Diupayakan Perpanjangan Jeda Kemanusiaan di Gaza

gencatan senjata selama empat hari sejak Kamis (22/11) paling tidak membuat warga Palestina di Gaza terhindar dari ancaman maut pengeboman dari udara dan darat oleh Israel

BAGI warga Gaza, perpanjangan gencatan senjata atau Jeda Kemanusiaan selama dua hari sampai Rabu (29/11) antara milisi Hamas dan Israel berarti juga perpanjangan nyawa mereka dari kemungkinan terkena bombardemen atau tembakan.

Jeda Kemanusiaan antara Hamas dan Israel atas prakarsa Amerika Serikat, Mesir dan Qatar  semula disepakati empat hari sejak Kamis (16/11), namun molor sehari, baru dimulai Jumat (17/11) akibat persoalan teknis di lapangan dan berlangsung sampai Senin (27/11), lalu diperpannjang dua hari sampai Rabu (29/11).

Suasana dilaporkan tenang sepanjang enam hari Jeda Kemanusiaan, ditandai mengalirnya ratusan truk bantuan obat-obatan, makanan dan air bersih serta BBM serta kebutuhan sehari-hari lainnya.

Pengungsi yang berteduh di pusat-pusat pengungsian seperti RS, tempat ibadah dan tenda-tenda darurat juga dimanfaatkan mereka untuk mencari sanak-keluarga, bercengkerama atau ada juga yang melihat lokasi tempat tinggal mereka. Ada yang masih tegak utuh, ada pula yang tinggal puing-puing tersisa.

Tukar-menukar tawanan antara Hamas dan Gaza yang diawasi Palang Merah Int’l (ICRC) juga dilaporkan berjalan lancar. Hamas dilaporkan telah melepas 50 warga Israel dan 19 warga asing dari total 240 orang yang disanderanya dalam serangan 7 Okt., sebaliknya Israel melepaskan 150 warga Palestina di penjara-penjara di negerinya nya.

Sementara Jubir Kemenlu Qatar Majed al-Anshari (28/11) menyatakan pihaknya fokus dan berharap akan berlangsung Jeda Kemanusiaan berkelanjutan yang pada gilirannya berujung penghentian perang.

Majed selanjutnya berharap agar tercapai kesepakatan-keepakatan baru antara kedua belah pihak, terutama komitmen Hamas untuk melepas paling tidak sepuluh sandera lagi, sebaliknya Israel bersedia membebaskan lebih banyak tahanan Palestina.

Keterlibatan Mossad dan CIA

Sementara guna menjajagi kemungkinan perpanjangan Jeda Kemanusiaan fase selanjutnya, Direktur Badan Pusat Intelijen AS (CIA) William Burns dan Direktur Mossad David Barnes dan Menlu AS Anthoni Blinken tiba di Doha, Qatar (28/11).

Sebaliknya, nada pesimistis terhadap prospek penghentian perang antara Hamas dan Israel secara menyeluruh disebabkan rapuhnya Jeda Kemanusiaan muncul melihat sikap Israel yang ngotot akan menghabiskan Hamas sampai ke akar-akarnya.

PM Israel Benjamin Netanyahu sendiri di berbagai kesempatan menegaskan  akan menggempur lagi Hamas setelah Jeda Kemanusiaan berakhir.

Upaya perdamaian dan mewujudkan gencatan senjata permanen juga digagas dalam pertemuan antara 42delegasi negara di kawasan Timur Tengah, Arika Utara dan Uni Eropa di pertemuan yang digelar di Barcelona, Spanyol.

Kepala Kebijakan LN Uni Eropa Joseph Borreli menyatakan, di satu pihak UE mengecam serangan Hamas ke Israel selatan (7 Okt.), sebaliknya meminta Israel menghentikan bombardemen atas Gaza hingga 26 Nov (sebelum Jeda Kemanusiaan).

“Suatu aksi mengerikan tidak bisa dijadikan dalih untuk melakukan aksi mengerikan lainnya, “ ucap Boreli.

Sekitar 14.000 lebih warga Palestina tewas dan puluhan ribu terluka dan 1,2 juta mengungsi akibat aksi balasan Israel sejak 8 Okt. lalu, sebaliknya, sekitar 1.200 warga Israel tewas, ribuan luka-luka dan 240 orang d(termasuk WNA) disandera oleh Hamas.

Perang selain merupakan tragedi manusia yang mengerikan, juga tak menyelesaikan persoalan.

Advertisement