JAKARTA – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menegaskan pihaknya berusaha mengendalikan banjir di Ibu Kota yang harus terintegrasi dari hulu ke hilir agar hasilnya dapat maksimal.
Ketua Subkelompok Perencanaan Pengendalian Banjir dan Drainase Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi DKI Jakarta Maman Supratman mengatakan jika hulunya ada di Bogor, Depok, lalu hilirnya di Jakarta.
Menurut Maman, pengendalian daya serap air di hulu diperlukan untuk menahan debit air yang masuk ke Jakarta. Dalam hal tersebut Pemprov DKI Jakarta pun bekerja sama dengan pemerintah pusat.
Ia menjelaskan, sejumlah infrastruktur dibangun, salah satunya Bendungan Ciawi dan Sukamahi yang diresmikan pada akhir tahun lalu. “Bendungan ini untuk mengurangi debit air di sungai, sehingga (air) yang ke Jakarta berkurang karena sudah ditampung di bendungan,” ujar Maman.
Sementara itu di hilir, dibangun sodetan-sodetan untuk mengurangi tinggi muka air. Dia menambahkan, Pemprov DKI Jakarta juga membangun waduk di pinggir-pinggir sungai sehingga pada saat hujan ekstrem, air akan ‘parkir’ terlebih dahulu ke ruang-ruang yang ada di pinggir sungai.
Di samping itu, Maman mengatakan Pemprov DKI Jakarta juga berupaya agar infrastruktur pengendalian banjir dapat memiliki fungsi atau manfaat lain bagi masyarakat seperti sebagai sarana rekreasi atau olahraga.
Ke depan, Maman berharap upaya-upaya pengendalian banjir dari hulu ke hilir dapat terus dioptimalkan. “Jadi, di hulu bisa menambah ruang-ruang tampungan air di pinggir sungai, menjaga resapan-resapannya. Itu harapan kita,” kata Maman.
Menurut Maman, menambah ruang-ruang tampungan air di pinggir sungai penting dilakukan di hulu sehingga air yang masuk ke Jakarta melalui sungai tidak terlalu tinggi.
Apalagi, katanya, Jakarta dilalui oleh 13 sungai yang bermuara ke Teluk Jakarta.
Selain itu, masyarakat juga diharapkan dapat berpartisipasi dengan tidak membuang sampah sembarangan karena sampah akan menghambat aliran air baik di saluran drainase maupun sungai.





