 2022 akibat dampak Perang Rusia dan Ukraina yang memicu krisis energi di Eropa dan krisis pangan di  Afrika serta sejumlah negara Asia terutama karena terhentinya ekspor gandum, pupuk dan minyak bunga matahari dari kedua negara itu akibat jalur kapal di Laut Hitam distop.

Harga pangan di Inggeris dilaporkan naik rata-rata13,3 persen tahun 2022 dibandingkan tahun sebelumnya atau berarti harga termahal sejak 2005 akibat lonjakan harga ternak, pupuk dan energi.

Konsorsium Retail Inggeris (BRC) mengungkapkan, pada peayaan Natal lalu masyarakat bahkan memilah-milah pangan yang akan dihidangkan, dengan mengurangi anggaran pembelian buah-buahan dan sayuran sampai hampir separuhnya (48 persen).

Hal sama terjadi di Kanada dengan kenaikan harga pangan pokok rata-rata 10,3 persen seiring kenaikan biaya pengolahan pangan, biaya distribusi, transportasi dan pergudangan, sedangkan di Jepang, menurut harian Japan Times, sampai Februari 2023 nanti diperkirakan sekitar 11-ribu jenis pangan dan minuman akan naik.

“Ayo siap-siap lagi ketatkan ikat pinggang “ (ns/Reuters).

 

 

 

 

 

Advertisement