JAKARTA – Wakil Sekretaris Jenderal Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) Jakarta, dr. Winnugroho Wiratman, Sp.S, Ph.D., berbagi informasi tentang gejala neuropati, yaitu kerusakan pada saraf, serta memberikan tips untuk mengatasinya.
Winnugroho menjelaskan bahwa neuropati adalah kondisi ketika jaringan saraf mengalami gangguan atau kerusakan, yang ditandai dengan gejala seperti kebas, kesemutan, sensasi terbakar, atau rasa ditusuk jarum.
Winnugroho mengungkapkan bahwa gejala yang paling parah dari neuropati adalah kelumpuhan, yang dapat terjadi jika kerusakan saraf berlangsung dalam waktu yang lama.
“Kelumpuhan bisa terjadi jika kondisi ini berlangsung dalam waktu yang lama, dan itulah yang paling serius,” katanya dilansir dari Antara, Senin (12/6/2023).
Winnugroho menegaskan, jika tidak dideteksi sejak dini, neuropati dapat menyebabkan gangguan pada fungsi otonom tubuh, seperti gangguan irama jantung atau keringat berlebihan.
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan kerusakan saraf yang mengarah pada neuropati antara lain adalah luka eksternal, peradangan, trauma pascaoperasi, merokok, diabetes, konsumsi minuman beralkohol, kemoterapi, kekurangan nutrisi/vitamin, faktor genetik, dan terjepitnya saraf karena penggunaan gadget atau sering berkendara.
Winnugroho juga memberikan beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah neuropati, seperti mengontrol dan mengelola penyakit kronis dengan baik, mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga secara teratur, serta menghindari rokok dan minuman beralkohol.
Jika gejala seperti kesemutan, kebas, dan nyeri pada saraf muncul secara tiba-tiba, berlangsung dalam waktu yang lama, dan semakin parah, Winnugroho menganjurkan untuk segera memeriksakan diri dan berobat ke dokter.
Winnugroho menjelaskan pentingnya asupan vitamin B neurotropik, termasuk vitamin B1, B6, dan B12, untuk kesehatan saraf dan kemampuannya dalam mengurangi gejala neuropati hingga 62,9 persen dalam waktu tiga bulan.
“Dengan pemberian vitamin B1, B6, dan B12, gejala neuropati yang kami nilai menggunakan skor gejala total ternyata menurun hingga 62,9 persen selama tiga bulan penggunaan,” ujarnya.
Vitamin B1, B6, dan B12 memiliki peran masing-masing dalam proses pemulihan saraf. Vitamin B1 berperan dalam mempercepat proses pembentukan energi, vitamin, dan DNA yang diperlukan dalam regenerasi jaringan sel saraf.
Vitamin B6 berfungsi membantu penghantaran sinyal saraf. Vitamin B6 membantu dalam produksi neurotransmitter yang berperan dalam mengirimkan sinyal dari satu sel saraf ke sel saraf lainnya.
Sementara itu, vitamin B12 membantu dalam regenerasi selubung mielin, yang merupakan pelindung akson pada saraf dan bisa diibaratkan seperti lapisan karet yang melindungi kabel listrik. Regenerasi selubung mielin sangat penting dalam proses awal pemulihan saraf yang rusak.
Winnugroho mengingatkan untuk mewaspadai gejala neuropati dan segera memeriksakan diri ke dokter jika gejala neuropati terus muncul selama lebih dari tiga minggu.
“Harap berhati-hati jika mengalami gejala neuropati dan segera mencari pertolongan medis (dokter) jika gejala tersebut berat, terus-menerus, dan berlangsung lebih dari tiga minggu,” tuturnya.





