
KONFLIK bersenjata di Sudan antara pasukan rezim pemerintah dan milisi Satuan Dukungan Cepat (RSF) sejak 5 April lalu, terus berlangsung dan korbannya selain kedua kubu, juga warga sipil terutama anak-anak balita.
Badan PBB untuk Anak (Unicef) melaporkan (8/6) telah menyelamatkan 300 anak penghuni panti asuhan di ibukota Sudan, Khartoum ke wilayah yang lebih aman setelah 71 anak termasuk bayi di panti asuhan tersebut meninggal sejak 15 April lalu.
Korban umumnya meninggal di antaranya bayi berusia tiga bulan akibat kelaparan, kurang gizi atau mengalami dehidrasi, sementara menurut pimpinan sebuah LSM Hadhreen, Nazim SIrag, pada mei lalu saja ada 26 anak yang meninggal dalam waktu dua hari.
“Sejumlah anak sudah dievakuasi, sebagian dalam kondisi sakit yang kami pastikan, mereka mendapatkan layanan kesehatan, “ kata Jubir Unicef, Ricardo Pires.
Bekerjasama dengan kemensos Sudan, Unicef memastikan setiap anak mendapatkan layanan medis, makanan, pakaian dan mainan serta program pendidikan bagi yang sudah berusia sekolah.
Menurut dia, ke-300 anak yang dievakuasi, diangkut dengan konvoi kendaraan ke kota Madani, 135 Km di tenggara Khartoum yang relatif aman dari bentrokan bersenjata kedua kubu.
Sementara staf Palang Merah Internasional (ICRC) Alyona Syenenko dari Nairobi, Kenya mengungkapkan, evakuasi anak-anak penghuni panti tersebut juga cukup rumit karena harus meminta izin dari kedua pihak yang bertikai.
“Kami harus yakin, ada jaminan keamanan bagi anak-anak tersebut dari kedua kubu, “ ujarnya.
Konflik yang diselang-selingi gencatan senjata berulang yang terus dianggar terjadi di seputar kota Khartoum antara satuan rezim pemerintah pimpinan Jenderal Mohammed Hamdan Dagalo dan milisi RSF pimpinan Abdul Fattah Burhan.
Saat ini pertempuran berkecamuk untuk memperebutkan Gudang senjata dan BBM Yarmouk di selatan Khartoum. Satuan RSF yang sudah mendekati kompleks Yarmouk, Rabu lalu, dipukul mundur setelah satuan pemerintah melancarkan serangan udara.
Sekitar 900 orang tewas, lebih 5.000 terluka dan ratusan ribu warga sipil mengungsi ke wilayah dan negara sekitarnya karena selain ancaman kematian akibat terkena peluru nyasar, kehidupan juga makin sulit.
Warga yang masih bertahan di Khartoum hidup tanpa aliran listrik, pasokan air bersih, sementara toko-toko sembako tutup karena jika dibuka dijarah oleh orang-orang bersenjata atau penduduk yang kelaparan.
Kedua jenderal berebut kekuasaan, rakyat yang menjadi korbannya (AP/Reuters/ns).




