El Nino Molor sampai Awal 2024

Mitigasi dan kesiapan menghadapi kemarau ekstrim akibat fenomena El Nino yang diperkirakan sampai awal 2024 terutama untuk menjaga raihan produksi dan ketahanan pangan perlu ditingkatkan.

CUACA panas ekstrim akibat dampak El Nino dialami sejumlah negara termasuk Indonesia sepanjang Agustus dan yang semula diprediksi hanya akan berlangsung sampai Oktober, molor sampai awal Januari 2024.

Di benua Eropa, ancaman panas dalam kategori sedang dan berat menurut, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) bakal dialami antara lain oleh Perancis, Swiss, Jerman dan Polandia, Kroasia, Italia dan Yunani, Hongaria, Austria dan Lithuania.

Kekeringan memicu kebakaran hutan di kawasan Laina yang menghanguskan separuh P. Maui Barat di Hawaii, AS dan menewaskan 111 orang serta menghancurkan 2.700 bangunan 18 Agustus lalu, sedangkan di surga wisata P. Tenerife, Spanyol, puluhan ribu warga mengungsi akibat kebakaran  hutan tanaman alam seluas lima ribu hektar di kawasan itu

Sementara Meteo France bahkan melaporkan, suhu maksimum di Perancis pada 19 dan 20 Agustus lalu mencapai 40 serajat Celsius akibat tekanan udara yang kuat dan udara hangat subtropis dari Afrika Utara yang memicu gelombang panas paling sering pada 2023.

Turki juga melaporkan suhu tertinggi rata-rata 49,5 derajat Celsius 15 Agustus lalu, mengalahkan rekor sebelumnya 49,1 derajat Celsius pada Juli 2022.  Suhu di sejumlah wilayah di Timten juga mencapai rta-rata 50 derajat Celsius.

Di Indonesia, BMKG memprakirakan, cuaca panas ekstrim sebagai puncak dampak fenomena El Nino akan terjadi pada Agustus sampai Oktober tahun ini dan berlanjut sampai awal 2024.

Ada tujuh wilayah yang bakal terdampak cukup arah yakni Sumatera bagian tengah hingga selatan, Riau bagian selatan, Jambi, Lampung dan sebagian besar wilayah di P Jawa.

Warga Desa Slangit, Kec. Klangenan, Kab. Cirebon, dilaporkan sudah mengalami kekurangan air sejak Juni atau dua buan lalu sehingga terpaksa membeli air galon untuk mandi, masak dan mencuci.

Derita warga agak terkurangi dengan adanya bantuan air yang dipasok dengaan mobil-mobil  tanki-tanki dari Polresta Cirebon, sementara bantuan pemda setempat belum ada.

Hal sama juga dialami warga Kel. Jabungan, Kab Semarang yang terpaksa ngantri untuk mendapatkan air yang dipasok BPBD Kota Semarang setelah sumur-sumur mereka kering sejak sepekan lalu. Kesulitan air bersih juga dialami di sejumlah lokasi Jawa Timur,  propinsi NTB dan NTT.

Berbagai upaya mitigasi harus disiapkan, baik oleh pemerintah pusat mau pun daerah untuk mengurangi dampak kemarau extrim, mulai dari rekayasa cuaca  melalui hujan buatan, pengaturan transportasi umum, bantuan sosial sembako atau bansos tunai bagi warga terdampak.

Tak kalah pentingnya, antisipasi dan kesiapan menghadapi gejolak harga dan ketersediaan bahan pangan di tengah tahun politik saat ini dimana orang mudah mengapitalisasi isu untuk meraih kekuasaan.

 

 

Advertisement