Buka Usaha Otak-otak Jamur Tiram, Ibu Mujiatun Ingin Anak Yatim Binaannya Tak Selalu Andalkan Donasi

BATAM – Ibu Mujiatun, penerima manfaat program Berdikari (Pemberdayaan dan Pendampingan Keluarga Mandiri) Budi Daya Jamur Tiram Dompet Dhuafa mencoba mengolah jamur hasil panennya menjadi otak-otak.

Dibalik usahanya tersebut, Ibu Mujiatun memiliki keinginan agar 20 anak yatim yang ia bina tidak melulu mengandalkan bantuan donasi dari orang, melainkan keluarga mereka harus mampu berdaya secara mandiri. Nah, salah satu caranya adalah dengan memberdayakan ibu-ibunya untuk memiliki penghasilan sendiri.

Hal tersebut dilakukan beberapa minggu setelah program Berdikari (Pemberdayaan dan Pendampingan Keluarga Mandiri) Budi Daya Jamur Tiram mulai bergulir pada 19 Februari 2023. Saat itu, harga satuan otak-otak jamur dipatok dengan harga Rp3.000 (tiga ribu rupiah).

Saat pertama kali diperkenalkan, produk ini belum mendapat respons positif dari target pasar. Hampir semua orang tak percaya akan ada yang membeli otak-otak dengan harga tersebut. Bahkan, dari pihak anggota sendiri ada yang pesimis.

Namun dengan kualitas yang diracik oleh Ibu Mujiatun, salah satu penerima manfaat,  ia yakin bahwa nanti akan ada yang berminat dan makin hari makin luas jangkauan pasarnya.

Ibu Mujiatun mengaku setiap harinya selalu saja ada pesanan. Bahkan, kini setiap penerima manfaat dapat mengolah jamurnya sendiri di rumah masing-masing. Namun untuk bumbu adonannya, Ibu Mujiatun lah yang menyediakan. Hal ini yang kemudian menjadikan semua produksi otak-otak jamur rasanya sama.

Saat ditemui Tim Dompet Dhuafa, ia sedang menyiapkan pesanan sebanyak 1.500 pcs. Kini, ia juga sedang melakukan percobaan-percobaan turunan olahan jamur lainnya. Di antaranya seperti rendang jamur, jamur krispi hingga pizza jamur.

Manager Program Dompet Dhuafa Kepri, Muhammad Izzuddin Al Hafidz mengatakan, program ini berdampak kepada multi sektor. Di antaranya yaitu pada sektor kesehatan untuk membantu menurunkan angka stunting. Pada sektor ekonomi untuk meningkatkan penghasilan keluarag penerima manfaat. Pada sektor lingkungan, sebab media tanam jamur ini adalah serbuk-serbuk kayu limbah palet.

Pada awal pelaksanaan program, setiap penerima manfaat dimodali dengan 10 log jamur beserta bahan-bahan pendukungnya. Setelahnya, setiap mereka mampu melakukan panen sebanyak 6-8 ons jamur. Setiap satu log memiliki jarak panen setiap 2 minggu.

 

Advertisement