
UCAPAN Dewi Gendari yang penuh emosi itu ternyata gaungnya sampai ke kahyangan Jonggring Salaka, sehingga dicatat oleh dewa Bethara Penyarikan dan masuk Lembaran Negara wilayah Kahyangan. Baik buruk nasib Kurawa-100 nanti telah ditentukan, dan tercatat dalam Luh Mahfudz sebagaimana pemahaman Islam. Bagaikan dogma, manusia harus menapaki nasibnya dengan pasrah, karena titah iku mung saderma nglakoni.
Prabu Abiyasa, Pandu dan Destarastra sendiri terkaget-kaget atas sumpah sekaligus kutukan Dewi Gendari. Bukankah ini sumpah yang kebablasan, sumpah yang sengaja menanam bibit perpecahan dan permusuhan bagi Pendawa-Kurawa di 2045 mendatang. Ini jangan sampai terjadi, harus dihentikan! Tetapi bagaimana caranya. Prabu Abiyasa, Pandu apa lagi Destarastra tak punya link atau koneksi ke Jonggring Salaka. Apa harus maneges (dialog dengan dewa) dulu? Tak pernah ada ceritanya, dalang bikin lakon Abiyasa Maneges, Pandu Maneges, termasuk Destarastra Maneges.
“Nini Gendari, kenapa kamu ngomong blawanan (berlebihan) seperti itu? Apa nini Gendari rela, anak keturunanmu nanti selalu bermusuhan seperti Israel-Palestina?” tegur Prabu Abiyasa.
“Maaf Sinuwun! Sinuwun hanya memikirkan Destarastra saja, tanpa memikirkan wanita yang dikorbankan. Saya ini jelek-jelek mantan Ratu Pariwisata di Gendara, tapi kenapa harus menjadi istri si buta dari Gua Hantu? Menyesal saya dulu menolak pemain sinetron dan politisi Senayan……” bantah Dewi Gendari secara lantang dan berani.
“Sudah, sudah…….! Pandu, ajak Destarastra dan Gendari masuk ke dalam, biar istirahat dulu.” Ujar Prabu Abiyasa menyapih Dewi Gendari yang meledak-ledak menyampaikan segala kekecewaannya.
Pandu telah memperoleh dua istri, sementara Destarastra menerima Dewi Gendari sebagai istrinya setelah mereka dinikahkan dengan penghulu KUA. Akan halnya putri Gendara ini, awalnya dia tetap menolak proyek Siti Nurbaya ala perwayangan ini, sehingga meski tidur satu ranjang di tilamrum (tempat tidur), keduanya tetap jaga jarak, padahal Covid-19 sudah lama lewat. Mereka tidur ungkur-ungkuran adu punggung, karena saling mempertahankan gengsi masing-masing.
Sampailah kemudian di tengah malam yang sepi bberapa minggu kemudian, tiba-tiba ada tikus jatuh dari plafon dan masuk ke dalam selimut Dewi Gendari. Sudah barang tentu kakak kandung Haryo Suman ini panik dan blingsatan. Dia ngruket (merangkul) kuat-kuat tubuh Destarastra seakan minta perlindungan. Si buta Gua Hantu itu cekap tanggap. Dia merangkul Gendari dengan tangan kiri, sementara tangan kanan menangkap si tikus sialan dan membantingnya ke tembok. Plokkkkk, dan matilah si tikus malang itu.
“Tenang, tenang diajeng Gendari. Sepanjang ada Mas Destarastra, amanlah kau….” kata Destarastra pelan, demi menciptakan rasa aman.
“Terima kasih kangmas Destarastra. Maafkan sikapku selama ini…..!” kata Dwi Gendari sembari berlindung pada bidang dada Destarastra.
Damai di langit, damai pula di bumi! Rasa bahagia Destarastra selangit. Bila Israel – Palestina sempat gencatan senjata, malam itu justru Destarastra “angkat senjata” melabrak lawan tanpa ampun. Peluru balistik beberapa kali dilepaskan, hingga pagi menjelang subuh disusul dengan keramas bersama dalam rangka mandi junub. Meski agak telat, tapi Gendari-Destarastra telah menemukan kebahagiaannya pasca “mbelah duren” montong dari Bangkok.
Istana Gajahoya pun mengadakan slametan kecil-kecilan, sebagai rasa syukur atas perdamaian Gendari-Destarastra. Nasi kotak pun dibagi merata ke staf Istana, termasuk para Satpam yang baru saja ganti seragam, dari mirip Polri punya menjadi atas kuning muda dan bawah tetap coklat.
“Lumayan, kita masih menikmati nasi kebuli Kebon Sirih dan paha ayam goreng nan empuk dan gurih….” kata sorang Satpam sambil mulut nyamuk-nyamuk (penuh nasi).
“Memangnya elu pengin menikmati paha mulus Gendari? Ngaca lu….” sergah Satman lain sambil menenggak Aqua gelasan.
Mereka terus bercanda di gang sempit antara dua tembok Istana, yang aman untuk berceloteh tanpa takut ditangkap. Tapi ini lorong bersejarah, karena inilah lorong jalan tikus yang dilewati mantan Ketua KPK Agus Rahardjo. Dia pernah dipanggil Prabu Abiyasa hanya untuk diomeli dan diperintahkan menyetop kasus E-KTP-nya Setyo Novanto. Untungnya Pak Ketua tak menggubris. Ketua DPR itu tetap ditangkap dan dikirim ke LP Sukamiskin, meski harus nabrak tiang listrik dan jidatnya mencono segeda bakpao isi kacang ijo.
Demikianlah, beberapa bulan kemudian Dewi Gendari dinyatakan positif hamil oleh dokter kebidanan. Kembali Istana slametan mapati, dan pada 7 bulan usia kandungan disusul oleh slametan tingkeban atau nujuh bulan lengkap dengan upacara tradisionalnya. Meski dituntun, Destarastra berhasil menjalani prosesi dengan baik. Dengan pakai iket ala kethoprak mataram, dia pegang keris telanjang untuk memotong lawe yang melingkari perut besar Gendari, yang dilindungi kain jarit parangrusak basah.
“Udah di USG (Ultra Sono Grafi) belum? Laki atau perempuan bayinya?” kata dukun pemimpin prosesi slametan.
“Sudah, tapi hasil fotonya kurang bagus, sehingga belum diketahui jenis kelaminnya. Nanti mau diulang lagi,” jawab ibu-ibu yang lain, kemungkinan orang dalam Istana. Yang jelas mereka bukan Limbuk ataupun Cangik.
Memang benar, dokter kandungan dan ahli kebidanan meragukan hasil USG itu. Masak yang terfoto bukan bentuk janin, melainkan benda bulat warna ijo, segede semangka, ada garis-garis hijau muda lagi. Masak ada orang melahirkan buah semangka, bagaimana proses persalinannya nanti? Jangan-jangan itu sekedar kista tapi berukuran besar, dalam istilah medis mungkin disebut kista ultra?
Waktu terus berjalan, usia kandungan Dewi Gendari telah mencapai 9 bulan. Untuk melahirkan secara normal tidaklah mungkin, karena besarnya itu bulatan dalam rahim. Dokter RSP Palasara memutuskan persalinan lewat operasi Yulius Caesar. Artinya abdomen (perut) Dewi Gendari harus dibedah. Segala biaya tanggungan Istana Gajahoya, karena biaya sakit keluarga kerajaan memang tak boleh dicover BPJS-Kes.
(Ki Guna Watoncarita).


