
SEMENTARA itu Pandu yang menikahi Kunthi dan Dewi Madrim juga mulai menunjukkan hasil yang signifikan. Kunti mulai mengandung, sementara Dewi Madrim sama sekali belum. Agaknya Pandu menyadari akan perlunya program KB di dunia perwayangan. Meski Madrim juga selalu disentuh, tetapi selalu minum pil atau pakai spiral. Pandu tak mau disindir penyanyi Benyamin S dalam lagu gambang kromongnya, “Si Mamat belum gede, si Otong nongol lagi. Lagi, lagi, untungnya di beras doang!”
Kehamilan pertama Dewi Kunthi, telah mencapai usia 9 bulan 10 hari. Bayi pertama itu nantinya dipastikan terlahir lelaki, karena telah di-USG di RSP Palasara juga. Karenanya Pandu telah menyiapkan nama bagus: Joko Widodo, dengan harapan nanti kariernya bisa melejit seperti Presiden RI sekarang. Siapa tahu nanti negeri Ngastina berubah jadi republik, sehingga putra sulung Pandu-Kunthi itu bisa jadi presiden tapi tanpa Pilpres. Dibilang republik rasa kerajaan yang biarin aja!
“Wahai Pandu anakku, berhati-hati kau! Jangan kasih nama seperti itu. Nama Joko Widodo harum kan dulu-dulu, ketika dia fokus membangun negara. Tetapi setahun menjelang selesai masa jabatannnya, nama dia jadi ternoda gara-gara sibuk membangun dinasti. Putra sulungnya yang tak punya kapasitas, dipaksakan jadi Cawapres dengan mencampuri MK dan KPU.” Ujar Prabu Abiyasa cemas.
“O, begitu ya kanjeng rama. Lalu sebaiknya nanti dikasih nama siapa?” ujar Pandu, yang dikenal memang anak penurut para orangtua, putra kakung yang emoh gelang emoh kalung.
“Kalau kamu fanatik dengan Joko, kasih nama saja Joko Pekik apa Joko Pengalasan, apa Joko Sembung.” Jawab Prabu Abiyasa yang rupanya dulu juga demen nonton film silat duet Bary Prima – Eva Arnaz (1981).
“Wah ini sih nggak nyambung.” Jawab Pandu dalam hati, tetapi lahirnya dia diam saja tak mau membantah kehendak orangtua.
Di hari leking jabang bayi (kelahiran jabang bayi), Dewi Kunthi diopname di RSP Palasara unit Kebidanan. Ternyata bayi dalam perut istri Pandu itu terlalu besar, sehingga harus dioperasi, lagi-lagi pakai cara Yulius Caesar. Cuma ketika dikeluarkan dari abdomen (perut) Kunthi, bayi itu dalam kondisi terbungkus, mirip ikan cumi-cumi begitu. Kelihatannya empuk, tapi dibedah susahnya minta ampun. Keras laksana baja. Apa harus dibedah pakai las listrik, tim dokter tak berani ambil resiko. Akhirnya para dokter menyerah untuk membantu persalinan dari kandungan Dewi Kunthi.
Prabu Abiyasa sangat prihatin mendengar nasib cucu pertama dari Pandu ini. Kenapa baru saja lahir di dunia fana sudah terpenjara dalam bungkus “baja” tanpa bisa dipecahkan. Kalau nasi bungkus sih pasti banyak siap yang memecahkan, terutama relawan Capres bayaran. Maklum, mereka ini orientasinya uang dan perut kenyang. Jika disuruh kerja cuma-cuma dengan iming-iming jadi komisaris ketika menang, ogah banget. Sorry ye, sorry yeee……..
“Pandu anakku, aku dapat wangsit dewa linuhung. Bayi bungkus itu sebaiknya dibuang saja di hutan Mandalasara. Nasib selanjutnya akan diatur oleh para pemangku kebijakan di kahyangan Jonggring Salaka.” Ujar Prabu Abiyasa memberi saran.
