Sejarah Upacara Peringatan HUT Kemerdekaan di Istana Merdeka

Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) bersiap mengibarkan Bendera Merah Putih saat Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi 1945 di Istana Merdeka. (Foto: ANTARA/Akbar Nugroho Gumay)

JAKARTA – Setiap 17 Agustus, rakyat Indonesia merayakan momen bersejarah untuk memperingati kemerdekaan dari masa penjajahan selama 350 tahun. Salah satu acara yang selalu dinantikan adalah upacara peringatan detik-detik proklamasi yang diadakan di Istana Merdeka Jakarta, yang dipimpin oleh kepala negara dan dihadiri oleh tokoh-tokoh nasional, mantan presiden dan wakil presiden, serta para pahlawan kemerdekaan.

Tenda-tenda putih besar didirikan di tiga sisi halaman istana yang berumur 150 tahun, dikelilingi oleh pohon-pohon rindang dan air mancur, untuk menampung undangan, masyarakat umum, dan peserta acara.

Hanya di kompleks Istana Merdeka yang berdiri megah di Jl Medan Merdeka Utara inilah, setiap tahun kita mendengarkan pembacaan naskah Proklamasi oleh kepala negara, diikuti dengan pengibaran bendera nasional setinggi 17 meter di pagi hari dan penurunannya di petang hari.

Tak ketinggalan, Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) yang terdiri dari pemuda-pemuda terpilih dari 38 provinsi, menampilkan kedisiplinan tinggi dan keahlian dalam baris-berbaris. Kesalahan sekecil apa pun tidak diizinkan.

Upacara di kompleks Istana Merdeka, karya arsitektur buatan Hindia Belanda oleh Jacobus Bartholomeus Drossares, selalu menampilkan gemerlapnya pasukan TNI/Polri yang berpartisipasi, serta pertunjukan seni nasional yang menarik.

Ribuan pelajar dari SMP dan SMA, dalam aubade, menyanyikan lagu-lagu nasional sebagai bagian dari peringatan tersebut. Sekolah-sekolah yang diundang biasanya berada dekat dengan lokasi Istana Merdeka.

Namun, sedikit yang mengetahui bahwa Istana Merdeka pertama kali digunakan sebagai lokasi peringatan detik-detik proklamasi. Banyak yang lebih mengenal rumah pribadi Proklamator Soekarno di Jl Pegangsaan Timur nomor 56, sekitar 6 kilometer dari Istana Merdeka, sebagai tempat proklamasi pertama kali diumumkan pada 17 Agustus 1945.

Dalam penjelasan yang dikutip dari website Kementerian Sekretariat Negara, upacara perayaan kemerdekaan Indonesia pertama kali diadakan di Istana dengan luas 2.400 meter persegi pada 17 Agustus 1950.

Peristiwa tersebut bersamaan dengan kembalinya Soekarno dari pengasingannya di Pulau Bangka pada awal 1950 setelah Konferensi Meja Bundar pada Desember 1949, yang menandai pengakuan kemerdekaan Indonesia oleh Belanda.

Sebelumnya, Belanda melakukan Agresi Militer I dalam upaya merebut kembali kemerdekaan Indonesia. Soekarno, seperti yang diceritakannya kepada Cindy Adams dalam buku “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia,” menginjakkan kaki pertamanya di Paleis te Koningsplein pada 7 Juli 1950.

Masyarakat saat itu lebih mengenal istana tersebut sebagai Istana Gambir karena banyaknya pohon gambir (Uncaria) di sekitarnya. Di samping memerintahkan pemasangan tiang bendera setinggi 17 meter untuk mengibarkan bendera merah putih yang telah dijahit ulang oleh Husein Mutahar.

Awalnya, bendera yang dijahit oleh Fatmawati harus dipisahkan warnanya saat terjadi serangan dari Belanda dalam Agresi Militer I. Dalam buku “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia,” halaman 389 cetakan keempat, dijelaskan bahwa bendera tersebut sebagai simbol negara harus diselamatkan untuk kemudian dikibarkan kembali pada waktu yang tepat.

