Isu Palestina Dekatkan Arab Saudi dan Iran

Ilustrrasi bombardir di Gaza

BOMBARDEMEN Israel terhadap wilayah Gaza, Palestina mendorong pertemuan darurat gabungan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Liga Arab dan pada gilirannya mendekatkan sesama kubu negara Arab yang selama ini berselisih.

Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) dari Arab Saudi, di ajang KTT OKI dan Liga Arab yang digelar di Ryadh, Sabtu lalu (11/11) untuk pertama kali bertemu dengan Presiden Iran Ebrahim Raisi.

Kantor Berita Iran, Tasnim memberitakan, selain tentang nasib rakyat Palestina yang memilukan akibat gempuran membabi buta Israel, Presiden Raisi dan Pangeran MBS membicarakan upaya peningkatan kerjasama kedua negara.

Kedua pemimpin tersebut membahas peningkatan kerjasama bilateral lebih erat dan pengembangan kawasan di masa depan melalui perencanaan yang lebih rinci dan ekstensif.

Hal senada juga dilaporkan Kantor Berita IRNA, bahkan dalam upaya peningkatan kerjasama kedua negara, Presiden Raisi mengundang Pangeran MBS untuk berkunjung ke Teheran.

Dalam konteks permusuhan antara kubu Arab dan Israel, Iran sampai hari ini dikenal berada di garis keras, sebaliknya, Arab Saudi diam-diam menjalin kerjasama dengan negara Yahudi itu, bahkan berdasarkan sejumlah sumber, akan menormalisasi hubungan tahun depan.

Pertemuan di Riyadh antara Raisi dan Pangeran MBS di sela-sela KTT OKI dan Liga Arab merupakan kelanjutan pembicaraan per telpon pada 12 Okt. Lalu dimana keduanya sepakat untuk mengakhiri kejahatan perang yang dilancarkan Israel terhadap warga Palestina di Gaza.

Mayoritas penduduk Iran yang menganut paham Syiah, sebaliknya Saudi dengan aliran Suni juga acap kali mewarnai perselisihan antara kedua negara, misalnya terkait dukung-mendukung konflik di  Yaman. Iran di belakang kubu etnis Houthi, sebaliknya Saudi mendukung rezim pemerintahan teguling  Yaman di bawah Presiden Abdullah Saleh.

 Sepakat Penghentian Perang

Sementara dalam KTT OKI dan Liga Arab, Presiden Raisi dan Pangeran MBS bertekad untuk mengupayakan penghentian perang antara Hamas dan Israel di Gaza dibarengi juga dengan penghentian pengepungan terhadap wilayah itu.

Sekitar 11.000 lebih warga Palestina di Gaza tewas, 4.600 orang diantaranya  anak-anak dan perempuan, hampir seluruh RS tidak berfungsi, terkena sasaran pengeboman atau akibat terhentinya pasokan air, gas, listrik  dan obat-obatan akibat blokade Israel.

Sebaliknya, sekitar 1.400 warga Isarel di wilayah selatan negeri itu tewas, akibat serangan ribuan roket oleh sayap militer Palestina, Hamas pada 7 Okt. dan  240 orang disandera.

Semoga peningkatan relasi kedua pemimpin dan negara Saudi dan Iran, ikut mendorong perdamaian di Timur Tengah dan mengakhiri kesengsaraan bangsa Palestina dari agresi Israel.

(NS/berbagai sumber)

Advertisement