Korut Gertak Serang Korsel dan AS

korut terus melakukan uji coba rudal balistik untuk menggertak AS dan Korsel agar tidak macam-macam.

PERSETERUAN antarbangsa serumpun di Semenanjung Korea tak pernah sepi di tengah status perang antara Korea Selatan dan Korea Utara yang masih belum dicabut sejak pecah perang 1950 -1953.

Adik perempuan Presiden Kom Jong Un, Kim Yo Jong yang menjabat berbagai posisi penting di pemerintah geram atas latihan-latihan militer yang digelar AS dan Korsel dan mengancam akan menyerang kedua negara tersebut.

“Korut siap mengambil tindakan tepat, cepat dan luar biasa, kapan saja, “ ujarnya, Selasa (7/3), seraya menambahkan: “Jika ada pihak-pihak yang menembak rudal-rudal strategis yang sedang diuji coba, mereka berarti menantang Korut berperang”.

Korut di tengah kecaman AS dan sejumlah negara Barat, terus menguji coba peluncuran rudal-rudal balistik yang mampu membawa hulu ledak nuklir dan diklaim mampu menjangkau pantai timur AS.

Yo Jong mengemukakan hal itu merespons manuver-manuver pesawat tempur AS dan Korsel dan latihan pertahanan udara yang acap digelar keduanya untuk menghadapi kemungkinan serangan rudal Korut.

Selain kehadiran sekitar 28.500 kontingen tentaranya, AS juga memasok Korsel dengan berbagai alutsista canggih seperti sistem rudal pertahanan udara Patriot dan Aegis serta yang terbaru Terminal High Altitude Area Defence (THAAD) yang konon bisa menangkal serangan rudal balistik yang melintas di ufuk tinggi.

Yo Jong menyebutkan, Lautan Pasifik yang dijadikan lokasi latgab militer oleh AS bersama “bonekanya”, Korsel atau Jepang bukanlah milik mereka, sehingga pihaknya selalu mengawasinya dan bersiaga melakukan aksi yang cepat, cepat dan luar biasa.

Beberapa saat setelah Yo Jong mengeluarkan pernyataan, unit-unit hanud pasukan Rakyat Korut (KPA) melaporkan telah mendeteksi 30 kali tembakan di lokasi latihan pasukan Korsel dekat perbatasan yang dianggap sebagai aksi provokasi sangat serius yang harus dihentikan.

Sebaliknya, pimpinan Staf Gabungan AS dan Korsel menampik klaim Korut tersebut dan menyebutnya sebagai pernyataan absurd, mengingat tak satu butir peluru pun ditembakkan.

Sementara Kemlu Korut juga menuding AS telah memperburuk situasi dengan menggelar latihan udara melibatkan pesawat pengebom B-52 dan pesawat-pesawat tempur F-16 AU Korsel (6/3).

Pihak Korsel menilai, latihan yang digelar bersama AS yang digelar memang sebagai unjuk kekuatan merespons  ancaman serangan nuklir Korut.

Pengerahan pengebom lawas B-52 Stratofortress (buatan AS 1950-an) yang mampu mengangkut hulu ledak nuklir dan B-1B Lancer yang lebih baru merupakan perkembangan baru dalam rangkaian latgab militer AS dan Korsel.

Sejauh ini gertakan yang dilakukan Korut atau Korsel agaknya tidak berlanjut pada konflik yang lebih serius, hanya sebatas untuk meramaikan pemberitaan di  kawasan agar tidak sepi. (Reuters/AP).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement