BANJARAN DURNA (48)

Sambil menggendong Srikandi, Supeli bertempur melawan Harjuna. Tentu saja kedodoran.

SEKELUAR dari warung kopi, Begawan Durna melihat sejumlah anak SMA jalan tergesa-gesa sambil menenteng tas sekolahnya. Ditanya kenapa ke sekolah pagi benar, jawab mereka: mestinya masuk pukul 05:00 pagi niru pelajar SMA di NTT. Kata mereka Prabu Drupada latah, niru-niru Gubernur Viktor Laiskodat. Mau protes takut dicelup dalam air kayak kain dinaptol item.

Sesuai petunjuk Dewi Wilutama dan hati nurani sendiri, Begawan Durna bertekad bulat hendak mundur dari sayembara revitalisasi Taman Maerakaca. Karenanya tawaran sejumlah sponsor untuk membantu proyek terpaksa ditolaknya. Misalnya pabrik AC Sadikin yang ngakunya sudah disertifikasi halal MUI, juga cat tembok Hersubeno Paint yang mutunya pas-pasan karena gampang ngelotok.

“Kejar, tangkap! Gebuki rame-rame….!” Begitu terdengar kemudian orang berteriak tiba-tiba.

“Ngetan, ngetan, cegat jangan sampai lolos!” teriak yang lain ditingkah suara pating gedebug gerakan orang berlari.

Tampak kemudian oleh Begawan Durna, seorang lelaki muda mondong (gendong) putri sambil berlari. Di belakangnya tampak juga seorang lelaki mengejarnya dengan membawa pentungan, sepertinya potongan bambu. Pendita Sokalima ini mendadak kaget, sebab dia kenal betul pada perempuan yang dibawa lari, termasuk juga lelaki yang tengah mengejarnya.

“Sepertinya itu yang digendong Wara Srikandi, sedangkan yang mengejarnya Harjuna. Apakah ini berkaitan dengan breaking news di TV tadi?” batin Begawan Durna.

“Benar, itu memang Srikandi. Ikut nangkep ah, siapa tahu gua yang dapat.” Batin Begawan Durna lagi, sambil melangkah mau ikut-ikutan mengejar.

Tapi hati nurani kembali mengingatkan, ingatlah komitmen dengan Dewi Wilutama semalam. Masak sudah lupa? Oh, iya dhing! Buru-buru menarik kembali keinginannya. Pagi ini pukul 08:00 dia harus lapor ke panitia sayembara, mau mengundurkan diri dari sayembara revitalisasi Taman Maerakaca. Begawan Durna pun balik bakul, berhenti mengejar pencuri Wara Srikandi.

Yang dipondong lelaki tak dikenal itu memang Wara Srikandi, sementara pengejarnya Harjuna. Adapun lelaki yang dikejar-kejar itu adalah Supeli ksatria muda dari Cedi. Rupanya ajian Sirep Begananda tak mempan atas Harjuna, karena dia memiliki minyak berkhasiat Lenga Jayengkaton. Minyak yang baunya tak nyegrak seperti parfum kalangan ustadz, punya kasiat lain. Bukan saja mampu melihat lelembut (makhluk halus), tapi juga bikin kebal terhadap serangan black magic.

“Kamu memang wayang licik. Nggak mau ikut sayembara, tapi malah nyolong pialanya.” Omel Harjuna pada Supeli yang tak juga melepas Wara Srikandi dari gendongannya.

“Halah, repot amat. Nyolong kan tak pakai syarat tetek bengek, tak perlu bayar uang pendaftaran, tak perlu isi formulir ini itu. Dengan nyolong, begitu berhasil bisa langsung digituin, eh maksudnya dinikahi…..” jawab Supeli sambil tersipu-sipu malu.

Menghindari pertumpahan darah di negeri orang, Harjuna minta agar Wara Srikandi diserahkan kepadanya, untuk dihaturkan kembali pada Prabu Drupada. Tetapi jika menolak, resikonya Supeli bakal pulang tinggal nama. Apakah tidak malu, mati di negeri orang hanya karena nyolong perempuan.

Ternyata pencuri dari Cedi ini sudah punya rencana besar. Bila berhasil membawa lari Wara Srikandi, dia takkan kembali ke Cedi. Milih daftar jadi tenaga kerja asing di Qatar. Oleh karena itu Supeli  menolak saran  Harjuna. Bagi dia lebih baik pulang tinggal nama, ketimbang gagal mempersunting Wara Srikandi dengan cara murah meriah tak peduli melanggar syariah.

“Ente sudah siap resikonya? Tangan kiri masuk RSCM, kena tangan kanan langsung masuk TPU Tanah Kusir.” Ancam Harjuna.

“Jangankan Tanah Kusir, saya masuk Tanah Merah juga mau kok, biar dapat kapling dari Wapres Makruf Amin dan Mentri Erick Tohir.” Jawab Supeli, rupanya juga

mengikuti kemelut depo BBM Plumpang.

Lantaran Supeli tak bisa diajak berdamai demi kemaslahatan umat, terpaksa Harjuna bertindak keras. Maling aguna (pencuri) dari negeri Cedi inipun diserangnya. Mereka berantem seru sekali, bagaikan petinju Daniel Dubois melawan Oleksander Usyk. Meski Supeli menang gede ketimbang Harjuna, tapi karena bertempur sambil membopong Srikandi, pada akhirnya dia KO dan wasalam kena keris Pulang Pergi milik Harjuna.

Ketika Supeli ambruk dan Wara Srikandi terlepas dari cengkeramannya, putrid Pancala itu langsung lari dan merangkul Harjuna, sebagai pertanda terima kasih telah diselamatkannya. Jika tidak, Srikandi pasti dibawa lari ke negeri seberang. Mending jika diambil istri beneran, jika hanya dijadikan PRT, apa kata dunia?

“Terima kasih kangmas Harjuna, Anda telah menyelamatkanku.” Kata Wara Srikandi.

“Nggak usah berterima kasih, diajeng. Sudah sewajarnya kaum lelaki menolong siapa saja yang dalam bahaya.” Kata Harjuna dengan jantung deg-deg plas karena Srikandi menyembunyikan wajahnya di dada Harjuna yang ngliga tanpa baju.

                                                                                                 (Ki Guna Watoncarita)

 

 

 

Advertisement