
SEBAGAIMANA gajah Antisura, gajah Kyai Hestitama juga bisa tatajalma (bicara) seperti manusia. Cuma dia jarang ngomong, karena ketiadaan mitra dialog. Tapi dari pembicaraan srati yang sering dia dengar, jadi tahulah bahwa Perang Baratayuda sedang berkecamuk. Tapi dari dialog srati lewat HP, gajah Hestitama jadi tahu bahwa Ngastina berpotensi kalah. Bagaimana nasib dirinya tanpa majikan? “Terpaksa gue cari kerja di tukang sirkus, nih……” gumam Kyai Hestitama.
Di kala Hestitama masih melamun membayangkan nasibnya ke depan, datanglah Haryo Setyaki dengan membawa tongkat pendek, tapi lebih gede. Panjangnya sekitar 60 Cm, kalau paralon kira-kira ukuran 1,5 inc, warnanya kekuning-kuningan seperti emas. Dialah pusaka andalan Garbaruci namanya Gada Wesikuning yang konon merupakan hibah tanpa akte dari Minakjingga raja Blambangan jaman Majapahit. Memang musuh utama Damarwulan ini banyak meninggalkan warisan. Selain gada nan sakti, juga pabrik rokok kretek Minakjingga di Kudus.
“He, gajah Kyai Hestitama. Saya to the point saja ya, kedatanganku ke sini atas nama negara ingin mengambil nyawamu, demi tumbal kejayaan Pendawa dalam Perang Baratayuda.” Ujar Setyaki tidak mau panjang lebar, persis gaya Gibran Walikota Solo.
“Apa? Ambil nyawaku, berarti sampeyan mau membunuhku? Bajingan tolol kau…..!” jawab Kyai Hestitama kasar sekali, jadi ikut-ikutan seperti Rocky Gerung.
Rocky dungu pada presiden saja berani memaki demikian, apa lagi Hestitama cuma dengan Haryo Setyaki mentri pertahanannya raja Dwarawati. Bahwa dia sakti memang iya, tapi lawan Burisrawa saja hampir mati dipithing. Karenanya Hestitama kurang respek pada Haryo Setyaki. Dia memang sedikit ngomong, tapi juga sedikit prestasi. Disuruh ngurus lumbung padi nasional di Dwarawati saja gagal, eh malah mau beli meriam bekas yang harganya miliaran.
“Jadi kamu nggak mau korbankan nyawamu demi kepentingan nasional Pendawa?” ujar Setyaki minta ketegasan.
“Ya enggaklah! Lagian saya kan gajah kubu Ngastina, ngapain harus nyebrang dan berkorban demi negara lain. Saya bukan Abu Janda, bukan pula Noel Ebenezer.” Jawab Hestitama telak.
Tak ada waktu untuk bicara panjang lebar dalam masa genting dan kritis. Maka tanpa ampun lagi, gada Wesi Kuning milik Haryo Setyaki langsung dihantamkan ke kepala gajah Hestitama. Sekali pukul hanya sempoyongan, lalu hendak membalas dengan serudukannya. Setyaki berkelit, dan kembali pukulan gada kedua kalinya mengenai kepala Hestitama, sehingga jidatnya mencono (benjol) segede bakpao isi daging. Hestitama pun ambruk dan kejet-kejet (sakratul maut).
“Wahai Setyaki, kau memang bajingan tolol…!” umpatan terakhir Kyai Hestitama.
“Kau juga dungu kayak Rocky Gerung. Sok ngaku teman Samba segala, halah…..” jawab Setyaki sambil memukulkan gada Wesikuning ke kepala Hestitama.
Lesss……gajah Hestitama wasalam. Setyaki lalu ambil HP, memotret demi bukti keberhasilannya pada rapat Randu Watangan nanti. Bangke gajah itu ditinggalkan begitu saja dan Haryo Setyaki kembali ke pesanggrahan dengan berlari kencang sekali laksana KA Cepat Jakarta-Bandung. Ironisnya, ketika hendak start masih sempat-sempatnya menoleh ke belakang hanya untuk mengumpat. “Salam bajingan tolol, si gajah dungu!”
Memasuki pesanggrahan Randu Watangan Haryo Setyaki dengan muka tegak, sementara tangan kiri pegang HP android. Para peserta sidang terutama Prabu Kresna dan Puntadewa memperhatikan ulah sapu kawat Dwarawati tersebut. Kok cepet amat. Baru 2 jam lalu pergi tanpa pamit, kini sudah kembali sambil senyum-senyum, macam politisi nyaleg dan berhasil lolos masuk Senayan. Maklum, beberapa bulan jadi wakil rakyat sudah BEP alias balik modal.
“Bagaimana dimas Setyaki, berhasilkah kau bunuh gajah Hestitama, mana kepalanya?” ujar Prabu Kresna paling dulu menyapa.
“Bawa barang bukti kepala, kuno itu kaka Prabu. Lihat foto ini nih….” jawab Harya Setyaki sambil menunjukkan video hasil rekamannya satu jam lalu.
Prabu Kresna melihatnya dengan takjub, begitu pula dengan Prabu Puntadewa. Para peserta sidang lainnya tentu saja jadi penasaran. Mereka baru bisa menonton dengan jelas ketika sudah ditransver ke komputer dan dilihat pakai monitor gede full HD 27 inc. Ternyata kepala gajah itu sampai retak. Semua hadirin tepuk tangan sambil menyeru: Setyaki memang oye!
Prabu Kresna lalu memerintahkan kepada para relawan Pendawa agar berita kematian gajah Hestitama itu difiralkan lewat Youtube tapi setelah diedit. Yang diberitakan bukan kematian gajah Hestitama, melainkan Aswatama putra begawan Durna. Maka foto yang ditampilkan bukan foto Kyai Hestitama, melainkan Aswatama pangeran Sokalima.
“Kaka Prabu Kresna, kok dibolak-balik begini datanya. Itu kan jadi hoaks, kita bisa kena UU ITE. Apa maksudnya, nggak dhong (paham) dan bingung saya.” Protes Puntadewa disusul oleh ucapan Werkudara yang hanya mendesis pertanda marah.
“Tenang, tenang. Ini sekedar siasat untuk menggapai kemenangan. Jika nggak paham, lebih baik kalian diem. Tahunya nanti mateng bagehi (dibagi).” Jawab Prabu Kresna penuh wibawa. (Ki Guna Watoncarita)