Maka, Soekarno memerintahkan Husein Mutahar, yang juga menjadi ajudannya, untuk menyelamatkan bendera pusaka tersebut dan meletakkannya di dalam peti besi. Sebelum berangkat ke Yogyakarta, Soekarno meminta pencipta lagu “Syukur” untuk menyerahkan kembali bendera tersebut kepada dirinya di lain kesempatan.

Pencipta lagu “Hari Merdeka” ini menunjukkan kecerdikannya. Untuk menyelamatkan bendera merah putih dari tangan tentara Belanda, Mayor Laut Mutahar membuka jahitan bendera yang dihasilkan oleh Fatmawati.

Lembaran kain putih dia sembunyikan di bawah baju, sementara kain merah dia simpan dalam tas pakaian. Setelah kondisi aman, Mutahar, yang lahir di Semarang pada 5 Agustus 1916, menjahit kembali lembaran kain merah dan putih menjadi bendera pusaka di lubang jahitan aslinya.

Pada bulan Juni 1948, saat Soekarno berada dalam pengasingan di Pulau Bangka, dia meminta ajudannya, R Soedjono, untuk mengirimkan bendera pusaka tersebut padanya. R Soedjono kemudian membungkus bendera tersebut dengan koran dan mengirimkannya kepada Soekarno.

Bendera itu akhirnya dikibarkan untuk pertama kalinya pada tanggal 17 Agustus 1950 di Istana Merdeka, yang merupakan nama baru yang dipilih oleh Soekarno menggantikan Istana Gambir. Nasib serupa juga dialami oleh Istana Rijswijk yang berada di belakang Istana Merdeka dan oleh Sang Proklamator diberi nama baru, yaitu Istana Negara.

Ketika Soekarno pertama kali memasuki Istana Merdeka, dia menemukan keadaannya dalam keadaan berantakan. Hal tersebut terjadi setelah penghuni terakhirnya, Louis Joseph Maria Beel, yang menjabat sebagai Komisaris Tinggi Pemerintah Kerajaan Belanda di Indonesia, meninggalkan istana tersebut.

Beel, yang juga menjabat sebagai Perdana Menteri Belanda pada masa 1946-1948, menjabat sebagai Komisaris Tinggi mulai 29 Oktober 1948 hingga 18 Mei 1949, menggantikan peran Hubertus Johannes van Mook yang merupakan Gubernur Jenderal terakhir Hindia Belanda. Van Mook meninggalkan Istana Gambir pada tanggal 1 November 1948 setelah memimpin Hindia Belanda sejak 14 September 1941.

Upacara pengibaran bendera pusaka di Istana Merdeka pada 17 Agustus 1950 merupakan yang ketiga kalinya setelah yang pertama di Pegangsaan Timur pada 1945 dan yang kedua pada 17 Agustus 1946 di halaman Gedung Agung, Yogyakarta.

Hal tersebut terjadi karena meskipun telah merdeka, situasi di Jakarta masih belum aman untuk mengadakan upacara pada 17 Agustus, sehingga Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai pemimpin Indonesia pindah ke Kota Gudeg dan menggunakan Gedung Agung yang dibangun pada 1869 sebagai istana kepresidenan.

Saksi Tujuh Presiden

Dalam perjalanannya, Istana Merdeka telah menjadi saksi diam selama puluhan tahun dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan bangsa Indonesia. Bangunan bergaya Palladian, yang mengadopsi arsitektur Eropa abad ke-17, menjadi salah satu tempat bersejarah yang mencatat perjalanan bangsa selama masa kemerdekaan.

Tujuh presiden telah mengalami pengalaman penting di Istana Merdeka, termasuk berperan sebagai inspektur dalam upacara peringatan kemerdekaan. Peringatan Hari Kemerdekaan ke-22 pada 17 Agustus 1967 menandai pergantian kepemimpinan dari Bung Karno kepada Soeharto.

Pada peringatan setahun berikutnya, yaitu 17 Agustus 1968, keputusan diambil untuk tidak lagi mengibarkan bendera pusaka agar nilai sejarahnya tetap terjaga. Sebagai gantinya, bendera pusaka itu direproduksi menggunakan sutra. Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1997 menjadi peristiwa terakhir Soeharto memimpin upacara.

Setahun setelahnya, Presiden BJ Habibie menjadi inspektur dalam upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-53 Indonesia di Istana Merdeka. Habibie mengambil peran ini dua kali dalam peringatan Detik-detik Proklamasi.

Ketika Indonesia merayakan HUT ke-55 pada 17 Agustus 2000, kepemimpinan telah berpindah tangan kepada Presiden Abdurrahman Wahid. Seiring berjalannya waktu, Megawati menjadi Presiden Kelima RI yang memimpin upacara pada HUT ke-56 Indonesia, 17 Agustus 2001.

Megawati, sebagai Kepala Negara, telah empat kali memimpin upacara pengibaran dan penurunan bendera di Istana Merdeka. Selanjutnya, Presiden Keenam Susilo Bambang Yudhoyono memimpin upacara sebagai Kepala Negara saat HUT ke-60 RI pada 17 Agustus 2005, dan Presiden Ketujuh Joko Widodo memimpin sejak HUT ke-70 RI pada 17 Agustus 2015.

Pindah Lokasi

Tetapi, terdapat masa vakum di mana Istana Merdeka tidak menggelar upacara peringatan 17 Agustus. Kejadian ini terjadi pada peringatan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1963. Pada saat itu, Presiden Soekarno memutuskan untuk memindahkan lokasi upacara dari Istana Merdeka ke Stadion Gelora Bung Karno.

Alasannya adalah untuk memperkenalkan stadion yang dirancang oleh arsitek Indonesia, Friedrich Silaban, dan dibangun dengan bantuan insinyur-insinyur dari Uni Soviet kepada dunia.

Saat pandemi virus Corona menyebar ke seluruh dunia dan berdampak di Indonesia, situasi menarik juga dirasakan di Istana Merdeka. Untuk pertama kalinya, seluruh peserta upacara saat peringatan 17 Agustus 2020 diwajibkan memakai masker. Partisipasi peserta upacara sangat dibatasi guna mencegah penularan virus.

Jumlah peserta terbatas hanya 67 orang, terdiri dari tiga anggota Paskibraka, 20 anggota TNI/Polri sebagai pasukan upacara, 24 anggota Korps Musik TNI, dan 17 anggota pasukan pelaksana tembakan kehormatan detik-detik proklamasi kemerdekaan.

Kementerian Sekretariat Negara pada saat itu tidak mengundang pejabat dan masyarakat dalam jumlah banyak. Bahkan, selain petugas upacara, hanya Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Ma’ruf Amin, Ketua MPR Bambang Soesatyo, Menteri Agama, Panglima TNI, dan Kapolri yang hadir.

Semua yang hadir juga diharuskan menjaga jarak, dan suasana upacara menjadi sangat tenang, berbeda dari biasanya meskipun tetap sakral.

Pada 2023, untuk kali ke-72, Istana Merdeka menjadi saksi diam dalam peringatan detik-detik proklamasi. Acara ini merayakan HUT ke-78 RI pada 17 Agustus 2023.

Namun, bisa jadi peringatan pada tahun tersebut akan menjadi yang terakhir dihadiri oleh masyarakat di istana yang memiliki enam pilar besar di teras depannya.

Karena, jika tidak ada halangan, pada 2024, Presiden Jokowi berencana untuk menggelar peringatan tersebut di Istana Kepresidenan yang berlokasi di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), yang akan menjadi pusat pemerintahan baru Indonesia dan berada di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

Sumber: indonesia.go.id

Advertisement