Banjaran Sengkuni (7)

Destarastra yang buta mulai meraba-raba para calon istrinya. Targetnya cari wanita yang beranak banyak.

MATA Prabu Abiyasa berkaca-kaca, terharu atas sikap anaknya. Pandu ternyata bukan sosok yang mementingkan diri sendiri. Di kala dirinya kurugan segara madu (baca: banyak rejeki), dia masih memikirkan saudaranya yang lain. Sebab sekarang ada presiden rasa sultan, memaksakan anaknya yang tidak layak menjadi Cawapres, dipaksakan nebeng pada Capres yang sama-sama tidak bermutu, untuk memimpin sebuah negara. Ini kan sama saja, rakyat dikorbankan demi ambisi pribadi.

Dengan sikap Pandu tersebut, Prabu Abiyasa punya harapan besar. Meski Destarastra dalam kondisi cacat phisik, tak akan tersia-siakan hidupnya. Pandu nanti sebagai raja Ngastina mampu memberikan teken (tongkat) pada orang yang kelunyon (lewat jalan licin), paring sandang marang sing kawudan (kasih baju pada orang yang nyaris telanjang). Prabu Abiyasa optimis, sepeninggalnya nanti Destarastra takkan hidup ngebelangsak, apa lagi jadi pengemis buta di persimpangan Harmoni.

“Lalu nanti siapa putri boyongan yang hendak kau serahkan pada Destarastra, Madrim atau Gendari?” tanya Prabu Abiyasa.

“Terserah kangmas Destarastra saja, Madrim boleh, Dewi Gendari ya mangga. Biarlah dia memilih sesuai seleranya, rama.” Jawab Pandu lagi.

Bukan saja Prabu Abiyasa, Dewi Kunthi juga sangat bergembira dengan tekad dan sikap Pandu. Tapi jangan salah, bukan demi kepentingan Destarastra, melainkan untuk dirinya sendiri. Soalnya terus terang saja, dimadu dengan dua istri saja sudah bikin sesek dada, kok ini mau dimadu dengan 3 istri sekaligus. Amit-amit deh! Oleh karenanya dengan dikawini salah satu putri tersebut oleh Destarata, beban poligami Kunthi jadi berkurang. Bahkan bilamana Madrim-Gendari mau diambil sekaligus oleh Destarastra, Dewi Kunthi siap sukuran 7 hari 7 malam.

Disaksikan Prabu Abiyasa dan Dewi Kunthi, Destarastra pun dipanggil untuk memilih salah satu putri di depannya. Tapi karena buta, dia terus terang tak bisa memilih berdasarkan penglihatan semata. Sebab kedua matanya memang buta 100 persen, bukan sekedar kabur atau rabun jauh. Maksudnya, Destarastra mohon diizinkan untuk bisa meraba calon istrinya tersebut. Yang burik, yang mulus, tergantung hasil kepekaan tangannya nanti.

“Kangmas Destarastra, kami sangat memahami kondisimu. Maka silakan saja sampeyan cek phisik pakai tangan. Satu tangan boleh, dua tangan sekaligus juga nggak papa.” Kata Pandu kemudian.

“Bener kamu ridla dan ekhlas, tapi bagaimana dengan dua putri tersebut? Siapkah mereka saya raba-raba demi chek phisik?” ujar Destaratra lagi.

Betul kata pangeran tuna netra itu. Sebetulnya baik Gendari maupun Madrim tersinggung jika mau diraba-raba demi cek pisik. Memangnya kami ini mobil yang STNK-nya sudah 5 tahunan, sehingga harus cek pisik demi dapat STNK dan  plat baru? Ini sungguh penghinaan dan pelanggaran HAM. Tapi sebagai pihak minoritas yang lemah, keduanya hanya bisa diam membisu, seakan pasrah pada nasib.

Demikianlah, Destaratra duduk di kursi males. Ketika Madrim mendekat langsung diraba-raba dari kaki, terutama betis sampai bentuk pantatnya. Kemudian perutnya. Untuk naik ke atas tak ada keberanian. Kecuali tidak etis, juga takut jika sampai “emosi” karenanya. Sebab harus dimaklumi, Destarastra yang buta kan hanya matanya, sedangkan “onderdil” lainnya normal-normal saja.

“Madrim ini memang bodinya boleh juga, cuman sayang anaknya nanti hanya dua. Jadi mohon maaf, saya tak bisa menerima.” Kata Destarastra sambil melepaskan Dewi Madrim dari rabaan kedua tangannya.

“Horee…… slamet slamet!” kata Dewi Madrim tentu saja hanya dalam hati.

Menyusul pemeriksaan pada Dewi Gendari. Dia hanya merem saja ketika diraba-raba oleh Destarastra. Bukan karena keenakan, tetapi sekedar menghilangkan stress. Dan sebagaimana Madrim, Dewi Gendari juga diraba-raba betisnya, mbunting padi apa tidak. Pahanya juga berisi, begitu juga kedua belahan pantatnya. Betul-betul tebel seperti pantat Nunung Srimulat.

Ketika pemeriksaan pada perut Gendari, terasa relatif lebih lama, diunyek-unyek pakai tangan kanannya. Ini mengingatkan dokter internist sedang memeriksa pasien sistem USG, hanya ini tanpa jeli sebagai pelicinnya. Begitu selesai memeriksa perut terutama sekitar puser, mendadak Destarastra bertetiak kegirangan.

“Lha ini calon istriku yang ideal. Nanti dia berpotensi punya anak sampai 100. Bonus demografi bagi Kurawa….” kata Destarastra, sepertinya bahagia luar biasa.

Enak bagi Destarastra, tapi putusan ini enek bagi Dewi Gendari. Kemarin dia sangat berharap menjadi permaisuri Pandu Dewanata jika sudah menjadi raja. Ee, nggak tahunya malah hanya menjadi istri pangeran buta yang bukan dari  gua hantu. Gendari meratap dalam hati, ini senasib dengan Ketum Golkar Airlangga Hartarto dan Yusril Ketum PBB. Mereka barharap jadi Cawapres Prabowo, yang dipilih malah bocah lholak-lholok Gibran yang modalnya cuma karena anak presiden doang!

“Jagad, jagad! Kok begini nasibku. Aku bersumpah, jika anak-anaku Kurawa-100 telah tumbuh dewasa, akan menjadi musuh abadi anak-anak Pandu.” Kata Dewi Gendari melengking, disaksikan Prabu Abiyasa, Pandu dan tentu saja Madrim dan Kunthi.

                                                                                  (Ki Guna Watoncarita)

 

 

 

Advertisement