“Apa gak bahaya tah? Jangan rama Prabu Abiyasa. Jika ketahuan Komisi Perlindungan Anak, bisa dipidanakan. Pelanggaran pasal 305 KUHP itu bisa kena sanksi penjara 6 bulan rama. Kanjeng rama sebagai penganjur kena juga.” Jawab Pandu.
Prabu Abiyasa deleg-deleg (diam tanpa bicara). Tetapi karena yakin akan kebenaran petunjuk dewa, dia memerintahkan Pandu untuk diam-diam membuang bayi itu di hutan Mandalasara. Waktunya tengah malam, agar tak ada kawula yang mengetahui. Dengan berat hati Pandu dan Dewi Kunthi merelakan bayi bungkusnya dibuang di tengah malam di dalam hutan. Semoga saja tak diisengi sato kewan dalam hutan.
Selama beberapa tahun lamanya bayi bungkus itu glundang-glundung di dalam hutan. Tak ada singa maupun macan yang sudi memakannya, karena bungkusnya begitu keras dan kuat. Ada macan yang mencoba menerkamnya, tetapi justru taringnya yang patah. Si macan mau ke tukang gigi juga tidak berani, takut bikin geger orang sekampung. Mending kalau ditangkap dan dikirim ke Bonbin Ragunan, lha kalau dibuat bancakan kan celaka tiga belas jadinya.
“Untuk mengawasi bayi bungkus tersebut, Pandu seyogyanya pasang sejumlah kamera CCTV di berbagai tempat. Dengan demikian keamanan si bayi bungkus terjamin, siapa saja yang hendak gendak sikara (bermaksud jahat) pada bayi bungkus bisa ketahuan.” Nasihat Prabu Abiyasa kembali.
“Habis berapa CCTV rama Prabu? Hutan Mandalasara kan luas, jika 1 kamera Rp 2,5 juta, 100 kamera sudah ketemu Rp 2,5 miliar.” Pandu mencona protes.
“Hei, demi anak kau jangan pelit-pelit amat. Lihat tuh Presiden Jokowi, demi Gibran aturan konstitusi diotak-atik. Musuh jadi teman, yang teman dibalik jadi musuh.” Kata Prabu Abiyasa keras, setengah marah.
Demikianlah, sekitar 100 CCTV di pasang di kawasan hutan Mandalasara yang sebetulnya sudah dalam kekuasaan adik Capres Prabowo. Dari sana bisa terpantau terus pergerakan si bayi bungkus. Ternyata, setiap bayi bungkus itu menggelinding, fungsinya melebihi mesin slender (stomwals) perata lan. Batu ambles, pohon ditabrak jadi mbruk. Dalam tempo 5 tahun kawasan hutan sudah rata seperti lapangan golf. Titah penghuni hutan terganggu, karena areal perburuannya jadi semakin menyempit.
Prabu Abiyasa segera kontak SBG di Jonggring Salaka. Lalu diperintahkanlah Bethari Durga dan Gajah Seno putra Bethara Endro turun ke ngercapada, untuk memeriksa penggundulan hutan gara-gara ulah bayi bungkus Dewi Kunthi-Pandu. Dengan kekuatan dan kesaktian gading milik Gajah Seno, bayi bungkus itu bisa dibelah dan keluarlah bayi raksasa seberat 10 Kg kotor termasuk placenta. Padahal bayi pada umumnya antara 4,5 Kg sampai 5 Kg. Itu pun mamaknya harus menerima jahitan di berbagai tempat.
“Ee, Ee, Ee……, baru kali ini ada bayi hibrida gedenya seperti kamu.” Kata Gajah Seno yang ternyata bisa tata jalma (berbicara).
“Ngomong apa lu? Jangan ngomong sembarangan di sini. Sorry ye….” ujar si bayi sambil menampar mulut Gajah Seno.
Bibir Gajah Seno keluar kecap. Tetapi dia sungguh terkaget-kaget, baru kali ini ada bayi baru lahir sudah bisa nendang dan memukul dengan kekuatan luar biasa. Baru kali ini bayi baru lahir sudah bisa bicara seperti Nabi Musa AS. Jangan-jangan bayi ajaib anak Dewi Kunthi ini “berkah” ibunya rajin minum asam sulfat. (Ki Guna Watoncarita)


