Vietnam,  Mampu Bangkit dari Puing-puing Perang

Vo-van-Thuong (52) anggota termuda politbiro Partai Komunis Vietnam terpilih jadi prersiden baru (2/3) . Gebrakan Vietnam yang bangkit dati puing-puing peperangan untuk menggaet investasi asing dan memberantas korupsi perlu ditiru.

PERANG  berkepanjangan, melawan Perancis antara 1946 sampai 1955, dilanjutkan antara 1957 sampai 1975 melawan Amerika Serikat membuat bangsa Vietnam “tahan banting”, bangkit membangun ekonomi.

Majelis Nasional Vietnam,  baru saja memilih Presiden baru, Vo Van Thuong (52), Kamis (2/3) yang akan memimpin negara itu hingga 2026 di tengah perombakan kepemimpinan nasionalnya dan gencar-gencarnya pemberantasan korupsi.

Kisah-kisah heroik perjuangan bangsa Vietnam dipimpin Ho Chin Minh dan Jenderal Vo Nguyen Giap mengusir Perancis pada 1957 lalu diikuti hengkangnya AS pada 1975, kini ditransformasikan untuk membangun ekonomi dan semangat menarik investasi asing.

Thuong terpilih setelah Presiden sebelumnya Nguyen Xuan Phuc  dilengserkan oleh Partai Komunis Vietnam  (PKV) Januari lalu karena dianggap tidak becus mengelola perekonomian negeri dan juga terlibat korupsi.

Thuong, orang dekat Sekjen PKV Nguyen Phu Trong  yang dikenal sebagai arsitek pemberantasan korupsi disebut-sebut sebagai langkah besar tokoh gaek (78) itu  yang kemungkinan bakal mundur sebelum periode jabatan ketiganya pada 2026.

Kampanye anti korupsi yang digemakan oleh PKV menyebabkan puluhan pejabat pemerintah dicokok dan kepemimpinan Phuc dituding bertanggungjawab atas segala penyimpangan yang terjadi saat masa jabatanya sebagai PM (2016 -2021) atau sebelum menjabat presiden.

Setelah dinominasikan oleh PKV sehari sebelumnya (1/3), dalam pemilihan yang dilakukan oleh Majelis Nasional (semacam MPR-red), Thuong yang merupakan anggota politbiro PKV termuda berhasil meraup 487 dari seluruhnya 488 suara.

Truong dalam pidato pertama yang ditayangkan di seluruh TV di negara itu  setelah dilantik berjanji mewujudkan tekadnya untuk melanjutkan perang melawan korupsi, menegakkan konstitusi,  setia pada rakyat dan akan melaksanakan amanah partai.

Sementara perwakilan Lembaga kajian Yayasan Konrad Adenauer Jerman di Vietnam Florian Feyerabend menilai, perang melawan praktek korupsi di negara itu bakal masih berlangsung lama.

Kebangkitan Vietnam dari luka-luka dan puing-puing peperangan hampir sepanjang tiga dekade menjadi negeri destinasi investasi asing utama di kawasan Asia terutama berkat suksesnya membasmi korupsi perlu ditiru! (AFP/Reuters)

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement