Iran Mampu Buat Bom Nuklir

Jika mau, Iran diyakini oleh sejumlah intelijen asing, sudah mampu membuat belasan kepala nuklir yang dicemaskan pihak Barat dan Israel.

IRAN, menurut taksiran intelijen asing, jika mau sebenarnya sudah mampu membuat belasan senjata nuklir, namun kemampuannya itu sekedar dimanfaatkan untuk menggertak Amerika Serikat.

Institut Riset Media Timur Tengah (MEMRI) dalam laporannya (15/8) menyebutkan, Iran hanya membutuhkan waktu 12 hari untuk membuat bom nuklir, bahkan bisa segera melakukan uji coba ledakĀ  salah satu bom nuklir tersebut.

Mengutip keterangan pengamat politik Iran, Emad Abshenas, MEMRI yang dikelola sejumlah mantan tokoh intelijen AS dan Israel memperkirakan, Iran sebelumnya pernah memiliki cadangan uranium yang cukup untuk membuat 20 bom nuklir.

Namun stok uranium tersebut dimusnahkan sesuai dengan Kesepakatan Aksi Komprehensif Bersama (Joint Comprehensive Plan of Action – JCPOA ) atau Kesepakatan Iran dengan AS, China, Inggeris, Peranci, Rusia dan Jerman (dikenal P5 + 1) pada Juli 2015.

Berdasarkan kesepakatan JCPOA, Iran sepakat untuk melakukan pengayaan uranium dengan aras (tingkat) maks. 3,67 persen dan wajib menjual seluruh stok uranium dengan aras lebih dari itu serta menyingkirkan seluruh perangkat pengayaan uranium di atasnya.

Sebagai imbalan, AS dan sekutunya akan mencabut berbagai sanksi yang dikenakan pada Iran dan melanjutkan hubungan ekonomi dengan salah satu negara yang disegani di kawasan Teluk itu.

Namun dalam perkembangannya kemudian, Presiden AS Donald Trump secara sepihak hengkang dari kesepakatan itu dan mengancam negara-negara yang masih menjalin hubungan dengan Iran sehingga negara-negara penandatanganan JPOA tidak memenuhi kewjibannya pada Iran.

Sebaliknya pembekuan JPOA, malah dimanfaatkan Iran untuk memacu program pengayaanĀ  uranium yang menurut laporan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) ysng dirilis Maret 2023 lalu telah mencapa aras (level) 83 persen. Untuk membuat bom atom diperlukan uranium yang diperkaya sampai aras 90 persen.

Sementara Direktorat Intelijen AS (DNI) dalam laporannya Juni lalu menyebutkan, produksi uraniu Iran sudah jauh melbihi ambang batas yang disepakati JCPOA danĀ  sejak April lalu Iran terus memproduksi UF6 dan jenis uranium untuk bahan baku bom nuklir.

Namun menurut DNI,Ā  percepatan program pengayaan uranium yang dilakukan Iran tidak untuk membuat bom nuklir, sedangkan saat JPOA diberlakukan, Iran paling tidak memerlukan waktu setahun untuk memproduksi satu bahan baku saja. Setelah itu, untuk sampai tahap mampu membuat bom nuklir diperlukan sekitar tiga bulan lagi.

Sementara AS di bawah kepemimpinan Presiden Joe Biden saat ini pun agaknya juga tidak ingin mencabut sejumlah sanksi yang dikenakan pendahulunya, Donald Trump pada Iran, sebaliknya Iran juga tidak mungkin menerima penghidupan lagi JCPOA tanpa pencabutan sanksi.

Diperlukan kehadiran mediator yang bisa diterima, baik oleh AS mau pun Iran. Mungkin Arab Saudi yang kini proaktif melancarkan move-move diplomatik? (AFP/Reuters)

 

Advertisement